Lampu kamar redup ketika Laila membuka mata untuk ketiga kalinya malam itu. Dinding kamar masih temaram, jam digital di atas lemari menunjukkan pukul 02.29. Di luar, suasana komplek perumahan Kenanga Asri tenggelam dalam sunyi yang pekat. Laila menarik selimut hingga ke dada. Di sampingnya, Farhan tertidur miring membelakangi jendela. Pernikahan mereka belum genap satu bulan. Aroma cat tembok rumah kontrakan yang masih baru samar bercampur dengan bau kayu lemari.
Detik berikutnya, tepat pukul 02.30, suara itu kembali terdengar.
Duk … duk … duk …
Laila menahan napas. Suara itu berasal dari sebelah. Rumah paling pojok yang berada tepat di samping kontrakan mereka. Rumah kosong yang menurut Pak RT sudah lama tak berpenghuni.
“Mas Farhan …,” bisiknya pelan, menyentuh lengan suaminya.
Farhan membuka mata dengan malas. “Sudah jam berapa?”
Belum sempat Laila menjawab, suara lain terdengar. Dentingan seperti benda logam jatuh di lantai.
Ting! Ting!
Farhan kini sepenuhnya terjaga. Ia menoleh ke arah jendela.
“Itu lagi?” tanyanya pelan.
Laila mengangguk, wajahnya pucat. Sudah empat malam Ramadan suara itu muncul tepat pukul 02.30. Mulai dari suara pintu dibuka, benda yang dipukul, langkah kaki, benda jatuh, dan suara-suara aneh lainnya.
Beberapa detik kemudian, dari kejauhan, terdengar pintu-pintu rumah di komplek mulai terbuka. Suara keran dinyalakan. Wajan bertemu kompor. Seolah-olah suara dari rumah kosong itu benar-benar menjadi alarm sahur bagi seluruh penghuni.
Farhan duduk, mengusap wajahnya. “Aneh sekali.”
Laila menggigit bibirnya. “Katanya rumah itu sudah kosong dua tahun.”
Farhan bangkit, berjalan ke jendela, menggeser tirai sedikit. Halaman rumah kosong itu gelap. Hanya ada pohon mangga tua di depannya yang diam tertiup angin.
“Sudah,” kata Farhan akhirnya. “Kita sahur saja.”
Laila bangkit perlahan. Ia menyiapkan sahur dengan pikiran tertinggal pada suara itu.
Pagi harinya, setelah Subuh, Laila menyapu teras. Embun masih menempel di rumput kecil depan rumah. Di ujung jalan, Bu Ratna, tetangga depan rumah kosong, menyiram tanaman.
“Bu,” sapa Laila ragu.
“Iya, Laila? Sudah sahur tadi?” tanya Bu Ratna ramah.
Laila mengangguk. “Sudah, Bu. Alhamdulillah. Bu Ratna juga dengar suara dari rumah kosong tadi malam?”
Bu Ratna berhenti menyiram. Wajahnya berubah sedikit kaku. “Kamu juga dengar?”
Laila menelan ludah. “Iya, Bu. Setiap jam setengah tiga.”
Bu Ratna mengangguk pelan. “Sejak Ramadan mulai, memang begitu.”
“Suara apa itu, Bu?”
Bu Ratna menggeleng. “Tidak ada yang tahu. Tapi anehnya, selalu berhenti sebelum azan Subuh.”
Laila menoleh ke rumah kosong itu. Catnya kusam, pagar besinya berkarat. Jendela-jendelanya tertutup rapat dengan tirai lusuh.
“Tidak ada yang pernah masuk?” tanya Laila lagi.
“Pak RT pernah cek. Kosong. Tidak ada listrik, tidak ada air. Gak ada apapun di rumah itu.”
Malam keenam Ramadan, suara itu terdengar lagi. Kali ini lebih jelas.
Kreeek … Pintu seperti dibuka lebih lebar. Lalu suara langkah lebih cepat.
Srek … srek … srek …
Laila memejamkan mata. “Ini jelas bukan suara hewan kan?”
Farhan terdiam. Ia mencoba terdengar rasional. “Mungkin angin.”
“Angin jam setengah tiga setiap hari?” Laila menatapnya.
Farhan tak menjawab.
Tiba-tiba terdengar suara seperti seseorang mengetuk dinding.
Tok … tok … tok …
Tiga kali. Pelan. Berirama. Laila spontan memeluk lengan suaminya. Beberapa detik kemudian, suara itu hilang. Digantikan bunyi kentongan masjid.
***
Rasa penasaran tumbuh di antara rasa takut. Siang itu, Farhan mengajak Pak RT mendekati rumah kosong. Pagar besinya berdecit saat dibuka. Halaman dipenuhi daun kering. Jendela-jendela tertutup rapat.
“Sudah lama kosong sejak pemiliknya pindah ke luar kota,” jelas Pak RT. Farhan menyentuh gagang pintu. Terkunci.
“Kuncinya ada pada saya,” kata Pak RT, lalu membuka pintu dengan perlahan. Bau pengap langsung menyeruak. Debu beterbangan saat pintu terbuka lebar. Ruang tamu kosong. Tak ada perabot. Lantai keramik dingin dan retak di beberapa bagian.
Farhan melangkah masuk. “Tidak ada apa-apa.”
Pak RT membuka satu per satu kamar. Semuanya kosong. Laila berdiri di ambang pintu, enggan masuk terlalu jauh. Matanya menyapu sudut-sudut ruangan. Tak ada kursi. Tak ada meja. Tak ada benda logam yang bisa jatuh.
Ia menelan ludah. “Kalau begitu… suara itu dari mana?”
Pak RT mengangkat bahu. “Entahlah. Tapi selama ini tidak ada yang dirugikan. Malah jadi alarm sahur.” Ia terkekeh hambar. Laila tidak ikut tertawa.
Hari-hari berikutnya, suara itu tetap datang. Tak pernah meleset satu menit pun. Seolah ada yang mengatur waktu dengan presisi. Beberapa warga mulai bercanda menyebutnya “alarm gaib”. Ada juga yang menamainya rumah penjaga waktu sahur.
“Lumayan, tidak perlu set alarm lagi,” kata Pak RT suatu subuh di masjid komplek.
Tapi Laila tidak bisa menertawakannya. Setiap malam ia menunggu dengan jantung berdebar, antara takut dan ingin tahu. Suatu malam di sepuluh hari terakhir Ramadan, ia memberanikan diri membuka jendela saat suara itu terdengar. Angin malam menyentuh wajahnya. Rumah kosong itu tetap gelap. Tak ada cahaya. Tak ada bayangan bergerak. Namun suara langkah itu terasa sangat dekat.
Srek … srek …
Seperti tepat di balik dinding kamarnya.
Laila menahan napas. Ia hampir bersumpah mendengar sesuatu berbisik pelan. Tapi ketika ia mencoba fokus, suara itu lenyap. Digantikan kokok ayam pertama.
***
Sepuluh hari kemudian, malam terakhir Ramadan tiba. Takbir sudah mulai terdengar dari masjid besar di ujung jalan. Rumah-rumah dihiasi lampu kecil. Laila terbangun sebelum jam 02.30. Ia menatap jam dengan cemas.
Tak ada bunyi pintu dibuka. Tak ada suara langkah. Tak ada dentingan. Hanya suara kipas angin yang berputar pelan. Satu menit. Dua menit. Lima menit. Tetap tak ada apa-apa. Farhan mengembuskan napas panjang. Sepertinya suara alarm sahur gaib telah berakhir, sebagaimana kata tetangganya. Entah benar-benar hilang … atau hanya teredam suara takbir yang bersahutan.
Tak lama, suara azan subuh mulai terdengar. Lampu-lampu di rumah warga mulai menyala. Komplek kembali hidup oleh suara manusia. Ramadan berakhir. Takbir idul fitri bergema di setiap masjid dan musala.
Sejak hari itu, tak pernah lagi terdengar langkah menyeret atau pintu berderit dari rumah kosong di samping kontrakan Laila. Hingga berbulan-bulan kemudian, rumah itu akhirnya terjual dan direnovasi. Tukang bangunan membongkar lantai, mengecat ulang dinding, mengganti pintu. Tak satu pun dari mereka menemukan sesuatu yang aneh.
Namun, setiap kali Ramadan tiba kembali tahun berikutnya, Laila tetap terbangun pukul 02.29. Dan dalam sunyi di sepertiga malam itu, ia kadang merasa seperti ada sesuatu yang dulu pernah berjalan pelan di samping rumahnya, menyelesaikan tugasnya sebagai penjaga waktu sahur lalu pergi begitu saja, tanpa jejak.