Aroma Takjil yang Hilang di Bulan Ramadan

Sekar Anindyah Lamase | Ervina E. W.
Aroma Takjil yang Hilang di Bulan Ramadan
Ilustrasi takjil kolak pisang Haji Saleh yang beraroma harum semerbak (Nano Banana/Gemini AI)

Selama tiga dekade, persimpangan Jalan Melati tidak pernah sepi saat matahari mulai condong ke barat. Penyebabnya hanya satu: aroma takjil dari kedai kayu milik Pak Haji Saleh. Aroma kolak pisangnya bisa tercium hingga dua blok jauhnya, sebuah paduan ajaib antara santan kental, gula aren pilihan, dan selembar pandan yang wanginya seolah mampu membatalkan puasa orang paling sabar sekalipun. Orang-orang menyebutnya "Aroma Surga di Pinggir Jalan."

Namun, pada hari kelima Ramadan tahun ini, sebuah tragedi sunyi menimpa Pak Haji Saleh. Dia tiba-tiba kehilangan indra penciumannya. Awalnya, dia mengira itu hanya flu ringan akibat cuaca Jakarta yang sedang tidak menentu. Dia mencoba menghirup uap panas dari gorengan bakwan yang baru diangkat, tetapi hidungnya hanya menangkap udara hampa.

"Bapak kenapa, Pak? Kok, hidungnya sampai masuk ke dalam panci begitu?" tanya Hj. Aminah, istrinya, yang sedang sibuk menata gelas plastik.

Haji Saleh menarik kepalanya dengan wajah pucat. "Nah, kamu cium bau kolak ini tidak?"

"Ya, ampun, Pak. Baunya sampai ke depan gang saja tercium. Kenapa tanya begitu?"

Haji Saleh terdiam. Panik mulai menyerang. Bagi Haji Saleh, resep keluarganya bukan sekadar takaran gula dan garam, melainkan kemampuan indra penciumannya dalam "mendengar" kapan aroma itu sudah mencapai puncaknya. Kosong. Hambar. Hidungnya mati rasa di tengah bulan yang paling sibuk.

Haji Saleh tetap membuka kedainya sore itu. Antrean pelanggan masih mengular seperti biasa, digerakkan oleh memori kolektif tentang kelezatan tahun-tahun sebelumnya. Dia melayani mereka dengan saksama, membungkus plastik demi plastik dengan gerakan tangan yang cekatan, tetapi kaku.

"Ini takjilnya, Mas," ujar Haji Saleh sambil menyerahkan plastik berisi kolak dan gorengan.

"Makasih, Pak Haji," jawab pemuda itu, tetapi dia tidak langsung pergi. Dia menatap plastik itu dengan dahi berkerut, lalu menghirupnya sekali lagi. Tidak ada ekspresi puas yang biasanya muncul. Tidak ada komentar, "Wah, wanginya sampai ke hati, Pak Haji!" yang biasanya menjadi musik bagi telinganya.

Memasuki minggu kedua, protes mulai bermunculan secara halus. Seorang pelanggan tetap, Bu RT yang terkenal cerewet, kembali ke kedai keesokan harinya dengan wajah bingung.

"Pak Haji, boleh jujur tidak?" tanya Bu RT sambil menaruh kembali bungkusan kolaknya di meja kayu.

Haji Saleh tersenyum kecut. "Ada apa, Bu RT? Rasanya kurang manis?"

"Bukan soal rasa, Pak. Manisnya pas, pisangnya empuk. Tapi, kok ..., kayak ada yang kurang, ya? Baunya tidak ada, Pak. Rasanya jadi seperti makan angin. Hambar di hidung," keluh Bu RT.

"Mungkin pandan dari pasar sedang kurang bagus kualitasnya, Bu. Maaf, ya," jawab Haji Saleh berbohong. Namun di dalam hati, dia tahu ada sesuatu yang lebih besar yang sedang retak.

Malamnya, Haji Saleh duduk merenung di depan panci-pancinya yang sudah bersih. Dia mencoba mengingat-ingat kapan terakhir kali dia benar-benar merasa senang saat memasak. Tahun ini, dia merasa Ramadan hanyalah sebuah target omzet. Dia menaikkan harga takjilnya karena tahu orang-orang akan tetap mengantre. Dia mengurangi porsi sedekah takjil gratis yang biasanya dia bagikan ke masjid, dengan alasan biaya hidup yang semakin mencekik.

"Aku memasak dengan ambisi, bukan lagi dengan cinta," bisiknya pada kegelapan dapur. "Aku mengejar keuntungan, bukan lagi keberkahan."

Tiba-tiba Haji Saleh teringat pesan mendiang ayahnya saat pertama kali mewariskan kedai ini: "Nak, makanan itu punya ruh. Kalau ruhnya hilang, hidungmu yang pertama kali akan dihukum." 

Haji Saleh tersandar lemas di kursi kayu. Dia menyadari bahwa yang hilang darinya bukan sekadar fungsi biologis indra penciuman, melainkan keikhlasan yang selama ini menjadi bumbu rahasia paling utama. Aroma yang selama ini menggoda orang-orang bukanlah aroma santan atau gula aren semata, melainkan aroma dari hati yang tulus memberi makan orang yang berpuasa.

Keesokan harinya, Haji Saleh mengubah cara kerjanya secara drastis. Dia tidak lagi menghitung untung-rugi di atas kertas saat mengaduk santan. Dia menyiapkan tiga panci besar tambahan.

"Pak, panci tambahan ini untuk dijual juga?" tanya Hj. Aminah heran.

"Bukan. Ini untuk dibagikan cuma-cuma kepada siapa saja yang lewat dan butuh buka puasa," jawab Haji Saleh tegas.

Haji Saleh memasak sambil merapalkan doa-doa pendek, meminta maaf karena telah menjadi hamba yang kikir di bulan yang penuh kemurahan. Dia berhenti memikirkan berapa banyak uang yang akan masuk ke laci kayunya sore itu. Dia fokus pada setiap adukan, membayangkan kebahagiaan orang yang akan menyantapnya.

Saat azan Maghrib berkumandang, Haji Saleh mengambil sisa kolak di mangkuk kecil. Saat dia mendekatkan mangkuk itu ke wajahnya, sebuah keajaiban yang halus terjadi. Sayup-sayup, aroma pandan yang manis dan gurih mulai menari-nari di ujung hidungnya. Aroma itu tipis, tetapi nyata.

"Alhamdulillah ...." Air mata Haji Saleh menetes jatuh ke dalam kolak tersebut. Ternyata, indra penciumannya tidak butuh obat medis; ia hanya butuh hatinya kembali luas.

Orang-orang mulai menyadari perubahan itu. Kedai Haji Saleh kembali menjadi magnet, bukan karena mereka lapar, melainkan aroma keikhlasan itu telah kembali. Pelanggan kembali tersenyum puas, sebuah kepuasan yang tidak bisa dibeli dengan harga berapa pun.

"Nah, ini baru namanya Kolak Haji Saleh!" seru seorang pelanggan sambil menghirup dalam-dalam aroma dari gelas plastiknya.

Haji Saleh belajar bahwa di bulan Ramadan, hal yang paling harum bukanlah masakan di atas api, melainkan tangan yang memberi tanpa berharap kembali. Ternyata, bau yang paling menggoda di dunia ini adalah bau keikhlasan. Ikhlas dalam memberi, ikhlas dalam menjalani.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak