Ramadan tahun ini terasa seperti ruangan kosong tanpa jendela bagi Kia. Sejak ibunya tiada dua tahun lalu, dapur di rumahnya tidak lagi mengepulkan aroma santan yang harum. Dia lebih memilih berbuka dengan mi instan atau roti sisa minimarket yang dia beli sepulang kerja. Baginya, memasak adalah cara tercepat untuk memanggil rasa sakit yang belum sembuh.
Namun, tepat pada hari pertama puasa tahun ini, sebuah paket misterius mendarat di teras rumahnya tepat pukul 17.50. Paket itu berupa rantang kaleng tua yang dibungkus kain serbet motif kotak-kotak. Di dalamnya, terdapat kolak pisang dengan kuah kental yang sangat gelap.
"Dari siapa, ya? Perasaan aku tidak pesan makanan apa-apa," gumam Kia sambil menatap jalanan kompleks yang sepi. Tidak ada kurir, tidak ada nama pengirim.
Kia membawa rantang itu ke meja makan. Saat tutupnya dibuka, uap hangat menerpa wajahnya. Bau aren dan pandannya begitu spesifik. Dia menyuap pelan saat azan Magrib berkumandang, lalu terpaku. "Ini... ini persis buatan Ibu. Bagaimana mungkin?"
Setiap sore, tanpa absen, paket itu selalu datang dengan menu yang berbeda, tetapi memiliki "jiwa" yang sama. Kadang bakwan jagung yang garing dengan potongan cabai rawit yang disusun rapi, kadang es buah sirup melon dengan perasan jeruk nipis. Semuanya adalah tanda tangan ibunya yang tidak bisa ditiru siapa pun.
"Oke, ini mulai tidak lucu," kata Kia suatu sore, suaranya bergetar. Dia berdiri di depan pagar, berteriak pada siapa pun yang mungkin bersembunyi di balik pohon. "Siapa kamu?! Tolong jangan main-main! Aku tahu kamu mengawasiku!"
Hanya suara jangkrik dan embusan angin sore yang menyahut. Kia mulai didera ketakutan. Dia merasa ada seseorang dari masa lalu—atau barangkali masa depan—yang sedang memainkannya. Dia bahkan sempat berpikir ini adalah halusinasi akibat rasa lapar yang hebat.
Suatu hari, Kia memutuskan untuk tidak memakan kiriman itu. Dia membiarkan rantang itu tergeletak begitu saja di meja makan. "Aku tidak akan makan kalau aku tidak tahu siapa yang kirim," tegasnya pada diri sendiri meski perutnya melilit.
Namun, saat azan Magrib berkumandang, Kia melihat selembar kertas kecil terselip di bawah tutup rantang. Tulisan tangannya sangat dia kenali. Itu tulisan tangan Kia sendiri, tetapi tampak sedikit lebih dewasa, lebih tenang, dan mapan.
“Makanlah, Kia. Jangan biarkan dirimu layu karena kesepian. Esok, kirimkan sesuatu kembali ke alamat ini.”
Di bawah pesan itu tertulis alamat rumah Kia sendiri, tetapi dengan kode pos yang berbeda—kode yang belum pernah Kia lihat sebelumnya. "Apa-apaan ini? Kode pos 99999? Ini alamat fiktif!" Kia berteriak frustrasi, melempar kertas itu ke lantai. "Aku mulai gila! Aku pasti sudah gila!"
Namun, rasa penasaran mengalahkan logikanya. Dengan tangan gemetar, Kia memutuskan untuk membalas "tantangan" itu. Keesokan harinya, dia mengumpulkan keberanian untuk masuk ke dapur. Dia menyalakan kompor yang sudah berdebu.
"Ibu..., Kia coba, ya," bisik Kia sambil mengiris pisang raja. Dia berjuang mengingat-ingat takaran bumbu bakwan jagung ibunya. Dia membeli pisang dan gula aren terbaik. Dia memasukkan masakannya ke dalam rantang yang sama, lalu menaruhnya di teras pada jam yang biasa.
Kia mengintip dari balik gorden dengan napas tertahan. Sebuah cahaya aneh menyambar teras itu selama sedetik—seperti kilatan kamera yang sangat besar—dan rantang itu menghilang tepat di depan matanya.
Malam itu, Kia bermimpi. Dia melihat dirinya sendiri, sepuluh tahun dari sekarang, sedang duduk di sebuah apartemen mewah yang dingin dan sepi. Versi dirinya di masa depan itu tampak begitu rapuh, sedang memeluk rantang yang sama sambil menangis.
"Terima kasih, Kia kecil," bisik sosok di masa depan itu dalam mimpinya. "Rasanya masih sama. Aku hampir lupa rasanya menjadi kita."
Kia terbangun dengan keringat dingin. "Jadi, aku mengirim ini untuk menyelamatkan diriku sendiri di masa depan? Atau dia yang menyelamatkanku sekarang?"
Pada hari terakhir Ramadan, Kia memutuskan untuk tidak lagi menunggu paket di depan pintu. Dia duduk di dapur sejak Asar, mengaduk kolaknya sendiri dengan perasaan yang jauh lebih tenang. Dia tidak lagi takut pada bayang-bayang di jendela.
Saat azan berkumandang, Kia menyadari sesuatu yang menyentak kesadarannya. Dia menatap meja makan. Rantang yang dia pikir datang secara ajaib itu sebenarnya tidak pernah berpindah tempat sejak dia menaruhnya di sana tadi siang. Rantang itu berisi masakan yang dia buat sendiri tanpa dia sadari—semuanya hanyalah sebuah mekanisme pertahanan jiwa untuk melawan duka yang terlalu dalam.
"Ternyata... itu aku sendiri," bisik Kia sambil tertawa pedih.
Loop waktu itu pecah. Tidak ada paket dari masa depan, tidak ada sihir yang absurd. Selama ini, Kia terlalu takut untuk memasak karena takut akan kenangan, hingga otaknya menciptakan ilusi tentang kiriman misterius agar dia memiliki "alasan" untuk kembali menyentuh kompor.
Kia menyuap kolaknya. Rasanya manis, sedikit asin, dan hangat. Dia tidak lagi puasa sendirian. "Selamat buka puasa, Bu. Selamat buka puasa, Kia masa depan," ucapnya lirih.
Kia perlahan menyadari bahwa takjil terbaik bukanlah yang datang dari teknologi atau masa depan, melainkan yang dibuat oleh tangan yang akhirnya berani berdamai dengan rasa sakit di masa lalu.