Matahari Jakarta sore itu tidak sedang bercanda. Sinarnya yang oranye pekat terasa membakar atap seng kontrakan, membuat udara di dalam ruangan terasa seperti uap nasi yang baru matang.
Di dalam kamar petakan itu, Satria meringkuk kaku. Perutnya sudah keroncongan, berbunyi nyaring menyerupai grup perkusi rusak yang kehilangan irama. Namun, rasa lapar itu mendadak kalah telak oleh rasa dingin yang menjalar di punggungnya saat dia mengintip dari balik gorden kusam.
Di depan pagar, terparkir sebuah motor Ninja hijau mentereng yang sangat Satria kenal. Itu adalah "kuda besi" milik Bang Tigor, debt collector paling disiplin, paling tepat waktu, dan paling tidak punya rasa kasihan se-Kecamatan.
"Sial, apa orang ini gak punya hari libur kalau puasa?" bisik Satria dengan napas tertahan.
Satria tahu betul posisinya sedang di ujung tanduk. Cicilan motornya—yang ironisnya digunakan untuk ngojek, tetapi malah sering mogok—sudah menunggak tiga bulan. Dia sudah menyiapkan sejuta alasan: dari ban bocor, sepi orderan, sampai alasan klasik "ibu di kampung sakit." Namun, dia tahu, di depan Tigor, alasan-alasan itu hanya akan berakhir jadi bahan tertawaan yang garing.
Satria berniat sembunyi, pura-pura mati kalau perlu, setidaknya sampai azan Maghrib berkumandang. Namun, sebuah dentuman memecah kesunyian.
Brak! Brak!
Pintu kayu yang sudah dimakan rayap itu diketuk. Bukan dengan kekerasan brutal yang biasa dilakukan penagih utang di film-film, tetapi dengan ritme yang sopan penuh tekanan. Sebuah ketukan yang seolah berkata: Aku tahu kamu di sana, dan aku tidak akan pergi.
"Sat! Gue tahu lo di dalem. Keluar lo!" teriak Tigor dari luar. Suaranya berat, serak karena kering panas matahari. "Gue gak mau ribut, Sat. Capek. Gue cuma mau numpang nunggu buka puasa di sini. Panas luar biasa, bensin gue juga mepet!"
Dengan tangan gemetar, Satria memutar kunci pintu. Saat pintu terbuka, sosok raksasa dengan jaket kulit hitam berdiri di sana. Wajah sangar Tigor merah padam, peluhnya membanjiri dahi hingga ke leher. Dia tidak tampak seperti singa yang siap menerkam, melainkan seperti raksasa yang sedang kelelahan karena menahan haus.
"Masuk, Bang," suara Satria mencicit.
Tigor masuk tanpa babibu, langsung duduk bersila di atas lantai ubin yang untungnya masih menyisakan sedikit rasa dingin. Keduanya duduk berhadapan. Hening seketika menyergap, hanya ada suara derit kipas angin butut di pojok ruangan yang berputar lambat, seolah-olah dia pun sedang ikut berpuasa.
"Lo ... puasa, Bang?" tanya Satria canggung, memecah keheningan yang menyesakkan.
Tigor melirik tajam, lalu menyeka keringat dengan punggung tangan. "Ya, puasalah. Gini-gini gue masih takut dosa, Sat. Meski kerjaan gue sehari-hari cuma nagih janji manis dari orang-orang tipe lo yang hobi menghilang ditelan bumi."
Satria menunduk, memainkan ujung karpet plastik yang terkelupas. Namun, entah kenapa, suasana sore itu terasa berbeda. Biasanya, Tigor akan datang dengan map tebal berisi rincian bunga yang mencekik. Kali ini, map itu tetap tergeletak di tas motornya.
Waktu seolah berjalan merangkak. Di tengah penantian itu, mereka mulai bicara. Bukan soal bunga lima persen atau sita-menyita, melainkan tentang realitas hidup yang sama-sama mencekik.
Tigor bercerita tentang anak perempuannya yang tahun ini cerewet minta dibelikan baju lebaran warna lila, warna yang menurut Tigor "norak, tetapi ah, sudahlah." Dia juga mengeluh tentang harga beras yang naik lebih cepat daripada kenaikan upahnya.
Satria tertegun. Di balik jaket kulit dan tatapan sangarnya, Tigor hanyalah seorang ayah yang sedang pening memikirkan uang dapur. Mereka mendadak menjadi dua manusia yang sama-sama lelah dihimpit kerasnya Jakarta.
"Susah, ya, Bang, jadi orang kecil," gumam Satria.
"Bukan susah lagi, Sat. Capek. Tapi mau gimana? Kalau gue gak nagih lo, anak gue gak lebaran," sahut Tigor dengan nada yang melembut.
Saat azan Maghrib akhirnya berkumandang dari masjid seberang jalan, Satria bergegas ke dapur kecilnya. Dia hanya punya satu gelas air putih dingin dan seplastik gorengan yang dia beli dua jam lalu—yang sekarang sudah lembek dan dingin. Itu adalah satu-satunya "harta karun" yang tersisa di mejanya.
"Cuma ini yang ada, Bang. Maaf, alakadarnya banget," kata Satria tulus sambil menyodorkan plastik itu.
Tigor menatap bakwan di depannya, lalu menatap mata Satria. Tanpa banyak komentar, dia mengambil satu butir kurma yang terselip di kantong jaketnya—ternyata dia punya persiapan sendiri—lalu membagi dua kurma itu. "Nih, buat lo setengah. Biar afdal bukanya."
Satria dan Tigor pun berbuka. Tigor mengunyah bakwan itu pelan-pelan, lalu meneguk air putih dari gelas plastik sampai tandas.
"Gorengannya keras banget, Sat. Kayak hati lo pas gue tagih minggu lalu," seloroh Tigor sambil nyengir, menampakkan deretan giginya yang tidak beraturan.
Tigor berdiri, merapikan jaket kulitnya yang sudah agak longgar. Dia berjalan menuju pintu. "Utang lo ..., hari ini gue laporin ke bos kalau gue gak nemu lo di kontrakan. Gue kasih lo napas seminggu lagi buat cari tarikan ojek yang bener."
Tigor menaiki motor Ninjanya, menyalakan mesin yang menderu gagah. "Tapi inget, minggu depan kalau gak bayar satu bulan cicilan aja, gue sita beneran itu TV lo yang layarnya sudah bergaris-garis itu. Paham?"
Satria mengangguk cepat, "Paham, Bang! Makasih banyak."
Tigor berlalu tepat saat langit berubah menjadi biru gelap. Satria berdiri di ambang pintu, tersenyum tipis sambil memegang sisa gorengan dinginnya. Ternyata, Ramadan punya cara yang sangat unik untuk mencairkan ketegangan, bahkan di antara segelas air dan sepotong bakwan yang alot.