Senja mulai meredupkan sinarnya di ufuk barat, seolah memberi tanda. Langit warna abu gelap mulai menyisir tepian langit, hembusan angin dingin mulai menyentuh bulu-bulu tipis tangan Maryam. Di pendopo kampus, Maryam masih menggerakkan jari-jari tangan pada keyboard laptopnya. Rupanya ia terburu-buru menyelesaikan tugas kuliah profesi guru.
"Maryam, ayo kita salat magrib," ajak Aisyah, teman kuliahnya.
Maryam menggangguk. "Lima menit lagi ya, Aisyah. Kurang satu paragraf lagi"
Waktu semakin mengejar, jarum jam tangan Maryam seolah bergerak lari. Ternyata waktu salat Magrib kurang lima belas menit sebelum masuk waktu Isya.
Maryam berjalan menelusuri lorong kuliah menuju parkiran kampus. Hujan rintik-rintik membasahi motor Maryam. Ia menepi di bawah atap parkiran memakai mantel.
Motornya melaju menerjang aliran air hujan di jalanan. Banyak kendaraan yang menyalip motor Maryam dengan kecepatan tinggi, hingga air menyembur ke wajah Maryam.
Spontan ia kaget dan hampir jatuh di jalan, ia berhenti di tepian jalan. Sambil mengusap semburan air hujan di wajahnya, ia termenung ingat ibunya yang sedang dirawat di rumah sakit.
"Aku ingin sekali menemani ibu di rumah sakit," bantinnya.
Kejadian ayahnya menyuruh untuk pergi dari rumah kala itu, teringat kembali di ingatan Maryam. Pupus sudah keinginan Maryam ingin menjenguk ibunya di rumah sakit. Ia masih sakit hati atas ucapan ayahnya itu.
Sesampainya di depan rumah ternyata gerbang sudah digembok. Tanpa panik, ia langsung telpon adik bungsunya.
Adiknya pun keluar membuka gembok. "Kata ayah kakak mau diusir, Kak," kata adiknya. "Kakak sering pulang malam jadi malu-maluin keluarga, Kak," sambungnya.
"Loh, ini masih jam setengah delapan, Dik," jelas Maryam.
Maryam merebahkan tubuhnya di kasur. Matanya mulai terpejam, rupanya ia sangat kelelahan.
Suara azan subuh berkumandang. Suara gerbang rumah di buka terdengar di telinga Maryam yang tengah melipat mukena. Seketika Maryam beranjak berjalan menuju sumber suara. Ayahnya berdiri di depan ruang tamu sebelah musala kecil di rumahnya. Tatapan tajam ayahnya terlihat jelas di bola mata Maryam.
Maryam tak menggubris kedatangan ayahnya dari rumah sakit. Ia bersiap diri untuk kembali berangkat kuliah. Ketika ia akan mengeluarkan motor dari garasi.
Tiba-tiba ayahnya mendekat. "Kalau sudah tidak mau kegiatan di masjid kita, silakan pergi dari rumah ini!," bentak ayahnya dengan mata tajamnya. Maryam mengabaikan ucapan ayahnya, melanjutkan perjalanan ke kampus.
Maryam memang sedang punya masalah dengan keluarganya. Ia beberapa bulan terakhir sudah tidak aktif lagi kegiatan di masjidnya. Rupanya masalah internal. Ayahnya yang sangat keras, membuat Maryam semakin tidak nyaman.
Seperti biasa, Maryam pulang dari kuliah sampai di rumah jam delapan malam. Ia sangat sibuk kegiatan di kampusnya. Maryam mencoba membuka pintu gerbang rumah dengan tangan yang menggigil karena sejak dari kampus hujan lebat belum juga reda.
Gerbang terkunci. Ia mencoba menghubungi adiknya lagi. Sialnya, nomor WhatsApp adiknya tidak dapat dihubungi. Padahal satu-satunya orang rumah yang bisa dihubungi hanya adiknya.
Maryam teringat dan merenung sejenak di tengah percikan hujan lebat. "Apakah memang sengaja supaya aku pergi dari sini?," batinnya dengan gugup.
Tak berpikir panjang, Maryam mendatangi rumah adik ayahnya, Om Deni. Rumahnya sampingan dengan rumah Maryam.
Maryam mengetuk pintu rumah Om Deni. "Loh, Maryam. Ada apa kamu ke sini basah kuyup?," Tante Lala istrinya Om Deni membuka pintu.
"Tante, bolehkah Maryam tidur di rumah Om Deni? Aku sepertinya diusir ayah," ucap Maryam menangis tersedu.
"Sini masuk. Pakai saja kamar ini untuk istirahat. Jika sudah membaik bisa cerita ke kami," ujar Tante Lala.
Maryam tidak bisa membendung air mata saat cerita yang terjadi padanya terhadap ayahnya. Om Deni dan istrinya syok mendengar cerita Maryam.
Seminggu telah berlalu, tidak ada satupun dari keluarga Maryam yang mencarinya. Bahkan Om Deni dan istrinya sangat heran.
"Ayahmu kok tidak ada usaha sama sekali untuk mengambilmu," tanya Tantenya.
"Maryam juga bingung, Tante. Aku sudah takut datang ke rumah, sepertinya memang sudah tidak peduli denganku," ujarnya menjawab pertanyaan Tantenya.
Dengan rasa tidak enak di hati Maryam, ia nekat selalu pulang ke rumah Om Deni. Ia merasa mereka sudah tidak nyaman ia tinggal di rumahnya. Tetapi ia bingung harus kemana lagi.
Maryam kali ini pulang dari kampus setelah salat magrib. Ia ingin mengikuti salat tarawih di malam satu ramadan. Sampai di rumah Om Deni, azan Isya berkumandang, hawa ramadan sudah melekat. Seperti biasanya, Maryam membuka pintu garasi rumah Om Deni. Namun nasib malang menghampirinya. Pintu garasi tidak bisa dibuka, padahal sebelumnya selalu tidak dikunci.
Maryam masih mencoba mengetuk pintu teras berkali-kali sambil memanggil. Sudut matanya melirik kaca rumah yang sudah berselimut tirai. Lubang kecil tirai terlihat ruangan sudah gelap. Maryam masih berusaha. Ia menghubungi lewat telepon dan memberikan pesan lewat chat ke Om Deni dan Tante Lala.
Setengah jam ia menunggu balasan, namun tidak ada jawaban. Jantungnya berdekup kencang, tangan dan kakinya bergetar. Ia seketika trauma takut kejadian ia diusir ayahnya terulang kembali dari Om dan Tantenya.
Maryam menghubungi Aisyah, teman kuliahnya. Ia menuju ke kost Aisyah. Di sana ia menceritakan kejadiannya.
"Aku sangat kasihan sekali denganmu, Maryam. Sementara kamu di kost ku dulu saja," ujar Aisyah.
Aisyah sambil mengusap air mata yang mengalir deras di pipi Maryam. "Saranku coba tunggu sampai besok Om dan Tantemu membalas," sambung Aisyah.
Keinginan Maryam bisa salat tarawih di malam satu ramadan telah pupus.
"Sahur....sahur... sahurr," suara rombongan remaja masjid di kampung dekat kost membangunkan warga. Maryam dan Aisyah sahur bersama di kamar kost Aisyah. Maryam sangat sedih tahun ini tidak bisa merasakan sahur bersama keluarganya.