Bulan Ramadan identik dengan kesederhanaan. Kolak, kurma, gorengan, atau sekadar teh manis sudah cukup. Sekarang, takjil juga harus “punya cerita”: viral, estetik, dan layak dipamerkan. Faktanya, belakangan ini tradisi berbuka puasa mulai berubah. Salah satu fenomena yang menarik perhatian adalah tren kuliner takjil risol dengan varian rasa tidak biasa seperti risol matcha yang viral di media sosial di bulan Ramadan 2026.
Linimasa media sosial saya mulai berbeda. Video lewat for your page yang membelah risol matcha dengan isian lumer, hingga antrean panjang di lapak takjil yang sedang naik panggung. Semuanya sepertinya ingin ikut serta. Dan sejujurnya, ada sedikit dorongan dalam diri saya untuk berpikir, "sepertinya saya juga harus mencoba".
Risol matcha masuk dalam daftar kuliner yang ramai menjadi sorotan oleh pengguna TikTok dan Instagram di Ramadan 2026. Risol biasanya identik dengan rasa gurih berisi sayur, mayo. Kini, tak tabu lagi risol matcha mendadak menjadi buruan banyak orang karena tampilannya yang unik dan warna bervariasi, sehingga peluang menjadi Instagrammable food. Risol matcha menawarkan sensasi rasa krim teh hijau Jepang dengan perpaduan tekstur cruncy di luar dan lumer di dalam.
Risol bukan lagi sekadar camilan, tetapi konten. Nilainya bukan hanya di lidah, tapi juga pada jumlah likes dan views. Fenomena ini bukan sekadar inovasi kuliner. Di balik mencuatnya risol matcha sebagai kuliner populer hidangan buka puasa, terdapat visual sosial budaya yang jauh lebih kompleks. Tren ini adalah cerminan dari budaya konsumtif dan imbas Fear of Missing Out (FOMO) yang semakin membumi dalam spiritual masyarakat muslim di era digital saat ini.
Di titik itulah saya menyadari: Ramadan sekarang ini bukan hanya tentang berpuasa dan ibadah, tetapi juga tentang khawatir ketinggalan tren.
Saya tidak sedang menghakimi. Saya juga merupakan bagian dari generasi yang tumbuh berdampingan dengan media sosial. Namun ada sedikit perasaan tidak nyaman yang sulit untuk diabadikan: kapan kita mulai menilai eksistensi ramadan dari apa yang populer di media sosial, alih-alih dari apa yang damai di dalam hati?
Budaya FOMO berjalan dengan halus. Kita tidak merasa dipaksa, tapi seolah tergiring. Saat semua orang memposting risol matcha, kita mulai merasa khawatir ketinggalan. Bukan karena takut lapar, tapi karena takut tidak dianggap penting. Takut tidak mengikuti arus obrolan. Takut dianggap "kurang update. Pada akhirnya, memilih untuk membeli takjil bukan lagi hanya tentang kebutuhan, tapi lebih kepada mencari validasi.
Tak dapat dipungkiri lagi, kita juga tidak mengelak dari sisi positifnya. Tren risol matcha dapat menggerakkan ekonomi kecil, seperti UMKM dapat terbantu. Banyak pedagang kecil merasakan lonjakan pembeli. Tentu hal ini nyata dan patut diapresiasi. Ramadan memang selalu membawa berkah ekonomi bagi banyak orang.
Menemukan Kembali Makna Ramadan

Di sini adalah tempat di mana kita perlu memikirkan kritik budaya. Saat makanan menjadi eksibisi dan cara berbuka puasa menjadi konten yang dibagikan, kita harus bertanya: Apakah ini masih Ramadan yang kita kenal atau sudah berubah menjadi pesta konsumsi?
Risol matcha bukan hanya makanan biasa. Mereka menggambarkan fakta sosial di zaman digital saat ini, di mana rasa ingin tahu dan konsumsi sangat dipengaruhi oleh kekhawatiran ketinggalan bulan yang penuh berkah, juga menjadi tempat perubahan budaya.
Ketika berburu takjil menjadi agenda utama, sementara refleksi beribadah terasa nomor sekian, saat itulah alarm budaya seharusnya berbunyi. Bisa jadi kita merayakan bulan puasa, tapi melupakan esensinya.
Media sosial tidaklah salah. Kreativitas dalam kuliner juga tidak salah. Namun, jika kita tidak hati-hati, kita bisa terjebak dalam Ramadan yang hanya terlihat menarik tetapi tidak memiliki arti. Puasa hanya membuat sebuah rutinitas fisik, dan makna spiritualnya yang terabaikan.
Mungkin yang seharusnya kita lakukan bukanlah menolak tren yang ada, tetapi memberi jarak sepatutnya. Menikmati risol matcha itu boleh. Mempostingnya di media sosial juga boleh. Tapi kita harus berhati-hati agar tidak lebih takut ketinggalan dari pada menyadari pentingnya menahan diri.
Kita perlu berhenti sejenak untuk berpikir apakah tren-tren ini membuat kita lebih baik atau malah membuat kita jauh dari tujuan utama Ramadan. Puasa itu bukan tentang siapa yang paling cepat mendapat takjil yang sedang trending, tetapi tentang siapa yang paling mampu memahami nilai spiritual di bulan yang penuh berkah ini.