Azan Subuh baru saja mereda ketika Faris menutup jendela kamarnya. Suara kokok ayam dari gang belakang bersahut-sahutan dengan deru motor yang melintas terburu-buru. Ia berdiri cukup lama di depan kaca, menatap bayangannya sendiri. Mata sembap, rahang mengeras, dan gurat lelah yang tak sempat disembunyikan.
“Puasa lagi,” gumamnya tanpa nada.
Di ruang tamu, ibunya masih duduk di atas sajadah, tasbih bergerak pelan di sela jemarinya. Lampu ruang tamu menyisakan cahaya kekuningan yang hangat, kontras dengan hawa dingin dini hari.
“Kamu sahur?” tanya ibunya tanpa menoleh.
“Sedikit.”
“Kerja hari ini?”
“Iya.”
Tak ada percakapan lain. Sejak ayahnya meninggal dua tahun lalu, rumah itu lebih sering dipenuhi suara kipas angin dan televisi daripada tawa. Faris melangkah keluar ketika matahari mulai naik. Udara pagi masih lembap, menyisakan bau tanah dan sampah basah di sudut gang. Ia berjalan menuju halte, tas selempang tergantung di bahunya. Ramadan tahun ini datang tanpa makna. Ia tak memasang target khatam Al-Qur’an. Tak berniat memperbaiki apa pun. Ia hanya ingin hari-hari lewat tanpa meledak.
Kantor kecil tempatnya bekerja sebagai staf administrasi terasa pengap. Pendingin ruangan sudah lama rusak. Meja-meja berderet dengan tumpukan berkas yang menggunung. Di sudut ruangan, kipas angin berdiri berdecit setiap kali berputar.
“Faris, laporan bulan lalu belum beres?” suara Pak Hendra memotong lamunannya.
“Masih saya cek, Pak.”
“Masih? Sudah saya minta dari minggu lalu.”
Faris menahan napas. Jemarinya berhenti di atas keyboard.
“Saya sendirian pegang dua divisi, Pak,” katanya pelan.
Pak Hendra mendengus. “Alasan terus. Kalau tidak sanggup, bilang dari awal.”
Kalimat itu seperti batu kecil yang dilempar tepat ke dadanya. Faris menggigit bagian dalam pipinya, menahan sesuatu yang ingin keluar. Ia membayangkan dirinya berdiri, membanting map, dan keluar dari ruangan itu. Tapi ia hanya menunduk.
Ketika atasan itu pergi, Faris merasakan perutnya mulai kosong. Lapar datang pelan, seperti tangan tak terlihat yang meremas dari dalam. Ia menyandarkan tubuh ke kursi, menatap langit-langit yang retak.
Dulu ia berpuasa dengan doa-doa panjang. Meminta kemudahan, meminta jalan keluar, meminta agar hidup tak terasa seperti beban yang dipikul sendirian. Tapi doa-doa itu, menurutnya, hanya memantul kembali ke dadanya sendiri. Sekarang ia berpuasa hanya sekadar menjalankan kewajiban sebagai umat Muslim.
Siang hari berjalan lambat. Jam dinding seperti sengaja bergerak lebih pelan. Tenggorokannya kering, dan pikirannya dipenuhi percakapan-percakapan yang tak pernah selesai dengan atasannya, dengan ibunya, dengan dirinya sendiri.
Saat istirahat, rekan kerjanya, Rina, duduk di meja seberang.
“Kamu kelihatan capek banget.”
“Sudah biasa.”
“Kamu masih marah sama keadaan?”
Faris tersenyum tipis. “Kalau marah bisa bikin berubah, mungkin aku sudah teriak tiap hari.”
Rina terdiam sejenak. “Kadang kita bukan butuh perubahan besar, melainkan butuh berhenti sebentar.”
Faris menatapnya. “Berhenti dari apa?”
“Berhenti melawan semuanya. Dan cobalah untuk mulai berdamai.”
Kalimat itu mengendap di kepalanya.
Sore menjelang, langit berubah jingga keemasan. Faris memilih berjalan kaki lebih jauh sebelum pulang. Ia menyusuri trotoar yang dipenuhi pedagang takjil. Bau gorengan dan kolak bercampur dengan asap knalpot. Orang-orang tersenyum, menawar harga, bercanda. Ia merasa seperti berjalan di antara dunia yang tak benar-benar ia masuki.
Di ujung jalan, sebuah masjid berdiri dengan kubah hijau muda. Pengeras suara memutar murattal pelan. Faris berhenti di gerbangnya. Entah kenapa, kakinya melangkah masuk. Di dalam, suasana teduh. Lantai keramik dingin menyentuh telapak kakinya. Beberapa orang duduk bersandar pada pilar, membaca Al-Qur’an. Seorang anak kecil tertidur di pangkuan ayahnya.
Faris duduk di saf paling belakang. Ia tak membawa mushaf. Ia hanya menatap ke depan, ke arah mihrab yang kosong. Lapar dan hausnya terasa lebih jelas di ruang sunyi itu. Tidak ada suara ketikan, tidak ada teguran, tidak ada tuntutan. Hanya detak jam dinding dan napasnya sendiri.
Ia menutup mata. Untuk pertama kalinya setelah lama, ia tidak memohon apa pun. Tidak meminta pekerjaan lebih ringan. Tidak meminta rezeki berlimpah. Tidak meminta hidup lebih adil. Ia hanya membiarkan pikirannya berhenti berdebat. Wajah ayahnya muncul dalam ingatan dengan senyuman, menepuk bahunya ketika ia gagal ujian dulu.
“Tidak semua yang kamu mau harus kamu menangkan,” suara itu terasa dekat.
Dada Faris menghangat. Ia teringat bagaimana ia marah ketika ayahnya meninggal mendadak. Marah pada rumah sakit, pada keadaan, pada Tuhan yang tak menjawab doa-doanya waktu itu. Ia membawa kemarahan itu ke kantor, ke rumah, ke setiap percakapan. Azan Magrib tiba-tiba menggema, memecah lamunannya. Suaranya bulat, jernih, seperti menembus lapisan yang selama ini menutup telinganya.
Faris membuka mata. Seorang lelaki tua di sampingnya menyodorkan sebotol air mineral kecil. “Silakan, Nak.”
“Terima kasih.”
Tutup botol itu berputar pelan di tangannya. Saat air menyentuh tenggorokannya, ia tak hanya merasakan hilangnya haus. Ia merasakan sesuatu yang selama ini keras di dalam dirinya mulai melunak.
Ia tidak mendapatkan jawaban tentang masa depan. Tidak ada keajaiban tiba-tiba. Kantornya tetap sama. Atasannya tetap menuntut. Masalah tetap ada. Namun di antara tegukan air dan sebutir kurma yang manis, ia menyadari satu hal sederhana. Seperti yang dikatakan rekan kerjanya, ia hanya perlu mencoba berdamai, tanpa melawan apa pun.
Setelah tarawih, Faris duduk di teras. Angin malam membawa suara anak-anak bermain petasan kecil di kejauhan. Ia memandangi langit yang bertabur bintang redup. Puasa hari itu memaksanya diam. Saat ia tak bisa makan, tak bisa minum, tak bisa meluapkan amarah dengan mudah, ia duduk bersama dirinya sendiri. Dan di sana, di ruang yang selama ini ia hindari, ia menemukan bahwa kemarahannya lebih banyak ditujukan pada dirinya sendiri: karena merasa gagal, karena merasa tak cukup, karena merasa tak didengar.
Ia menarik napas panjang. Mungkin menerima bukan berarti menyerah. Mungkin memaafkan bukan berarti melupakan. Mungkin berdamai bukan berarti kalah. Keesokan harinya, ketika Pak Hendra kembali menegurnya, Faris menjawab dengan suara yang tetap tenang.
“Saya akan selesaikan, Pak. Tapi saya butuh waktu tambahan satu hari.”
Atasannya menatapnya, lalu mengangguk singkat. Itu bukan kemenangan besar. Hanya percakapan biasa. Namun bagi Faris, itu seperti langkah kecil yang akhirnya ia ambil tanpa amarah.
Ramadan terus berjalan. Lapar tetap datang setiap siang. Haus tetap mengeringkan tenggorokan. Masalah tak serta-merta hilang. Tetapi di antara jam-jam panjang tanpa makan dan minum, Faris belajar mendengar isi hatinya sendiri tanpa menghakimi.
Puasa yang awalnya ia jalani hanya untuk menunaikan kewajiban, perlahan berubah menjadi cermin. Di dalamnya, ia melihat dirinya yang rapuh tanpa rasa benci.
Jawaban itu tidak datang dalam bentuk keajaiban atau pintu rezeki yang terbuka lebar. Ia datang sebagai kesadaran sederhana, setenang azan yang mengalun menjelang waktu berbuka: bahwa hidup tak selalu harus dimenangkan, cukup dijalani dengan hati yang tidak lagi saling menyalahkan.
Faris menutup malam itu dengan doa. Bukan untuk meminta dunia berubah, tetapi agar ia tetap mampu berdamai dengan dirinya sendiri.