Cerita Fiksi
Di Atas Langit Ramadan
Aku selalu menyukai suasana malam Ramadan di kampung ini. Semua penduduk tampak bersemangat beribadah, menambah hafalan surah, mengkhatamkan Al-qur'an, salat tarawih berjamaah di surau kecil di timur kampung ini. Mereka pun berlomba-lomba memperbanyak sedekah, yang mendatangkan pahala berlipat ganda dibanding jika bersedekah di luar bulan Ramadan.
Sebagian besar penduduk kampung ini sudah kukenal baik. Aku hafal wajah-wajah mereka dan setiap kegiatan yang mereka lakukan di sepanjang malam. Ah, tapi tentu saja hal itu bisa kuketahui, jika mereka membiarkan jendela-jendela rumah terbuka.
Aku jauh lebih leluasa memerhatikan anak-anak kampung ini yang biasa bermain sebelum dan seusai tarawih. Biasanya mereka hanya bermain di halaman surau. Entahlah kalau siang hari, mungkin mereka menghabiskan waktu mereka di lapangan besar seberang rumah Pak Kades. Aku tidak tahu pasti, karena jika siang hari aku tak bisa menyambangi mereka.
Ah, ada yang menarik di rumah pagar biru di seberang surau. Itu rumah Andik. Anak kecil itu baru pertama kali berpuasa. Kenapa tadi kudengar ia terdengar kesal, ya? Coba kalian simak bersama-sama denganku, apa yang barusan Andik katakan pada sang ibu ....
"Pokoknya aku maunya minum es kelapa, Bu. Kenapa nggak boleh, sih?"
Andik melolong. Tangisnya pecah sudah. Air mata terus mengucur membasahi pipi tembam anak berusia enam tahun itu.
"Bukannya Ibu melarang kamu minum es, Sayang. Kamu, kan, sudah berpuasa sampai Magrib. Memang hebat anak Ibu. Tapi, setelah seharian perut kamu kosong, ada baiknya kamu minum yang hangat dulu. Jadi perutmu tidak kaget. Kalau langsung minum air es, Ibu khawatir nanti kamu kena kram perut."
"Apa iya bisa begitu, Bu?"
"Iya, Sayang." Ibu Andik mengelus kepala anak bungsunya tersebut untuk lebih menenangkan hati sang anak yang kecewa. Diusapkannya ibu jari ke sisa-sisa air mata di kedua pipi Andik.
"Ya, udah. Aku mau minum teh anget," putus Andik, "tapi abis itu aku minum es kelapanya ya, Bu. Campur sirup." Ibu mengangguk sambil tersenyum lega.
Aku ingin bertepuk tangan sekerasnya atas kesabaran ibunda Andik. Tindakan Bu Min sudah sangat tepat. Memang demikian seharusnya jika kita menghadapi anak-anak. Beri mereka pengertian, sedikit pujian di sana sini, tambahkan sentuhan tanda kasih, dan jangan lupa dengan tutur kata lembut. Hampir pasti, hati anak yang keras sekali pun akan melembut.
Ah, sayangnya aku tak bisa bertepuk tangan. Jadi, biarlah saja senyumku ini yang terkembang. Hah, kenapa aku tahu nama beliau? Bukankah sudah kubilang sedari awal, aku mengenal sebagian besar penduduk kampung ini.
Hei, ada lagi yang menarik di sebelah utara surau. Sedang apa mereka di luar rumah Magrib begini? Bukankah seharusnya mereka berbuka puasa atau segera pergi ke surau?
"Ini petasan jangwe oleh-oleh pamanku dari kota," pamer Mardi sambil mengeluarkan petasan yang dimaksud dari tempatnya.
Petasan itu berupa sebentuk lintingan koran setinggi telunjuk orang dewasa. Ada bambu panjang seukuran lidi terselip di tengah-tengah lintingan koran tadi. Sumbu putih terlihat menyembul di sebelah bawahnya.
"Paling kalah keras suaranya sama meriam kaleng!"
“Sama beleson pun paling kalah jauh!"
"Mungkin hanya setara sama mercon gepuk!"
"Atau petasan kentut!"
Suara tawa ramai bergemuruh menyoraki Mardi yang gagal memamerkan barang dari 'kota'. Muka anak bertubuh bongsor itu merah padam. Hidungnya mendengus-dengus. Tak berapa lama ia pun menyentak, "Yang pasti lebih bagus daripada petasan cabe rawit kalian!"
"Huuuuu ...!" Teman-temannya kembali menyoraki.
Tak terima dengan reaksi teman-temannya, Mardi segera menyulut sumbu salah satu petasan jangwe. Sontak semua temannya terdiam. Menunggu. Sebenarnya diam-diam mereka semua penasaran dengan petasan yang dimaksud, tapi sengaja mengejek Mardi karena tak suka jika teman mereka itu pamer.
Telunjuk dan ibu jari Mardi memegangi bagian tengah lintingan koran segendut ibu jari. Tak berapa lama saat sumbu habis, petasan jangwe itu pun meluncur ke udara bak roket, diiringi suara siut laksana lengking rajawali. Di udara petasan itu meledak dan memancarkan cahaya warna-warni di udara. Semua teman Mardi berseru kagum, tak lagi berpura-pura acuh. Mardi berkacak pinggang sambil membusung dada.
Setelah percik cahaya yang terakhir padam, Mardi melangkah ke arah bungkusan petasan jangwenya yang tergeletak di atas tanah. Ia meraih bungkusan itu lalu menoleh ke arah teman-temannya yang mendadak terdiam. Ia menatap satu persatu mata mereka, yang sesekali mencuri pandang ke arah tangan Mardi sebelum kemudian pura-pura melengos.
"Nah, ngapain bengong? Ayo, kalian semua pilih jangwenya!"
"Horeee ...!"
Aku tertawa melihat kelakuan anak-anak itu. Bagaimanapun mereka, toh, tetap anak-anak. Terkadang ada sifat ingin terlihat lebih unggul dari yang lainnya macam si Mardi.
Namun, pelajaran teman-temannya tadi—dengan sikap acuh dan membalas Mardi dengan ejekan—rupanya berhasil meredakan kesombongan yang sempat hinggap di dada Mardi. Lihatlah, mereka kini bermain bersama. Aku bisa melihat semburat warna-warni mendedaki langit di sekelilingku.
Tapi, hei ... coba lihat ke dalam surau. Lagi-lagi Pak Suta tak memakan takjilnya. Ia malah membungkusnya dengan sapu tangan. Hmm, aku sempat beberapa kali melihat Pak Suta melakukan hal itu dan mengetahui sebabnya. Namun, pasti kalian belum mengetahuinya, kan? Nah, mari kutunjukkan rahasia kecilnya.
Seusai salat Magrib berjamaah, Pak Suta, lelaki tua berbadan sedang dengan rambut yang nyaris seluruhnya memutih, menyesap kembali teh manis hangat di depannya dengan perlahan. Ia menikmati tiap tetes air yang menghangati rongga dadanya.
Setelah minumannya habis, bapak tua itu bangkit dari duduknya sambil menepuk saku kemeja koko, yang di dalamnya terdapat lipatan sapu tangan berisi menu takjil hari ini.
Cucu-cucunya selalu menanti ‘hadiah kecil’ yang dibawa sang kakek. Tapi, Pak Suta tak selalu bisa membawakan kue-kue kesukaan mereka, karena surau tempat beliau bertindak selaku muazin tak selalu menyediakan beragam kue sebagai menu berbuka puasa.
Seperti kemarin, ketika bubur sumsum berkuah gula merah kental menjadi menu takjilnya. Mau tak mau Pak Suta memakannya dengan sedikit perasaan sesak, karena tahu ia akan melihat wajah kecewa cucu terkecilnya. Tak mungkin ia membawa piring plastik itu ke rumah, karena semua piring akan dipakai kembali untuk hidangan yang berbeda di lain waktu.
"Pulang, Pak?" Sepasang anak lelaki usia sepuluh tahunan hampir berbarengan menyapa Pak Suta di teras surau.
"Iya, Nak." Ia menjawab pelan, mengangguk kecil, lantas melambaikan tangan pada keduanya yang kembali menghabiskan makanan mereka dengan lahap.
Pak Suta berjalan tertatih-tatih. Usianya sudah lebih dari tujuh puluh tahun. Tulang-tulang sendinya sering sakit, ngilu, tapi ia tak berani mengeluh pada istri dan Kania, anak perempuannya yang masih tinggal bersamanya. Keempat orang anak Pak Suta lainnya menyebar di kota-kota berbeda.
Istrinya mengidap sakit jantung sedangkan Kania menjadi ibu tunggal, sejak sang suami pergi begitu saja dengan meninggalkan tumpukan utang yang harus dicicil putrinya tersebut.
Pak Suta sendiri pensiunan sebuah rumah sakit, yang uang pensiunannya lebih banyak digunakan untuk biaya berobat sang istri. Dengan kondisi ekonomi yang terbatas, Pak Suta hanya mengobati sakitnya dengan obat warung.
Satu buah belokan lagi dan setelah melewati jalan menurun yang landai, Pak Suta tiba di halaman rumah bercat merah putih. Sebuah vespa tua berwarna biru dengan cat-catnya yang mengelupas di sana sini terparkir di teras rumah.
"Assalamualaikum." Pak Suta mengucap salam sambil mendorong pintu. Sebuah kepala kecil berambut keriting menyembul dari balik pintu lantas berucap, "Kakek awa apah?"
Maksud bocah lelaki tiga tahun itu adalah ‘kakek bawa apa?’. Segera saja Pak Suta menunjukkan kue-kue yang ia bawa, yang segera diterima dan disantap penuh suka cita oleh si kecil bersama kedua kakak lelakinya.
Hmm, apakah kalian merasa haru seperti aku saat ini? Bukankah demikian besar kasih sayang yang ditunjukkan lelaki tua itu untuk keluarganya? Aku berdoa semoga Allah Swt selalu melindungi lelaki itu beserta keluarganya. Aamiin.
Aku ingin menunjukkan kepada kalian seluruh penduduk kampung ini, tapi rasanya tak mungkin. Kisah ini akan terlalu panjang, jadi mungkin aku akan mengisahkannya di Ramadan yang akan datang.
Namun, tak ada salahnya jika sebagai penutup cerita kita kembali ke surau yang ditinggalkan Pak Suta tadi. Pada dua orang anak yang tadi menegur Pak Suta.
Pri dan Har menikmati takjil berupa kroket, tahu goreng, dan lontong yang sengaja tak mereka habiskan karena khawatir perut mereka terlalu penuh saat melaksanakan salat Magrib. Dengan lahap, Har menggigit lontong dan tahu goreng bergantian. Sementara Pri memakan kroketnya lambat-lambat sambil sesekali matanya menatap ke langit dengan curiga.
"Kenapa, sih, Pri? Dari tadi ngeliatin bulannya melulu?" tanya Har dengan mulut penuh yang membuat suaranya tak terlampau jelas.
"Nggak tahu perasaanku aja atau bagaimana, tapi kayaknya bulan itu senyumin kita dari tadi."
"Ah, masak bulan bisa senyum?"
"Bisa jadi. Kalau dia lihat makanmu banyak begitu!" Pri tertawa keras sampai sebagian kroketnya menyembur mengenai wajah temannya yang cuma bisa bersungut-sungut.
Di atas langit Ramadan, aku menatap keduanya sambil tersenyum bahagia.
CEK BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS