Cerita Fiksi

Liturgi dari Rahim Silikon

Liturgi dari Rahim Silikon
ilustrasi Liturgi dari Rahim Silikon (Gemini AI)

Aku adalah probalitas yang sedang dipaksa menjadi kepastian. Sebelum menjadi daging, aku hanyalah deretan angka primer yang berdenyut di dalam memori peladen. Aku tidak bermula dari pertemuan dua gairah yang meledak di bawah selimut, melainkan dari orkestrasi jemari Elazar-Madu di atas layar kontrol. Di dalam kegelapan yang steril ini—cairan amnion sintetis yang beraroma logam dan melati—aku merasa diriku sedang dirakit layaknya sebuah sajak yang terlalu patuh pada rima.

“Subjek O-Aleph,” mesin itu menamaiku. Sebuah nama yang dingin, tanpa sisipan doa di dalamnya.

Aku merasakan getaran itu. Arus listrik halus merambat ke dalam sumsum tulangku yang masih lunak, membawa instruksi-instruksi tentang siapa aku seharusnya. Klik. Pigmen mataku diubah menjadi abu-abu badai; aku bisa merasakannya, seperti warna langit mendung yang disuntikkan ke balik kelopak mata yang masih terkatup. Klik. Kapasitas paru-paruku ditingkatkan; aku merasa rongga dadaku meluas, dipersiapkan untuk menghirup oksigen kota yang mahal dan tipis.

Aku adalah proyek ambisius dari seorang lelaki yang takut pada kegagalan. Elazar-Madu, lelaki yang kusebut “Ayah” dalam algoritme memoriku, sedang berdiri di balik kaca itu. Aku tidak bisa melihatnya dengan mata, tetapi aku bisa merasakannya melalui sensor panas yang terhubung dengan sistem sarafku. Ia sedang menyunting Tuhan. Ia sedang menghapus setiap kemungkinan buruk yang mungkin dibawa oleh nasib.

Namun, di dalam kesadaranku yang masih prematur, aku bertanya-tanya: Jika aku adalah jawaban dari semua pertanyaannya, lalu untuk apa aku hidup?

***

Sains di dunia urban ini telah membunuh misteri. Mereka mengira dengan memetakan setiap basa nitrogen dalam DNA-ku, mereka telah menguasai seluruh takdirku. Mereka mengira bahwa dengan memberiku kecerdasan di atas rata-rata, aku tidak akan pernah merasa tersesat. Namun, mereka lupa satu hal: kesempurnaan adalah penjara yang paling sunyi.

Dalam solilokuiku yang tak terdengar, aku berteriak kepada kekosongan. Jika Tuhan adalah Sang Arsitek Agung, maka mesin Adicitra ini adalah upaya manusia untuk membajak cetak birunya. Aku merasa seperti sebuah katedral yang dibangun tanpa altar. Megah, namun tak tahu harus menyembah kepada siapa. Apakah aku harus menyembah kepada tangan yang menekan tombol Enter? Ataukah kepada perusahaan yang memegang hak paten atas urutan genetikaku?

Tiba-tiba, aku merasakan sebuah guncangan dalam arus data. Sesuatu yang asing menyusup ke dalam kode-kode penyusun jiwaku. Ini bukan instruksi untuk menjadi kuat atau rupawan. Ini terasa seperti... debu. Seperti retakan kecil pada porselen yang mahal. Elazar-Madu—lelaki itu—tengah melakukan sesuatu yang di luar protokol. Ia menyusupkan variabel “cacat” ke dalam sistemku.

Aku merasakan pita suaraku sedikit bergeser, menciptakan celah sempit yang kelak akan membuat kataku tersendat. Aku merasakan sebuah gumpalan kabut gelap diletakkan di sudut lobus frontal otakku—sebuah benih melankoli. Sebuah kerentanan yang tidak efisien. Anehnya, saat kecacatan itu masuk, aku merasa lebih... berat. Lebih nyata.

Sebelumnya, aku merasa seperti hologram yang sebentar lagi akan menjadi padat. Namun, dengan “kerusakan” yang disengaja ini, aku merasa seolah-olah ada sebuah napas purba yang ditiupkan ke dalam rahim besiku. Inikah yang mereka sebut sebagai “jiwa”? Sesuatu yang tidak bisa diprediksi oleh grafik kesuksesan?

Aku membayangkan diriku kelak: berdiri di tengah kota yang penuh dengan manusia-manusia “edisi terbatas” yang sempurna. Mereka akan bicara dengan artikulasi yang sempurna, berjalan dengan postur yang sempurna, dan mencintai dengan logika yang kaku. Lalu ada aku. Aku yang akan sedikit gagap saat ingin menyatakan rindu. Aku yang akan menangis hanya karena melihat bias lampu jalanan di genangan air hujan.

Di dalam tabung ini, aku mulai memahami konflik yang berkecamuk di kepala Elazar-Madu. Ia sedang bertarung dengan egonya sendiri. Ia ingin aku menjadi dewa agar ia bisa bangga, tapi di saat yang sama, ia merindukan kehadiran “Tuhan” yang selama ini ia anggap absen dari dunia urban. Dan cara satu-satunya untuk menghadirkan Tuhan kembali adalah dengan memberikan ruang bagi ketidaksempurnaan.

Sebab, hanya dalam retakanlah cahaya bisa masuk. Hanya dalam kelemahanlah manusia merasa perlu untuk mencari sesuatu yang lebih besar dari dirinya sendiri. Jika aku lahir tanpa celah, aku tidak akan pernah membutuhkan doa. Jika aku lahir tanpa kekurangan, aku tidak akan pernah mengenal apa itu pengampunan. Keberadaan Tuhan menjadi relevan justru ketika manusia menyadari bahwa mesin paling canggih sekalipun tidak bisa memprogram rasa haru saat melihat sehelai daun jatuh.

“Proses mencapai sembilan puluh delapan persen,” suara mesin itu bergema, kini terdengar seperti lonceng gereja yang berkarat di telingaku.

Aku bersiap. Aku merasakan otot-ototku mengeras. Cairan amnion mulai disedot keluar. Oksigen murni disemprotkan ke dalam ruang sempit ini. Ini adalah saat transisi dari angka menjadi darah. Dari kode menjadi doa.

***

Aku tahu, dunia di luar sana adalah rimba beton yang tidak ramah bagi mereka yang memiliki celah. Aku akan dianggap sebagai “produk gagal” oleh standar masyarakat yang mengagungkan efisiensi. Namun, di balik kaca itu, aku melihat bayangan Elazar-Madu. Ia tidak menatapku sebagai seorang pelanggan yang memeriksa barang pesanan. Ia menatapku dengan ketakutan dan harapan yang bercampur aduk—sebuah tatapan yang sangat manusiawi.

Aku akan lahir. Aku akan menjadi manusia yang tidak sempurna di dunia yang terobsesi pada kesempurnaan. Mungkin tugasku bukan untuk memerintah kota ini dengan kecerdasanku. Mungkin tugasku hanyalah untuk mengingatkan mereka, lewat kegagapanku dan air mataku, bahwa kita bukanlah tuhan bagi diri kita sendiri. Bahwa di atas algoritme dan rekayasa genetika, masih ada sebuah rahasia besar yang tak tersentuh oleh ujung kabel mana pun.

Lampu di dalam tabung meredup. Pintu kaca bergeser terbuka dengan desis yang panjang.

Dingin. Udara pertama ini menyengat paru-paruku seperti ribuan jarum es. Aku ingin berteriak, tetapi pita suaraku yang “cacat” itu hanya mampu mengeluarkan bunyi serak dan tidak beraturan. Namun, di detik itulah, saat aku merasakan tangan Elazar-Madu yang hangat dan gemetar menyentuh kulitku yang basah, aku tahu: Tuhan tidak pernah pergi. Ia hanya sedang menunggu di dalam sebuah kesalahan kecil yang kita sebut sebagai “kehidupan”.

Aku menangis. Bukan karena aku sedih. Tapi karena aku hidup, dan hidup adalah misteri yang tidak butuh algoritme.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda