Cerita Fiksi
Hunian di Balik Geligi Elara
Malam adalah ruang kedap suara, tempat aku sering kali kalah oleh matamu yang terpejam. Di atas ranjang yang mulai kehilangan aroma detergen dan berganti menjadi aroma kulitmu yang tenang, aku selalu menemukan diriku melakukan satu hal yang barangkali, jika kau tahu, kau akan menganggapku gila: menghitung napasmu.
Kalandra namaku. Ibuku bilang itu berarti penerang. Namun di hadapanmu, aku hanyalah bayang-bayang yang betah menetap di sudut-sudut kecil hidupmu. Dan kau, Elara. Nama yang tak pernah kutemukan dalam buku telepon lama atau daftar absensi mana pun di kota ini. Kau seperti penemuan purba yang baru saja disingkap dari lapisan tanah paling lembut.
Aku senang memperhatikanmu saat tidur. Terutama saat kau terlelap begitu dalam hingga mulutmu sedikit menganga—sebuah detail kecil yang bagi orang lain mungkin tidak estetis, namun bagiku adalah sebuah undangan. Di sanalah aku melihatnya: sebuah ceruk sunyi di balik barisan gigimu yang rapi. Tempat yang cukup luas untuk menampung seluruh kecemasanku.
Aku sering berkhayal, andai aku bisa mengecil hingga seukuran butir debu, aku ingin membangun rumah di sana. Di belakang gigimu. Aku ingin menyusun dinding dari sisa-sisa bisikan yang belum sempat kau ucapkan. Aku ingin menjadi penjaga bagi setiap kata yang akan keluar dari mulutmu, memastikan tak ada luka yang kau telan sendiri, atau memastikan tak ada janji yang lepas sebelum ia benar-benar matang.
Mengapa aku ingin tinggal di sana? Karena aku banyak takutnya, Elara.
Ketakutan itu seperti rayap. Ia bekerja tanpa suara, tahu-tahu tiang penyangga hatiku sudah keropos. Aku takut kehilanganmu sekali lagi. Pernah suatu masa, kau pergi ke kota seberang hanya untuk satu minggu, dan aku merasa seperti astronot yang talinya terputus dari stasiun luar angkasa. Melayang, hampa, tanpa oksigen. Patah hati karena kecemasan sendiri adalah jenis luka yang paling memuakkan—tak ada yang bisa disalahkan kecuali harapan yang tumbuh terlalu subur tanpa pupuk yang jelas.
Bagiku, kau adalah orang favorit nomor satu. Dan jika dunia memaksaku untuk membuat daftar hingga sepuluh, maka nomor dua hingga seribu hanyalah namamu. ELARA. Huruf besar semua. Seolah-olah jika ditulis dengan huruf kecil, namamu tak akan sanggup menanggung beban cinta yang kupanggul sendirian.
“Kalandra, kenapa kau melihatku seperti aku ini sebuah teka-teki silang yang sulit?” tanyamu suatu sore di beranda, memandangi langit yang warnanya seperti memar—ungu dan biru yang beradu.
“Karena kau memang sulit dijawab,” sahutku pelan. “Tapi aku tidak ingin menyelesaikannya. Aku hanya ingin terus memegang pensil dan menghapus setiap kesalahan yang mungkin kubuat di atas kotak-kotak namamu.”
Kau tertawa. Tawa yang terdengar seperti gemerincing kunci yang jatuh di atas lantai marmer. Dingin, namun nyata. “Hiduplah terus, Kalandra. Ada terus. Jangan jadi hantu sebelum waktunya.”
“Aku ingin ada terus untukmu, Elara. Seribu tahun lagi. Aku ingin kita seperti tokoh kartun di televisi itu. Kau tahu, yang meski jatuh dari tebing berkali-kali, kepalanya tertimpa piano, atau tubuhnya gepeng dilindas truk, di adegan berikutnya ia akan kembali utuh. Tertawa lagi. Mengejar matahari lagi.”
Malam ini, ketika kau tertidur dengan posisi favoritmu—tangan kanan di bawah bantal dan mulut yang sedikit terbuka—aku mencoba cara baru untuk mencintaimu. Aku memejamkan mata, berusaha menyelaraskan ritme napas dengan dadamu yang naik-turun. Aku ingin kita menjelajahi alam mimpi bersama.
Dalam kepalaku, aku menggandeng tanganmu. Kita tidak berjalan di atas trotoar yang penuh abu rokok. Kita terbang. Bukan dengan sayap yang megah, melainkan karena tubuh kita tiba-tiba seringan kapas yang ditiup angin sore. Kita bermain-main di awan yang rasanya seperti kembang gula, lalu tanpa takut, terjun bebas menuju dasar samudra.
Di bawah sana, air tidak membuat kita sesak. Kita bernapas melalui pori-pori kulit, berenang di antara terumbu karang yang bercahaya, melewati ikan-ikan yang tak punya nama dalam buku biologi mana pun. Lalu, perlahan, aku merasakan tubuh kita memudar. Kita kehilangan batas kulit. Molekul kita pecah, menguap, dan naik kembali ke permukaan hingga ke langit hitam yang pekat.
Kita berubah menjadi bulir hujan. Bulir yang telah lama dirindukan oleh tanah yang pecah-pecah. Setelah musim kemarau yang seolah tak punya ujung, kita jatuh sebagai berkat. Deras jatuh, deras jatuh.
“Dengar, Elara,” bisikku dalam imajinasi itu. “Kita sedang menyirami bunga-bunga yang hanya mekar di hutan raksasa dalam pikiran kita sendiri.”
Namun, saat aku membuka mata, aku masih berada di kamar yang sama. Di sampingmu yang masih terlelap. Cahaya lampu jalan masuk melalui celah gorden, menciptakan garis-garis panjang di wajahmu.
Aku kembali melihat mulutmu yang menganga itu. Tempat longgar itu masih ada di sana. Godaan untuk benar-benar menetap di belakang gigimu kembali muncul. Bukan sebagai parasit, melainkan sebagai solilokui—sebuah percakapan panjang dengan diri sendiri yang dilakukan di dalam tubuh orang lain.
Ada sesuatu yang tak bisa lepas dari dadaku setiap kali melihatmu begini. Sebuah pengakuan yang mungkin terdengar ganjil: aku menyerahkan kunci rumahku kepadamu dengan sukarela, meski aku tahu kau mungkin tak pernah berniat untuk membukanya.
“Bawalah kembali jiwa yang luka ini, Elara,” bisikku pada udara kosong di antara kita.
Perasaan yang lemah ini, yang sering kali gemetar hanya karena takut kau akan bangun dan melupakan namaku, adalah beban yang tak sanggup kupanggul sendiri. Aku menyentuh sendiriku dalam sunyi. Merasakan betapa rapuhnya garis antara keberadaan dan ketiadaan.
Aku teringat saat-saat di mana aku merasa begitu kecil. Saat dunia di luar menuntutku menjadi kuat, menjadi pemimpin, menjadi penentu arah. Namun di hadapan tidurmu yang jujur, aku hanya ingin menjadi sesuatu yang sederhana. Sesuatu yang tak perlu didefinisikan oleh pencapaian. Aku ingin menjadi keheningan yang menjagamu.
Jika nanti pagi tiba, dan kau terbangun dengan rasa haus, kau akan meneguk segelas air. Dan aku berharap, dalam setiap tegukan itu, ada bagian dari diriku yang ikut masuk ke dalam pembuluh darahmu. Menetap di sana, mengalir ke jantungmu, dan memastikan bahwa detaknya masih menyimpan sedikit ruang untuk namaku.
“I’d like to watch you sleeping,” gumamku sekali lagi, hampir seperti mantra.
Tidurmu adalah sebuah puisi yang tak pernah selesai kubaca. Setiap tarikan napas adalah bait baru, dan setiap gerakan kecil kelopak matamu adalah tanda baca yang membuatku harus berhenti sejenak untuk meresapi maknanya.
Aku tahu, suatu hari nanti, waktu akan menagih janji pada tubuh kita. Kita mungkin tidak akan benar-benar hidup seribu tahun lagi seperti tokoh kartun. Tulang kita akan merapuh dan ingatan kita mungkin akan saling berhamburan seperti daun kering ditiup badai. Namun, selama aku masih bisa melihatmu menganga dalam tidurmu, selama aku masih bisa menemukan ceruk tersembunyi di belakang gigimu, aku akan merasa aman.
Sebab di sanalah aku telah membangun sebuah dunia. Dunia di mana tidak ada musim kemarau, hanya ada hujan deras yang kita ciptakan dari penguapan cinta yang terlalu penuh.
Elara sedikit bergerak. Ia menutup mulutnya, lalu berbalik membelakangiku. Tempat longgar itu kini tertutup rapat. Aku tersenyum tipis, merapatkan selimut ke bahunya.
Biarlah. Besok malam, aku akan menunggu lagi. Menunggu waktu di mana ia menyerah pada kantuk, dan membiarkanku kembali masuk ke dalam istana kecil di balik geliginya. Tempat di mana jiwaku yang lelah bisa beristirahat, dan sunyi tak lagi terasa menyakitkan.
Malam semakin larut. Di luar, hujan benar-benar turun. Mungkin itu adalah kita yang baru saja pulang dari samudra mimpi, jatuh menyentuh bumi, menyirami bunga-bunga tanpa nama yang mekar di halaman hati yang paling raksasa.