Cerita Fiksi

Mural untuk Kampung Kelabu

Mural untuk Kampung Kelabu
Ilustrasi gambar dari cerpen Mural untuk Kampung Kelabu (Gemini AI/Nano Banana)

Di gang sempit Kampung Peneleh, Surabaya, tembok-tembok tua berdiri seperti saksi bisu yang lelah. Catnya mengelupas, memperlihatkan batu bata retak yang ditumbuhi lumut hitam. Abu-abu kusam menyelimuti segalanya, seolah warna telah lama meninggalkan kampung ini. Setiap pagi, Mbok Siti, 68 tahun, menyapu halaman rumah kayu tua sambil menghela napas panjang. “Dulu warnanya cerah, Nak. Merah, kuning, hijau… Sekarang yo mung kelabu wae,” katanya pelan pada cucunya, Rina, yang baru pulang dari Jakarta.

Rina, 24 tahun, baru saja mengundurkan diri dari pekerjaan kantor di ibu kota. Hiruk-pikuk Jakarta membuatnya lelah jiwa raga. Pulang ke Peneleh, kampung kelahirannya di tepi Kali Mas, ia justru merasa asing. Gang-gang masih sempit, kumuh, dan sepi semangat. Gedung-gedung tinggi menjulang di kejauhan, tapi di sini waktu seolah berhenti. Pasar Buah Peneleh masih ramai dengan pedagang sayur dan buah, tapi wajah warga tampak letih, seperti tembok-tembok di sekitarnya.

Suatu malam, Rina duduk di teras rumah sambil memandang tembok depan. Di sana samar-samar terlihat coretan lama: burung Garuda yang sayapnya sudah pudar, hampir hilang ditelan waktu. Ia teringat cerita Mbok Siti tentang mural-mural tahun 90-an yang dulu menghiasi setiap sudut gang. “Anak muda kampung dulu suka gotong royong ngecat bareng. Simbol semangat kita,” kata Mbok Siti dulu. Sekarang, hanya noda hitam dan coretan tak jelas yang tersisa.

Ide itu muncul tiba-tiba, seperti percikan api di kegelapan. Rina mengambil ponselnya dan mencari komunitas seni jalanan Surabaya di Instagram. Tanpa pikir panjang, ia mengirim pesan: “Mau bikin mural di Peneleh lagi. Boleh bantu?”

Dua hari kemudian, tiga pemuda datang ke gang itu. Dika, pelukis jalanan berbadan tegap dengan lengan penuh tato; Anya, mahasiswa Institut Seni Indonesia Surabaya yang rambutnya diikat asal; dan Bima, tukang cat yang biasa membantu warga memperbaiki rumah. Mereka berdiri di depan tembok kusam, mengamati retakan dan lumutnya, lalu tersenyum lebar. “Ini kan cerita Surabaya, Mbak,” kata Dika sambil mengusap dagunya. “Rumah lahir Bung Karno, Masjid Jami’ Peneleh, makam Eropa heritage, Kali Mas… Kita bangkitkan lagi dari kelabu ini.”

Warga awalnya ragu. Pak RT menggeleng-geleng kepala. “Buang-buang cat dan tenaga saja, Rin. Kampung kita sudah begini dari dulu.” Beberapa ibu-ibu ikut bergumam, takut hasilnya tak rapi atau malah merusak tembok tua. Tapi Rina tak menyerah. Ia mengajak tetangga rapat kecil di pos ronda malam itu. Lampu neon redup menyinari wajah-wajah lelah.

“Ini bukan cuma ngecat tembok, Pak, Bu,” kata Rina dengan suara mantap, meski hatinya berdegup kencang. “Ini cerita kita. Cerita Peneleh yang pernah penuh semangat. Kalau temboknya bangkit, kita juga bangkit. Anak-anak kita bisa bangga, wisatawan datang, ekonomi gerak sedikit.”

Perlahan, keraguan itu luntur. Gotong royong dimulai. Anak-anak kecil membersihkan lumut dengan sikat kasar, ibu-ibu menyediakan air putih dan teh manis hangat, bapak-bapak mengangkut ember cat dari ujung gang. Dana dikumpulkan dari iuran kecil warga dan donasi komunitas seni online yang Rina promosikan lewat Instagram.

Tema muralnya sederhana namun penuh makna: “Peneleh Bangkit”. Dika menggambar garis besar di tembok sepanjang 25 meter. Siluet Bung Karno kecil di rumah kelahirannya yang sederhana di Jalan Pandean, Masjid Jami’ Peneleh dengan kubah emasnya yang megah, pemakaman Eropa yang kini jadi situs heritage, dan warga berpegangan tangan melintasi Kali Mas. Warna dominan merah putih, hijau daun pohon kelapa, kuning matahari pagi Surabaya.

Pengecatan dimulai Sabtu pagi. Musik gamelan pelan mengalun dari speaker kecil milik Bima. Rina memegang kuas pertama, menyentuh tembok dengan tangan sedikit gemetar. Cat putih dasar menutupi kelabu yang sudah puluhan tahun menggerogoti. Lalu merah menyala, biru langit, kuning cerah. Bau cat tembok basah bercampur aroma gorengan dan kopi dari warung tetangga. Tawa anak-anak yang biasanya jarang terdengar kini ramai memenuhi gang.

Hari demi hari, tembok berubah warna. Gang yang dulu sepi kini hidup. Wisatawan lokal mulai mampir, tertarik foto di Instagram dengan tagar #PenelehHeritage. Anak-anak berpose di depan burung Garuda yang kini sayapnya kembali tegar. Pedagang es kelapa dan rujak laris manis. Mbok Siti berdiri di teras, tersenyum lebar sambil mengipas-ngipas. “Ini baru Peneleh yang dulu, Nak.”

Tapi tantangan datang tanpa ampun. Seminggu sebelum selesai, hujan deras mengguyur Surabaya selama tiga hari berturut-turut. Air mengalir deras di gang sempit, membuat cat basah luntur di beberapa bagian. Warna merah putih meleleh seperti air mata. Warga panik. Rina duduk di teras, basah kuyup, hampir menyerah. “Mungkin ini pertanda, Dik. Mungkin kampung ini memang takdirnya kelabu,” katanya pada Dika dengan suara parau.

Dika menggeleng tegas, matanya tetap berapi-api. “Tembok ini sudah bertahan ratusan tahun, Mbak. Dari zaman Majapahit sampai sekarang. Hujan cuma ujian kecil. Kita ulang lagi, pakai cat tahan air kali ini. Semangatnya jangan luntur.”

Mereka mulai lagi. Kali ini dengan tekad lebih kuat. Mahasiswa dari Universitas Ciputra datang membantu, menambahkan mural kecil tentang lawan stunting: gambar matahari terbit dan tempe masak yang menggambarkan kesehatan serta harapan. Gotong royong semakin membara. Bahkan Pak RT ikut memegang kuas, meski tangannya sudah keriput.

Akhirnya, mural selesai. Malam peresmian, lampu sorot dari komunitas menyinari tembok panjang itu. Warna-warni menceritakan sejarah perjuangan, gotong royong, dan masa depan yang lebih cerah. Warga bertepuk tangan riuh. Mbok Siti menangis haru sambil memeluk Rina. “Terima kasih, Nak. Tembok ini hidup lagi… dan hati kita juga.”

Rina memandang mural yang kini bersinar di bawah lampu. Ia tak lagi merasa asing di kampungnya. Bau cat yang masih samar tercium, suara gamelan masih bergema pelan. “Kita yang bangkit, Mbok. Bukan cuma temboknya.”

Kini, setiap pagi, anak-anak lewat sambil menyapa burung Garuda di tembok. Wisatawan berfoto, pedagang kecil tersenyum lebih lebar. Ekonomi kampung bergerak pelan tapi pasti. Gang sebelah mulai merencanakan mural sendiri. Semangat itu menyebar seperti warna di tembok. Peneleh bukan lagi kampung kelabu yang terlupakan di tengah beton kota. Ia kini kampung yang bangkit, dengan mural yang tak lagi pudar—simbol bahwa warna, harapan, dan gotong royong bisa mengubah nasib sebuah kampung.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda