Cerita Fiksi

Sinyal di Kepala Fiki

Sinyal di Kepala Fiki
Ilustrasi Sinyal di Kepala Fiki (Gemini AI)

Gumpalan awan hitam bergulung-gulung, turun makin rendah hingga rasanya seujung kuku lagi menyentuh ubun-ubun. Napas Fiki sesak, dadanya seperti dihantam beton.

"Aaaargh! Awas kejatuhan awan!"

"Berisik lo, Fik!" Arha bersungut-sungut kesal dari ranjang bawah. Ia baru saja melempar bantal guling demi membungkam igauan Fiki yang tidur di tingkat dua ranjang susun mereka.

Fiki terbangun dengan napas memburu. Jantungnya berdegup kencang, dan yang paling parah, pelipisnya berdenyut hebat. Ada suara mendengung aneh di telinganya, mirip radio rusak yang mencari sinyal.

"Ini ... jam berapa, Ar?" tanya Fiki sambil memijat dahinya.

"Baru jam tiga. Lo mimpi apaan, sih? Sampai teriak gitu," omel Arha, melirik jam dinding kamar kos mereka.

Fiki mengerjapkan mata. Kamar mereka gelap, tapi di dalam kepalanya, potongan-potongan visual aneh mendadak berputar lambat.

 "Ar, ntar siang di kantin, lo jangan nanya macam-macam ke Vina. Kecuali lo kepengen diguyur es teh."

"Ha? Maksud elo?" Arha langsung menegakkan posisi duduknya. Vina adalah cewek kelas sebelah yang sudah sebulan ini ia incar untuk ditembak. "Kenapa bawa-bawa Vina?"

"Terus ... ntar siang nggak ada bakwan udang. Wak Ale libur nggoreng," gumam Fiki lagi, tanpa memedulikan pertanyaan sahabatnya. Suaranya melemah seiring rasa kantuk yang kembali menyerang, akibat kepalanya teramat berat.

"Woi, Fik?! Lo meramal atau masih ngigau?" 

Arha penasaran, langsung memanjat tangga ranjang susun. Begitu melongok, Fiki ternyata sudah pulas lagi dengan napas teratur.

"Sialan, ni anak. Beneran ngigau ternyata," sungut Arha, kembali turun ke kasurnya.

Ia tidak pernah tahu, di dalam kepala Fiki yang sedang terlelap, frekuensi radio rusak itu perlahan mulai menemukan gelombangnya.

**

Keriuhan melingkupi gedung SMA Bangsa. Hari ini adalah hari kelulusan kelas XII. Euforia coret-coret seragam dan tawa lepas terdengar di setiap sudut sekolah. Mereka bersiap melepas atribut pelajar dan menyongsong dunia perkuliahan.

Fiki dan Arha menonton keramaian itu dari teras kelas XI-A. Kelas mereka sedang jam kosong.

"Gue denger dari anak-anak, si Arman dkk mau konvoi bentar lagi," kata Arha sambil menunjuk ke arah lapangan parkir dengan dagunya. Fiki menoleh.

"Bukannya sekolah udah ngelarang keras konvoi?"

"Halah, lo kayak kagak tahu songongnya si Arman aja. Mana dia peduli aturan," cibir Arha.

Apa yang dikatakan Arha memang benar. Arman selama ini kerap melanggar aturan, tanpa tindakan berarti dari pihak sekolah. Suatu kenyataan yang pahit, karena ternyata ia dilindungi oleh sikap arogan ayahnya, yang merupakan pejabat di kota mereka. Konon, Ketua Yayasan Bangsa yang menaungi sekolah, pernah mendapat intimidasi ketika hendak mengeluarkan anak itu akibat kelakuan minusnya. 

Fiki diam mendengar komentar Arha. Pemuda beralis tebal ini cuma menatap Arman yang sedang tertawa jemawa di atas motor gedenya. Kakak kelasnya itu bukan orang ramah. Meskipun wajahnya lumayan tampan, ia justru ditakuti para cewek karena perilakunya kasar. Setidaknya itulah cerita yang didengar Fiki, dari celotehan para cewek di kantin. 

Tiba-tiba dengungan di telinga Fiki dinihari tadi, kembali menghantam. Kepalanya mendadak pening luar biasa. Pandangannya kabur, berganti dengan kilatan gambar berdarah: motor sport hitam yang hancur, jalan raya yang macet, dan tubuh Arman yang terkapar tak bergerak di aspal.

Fiki tersentak, napasnya memburu. "Ar... Arman bakal kecelakaan!"

Arha meninju bahu Fiki. "Omongan lo serem amat, ah! Kayak dukun."

"Gue serius, Ar! Gue baru aja... gue kayak liat dia tergeletak di jalan. Banyak darahnya!" Fiki mengusap wajahnya yang mendadak pucat. "Gue harus ngomong ke dia."

Fiki langsung melangkah lebar memotong lapangan, menghampiri kerumunan kelas XII. Arha panik dan langsung menyusul. 

"Eh, tunggu Fik! Jangan cari ribut! Lo lupa apa, dia dendam sama lo gara-gara Sabrina?!" 

Sabrina adalah cewek berparas manis dari kelas XI-B. Suatu hari Arman pernah menghadang cewek itu di koridor menuju laboratorium. Ia memaksa Sabrina memberikan nomor teleponnya, yang ditolak mentah-mentah oleh cewek itu. Saat Arman memaksa, muncul Fiki yang melerai dan menyelamatkan Sabrina. 

Namun Fiki tak peduli pada peringatan kawannya. Begitu sampai di depan gerombolan bermotor itu, Arman langsung menyeringai sinis ke arahnya. 

"Mau ngapain lo? Mau ngasih tanda tangan di seragam gue? Sorry, gak level," sembur Arman. Kawan-kawannya tertawa riuh dan mengejek Fiki. 

Fiki menarik napas dalam-dalam, mengabaikan ejekan itu. "Man, batalin rencana konvoi lo. Ini demi keselamatan lo pada. Jangan lewat jalur lingkar luar."

Mata Arman mendelik. Senyum sinisnya hilang. Ia turun dari motor, melangkah lebar-lebar, lalu membetot kerah seragam Fiki dengan kasar. "Anjir! Lo nyumpahin gue mati, hah?! Maksud lo apa, bangsat?!"

"Woi, lepasin! Jangan main fisik, dong!" Arha datang melerai, mencoba melepaskan cengkeraman tangan Arman. Ketegangan itu mulai memancing perhatian siswa lain.

Fiki tetap menatap mata Arman dengan tenang, meski kerahnya dicekik. "Gue nggak nyumpahin. Gue cuma ngasih tahu. Terserah lo mau percaya atau enggak."

Arman mendengus, lalu mengempaskan tubuh Fiki hingga mundur selangkah. "Gak usah sok belagu jadi peramal di depan gue. Lo cuma sirik karena bentar lagi gue bebas, sedangkan lo masih membusuk di sekolah ini!" Arman mengacungkan jari tengahnya sebelum kembali naik ke motor.

"Udahlah, Fik. Yok balik ke kelas. Kepala lo masih pusing, kan?" ajak Arha cemas melihat wajah sahabatnya yang makin pucat. Fiki akhirnya pasrah dan berjalan kembali ke koridor kelas.

Di kelas, Fiki langsung menenggelamkan wajahnya ke lipatan tangannya di atas meja. Kepalanya serasa mau pecah. Sinyal-sinyal masa depan itu berputar kacau di otaknya seperti bioskop rusak. Entah berapa lama ia kesakitan begitu. 

Tahu-tahu Arha duduk di sampingnya dengan wajah syok. Ia mengguncang-guncang bahu Fiki. "Fik! Bangun, Fik! Gila... lo harus tahu!"

Fiki mengangkat kepalanya pelan, matanya merah. "Apa?"

"Gue tadi ke kantin. Demi Tuhan, Wak Ale beneran libur, gak ada bakwan udang! Terus, pas gue ketemu Vina di koridor, baru aja gue nanya nomor WA-nya, dia langsung ngamuk dan nyiram gue pakai es teh gelas! Katanya dia lagi PMS dan benci sama semua cowok hari ini!" Arha histeris, menunjuk seragamnya yang basah dan bernoda cokelat kemerahan.

 "Lo... lo, kok, bisa tahu, Fik?! Lo melihara jin?!"

Fiki tidak menjawab. Jantungnya justru mencelos. Kalau soal bakwan udang dan Vina terbukti akurat maka artinya penglihatan tentang kecelakaan Arman juga nyata.

"Ar, si Arman udah jalan?" tanya Fiki buru-buru.

"Kayaknya bentar lagi. Oh, iya! Ada yang lebih parah, Fik. Tadi gue liat si Sabrina ditarik-tarik sama Arman ke parkiran. Si Arman maksa Sabrina ikut konvoi di motornya. Kayaknya buat pamer atau manasin lo!"

Fiki langsung waspada. Sabrina adalah cewek yang penting di hatinya. Jangan sampai ada sesuatu menimpanya.

"Nah, muka lo kaget. Tenang, Fik, Sabrina nggak bakalan ngeladenin Arman, kok!"

Memang benar, dan itu yang membuat Arman panas hati pada Fiki. Ditambah kenyataan ia akan meninggalkan SMA Bangsa, yang artinya seolah-olah ia mengakui kemenangan adik kelasnya tersebut. Makin menumpuklah kemarahan Arman. 

Deg. Dengungan di telinga Fiki pecah menjadi satu klip video yang sangat jernih di kepalanya. Ia menonton adegan motor Arman tergelincir di bawah truk, dan Sabrina ikut terlempar ke aspal dengan kepala bersimbah darah.

"Nggak!" Fiki menggebrak meja hingga beberapa anak di kelas menoleh kaget. "Nggak! Sabrina nggak boleh ikut!"

Fiki langsung bangkit dan berlari kencang keluar kelas. Rasa pusing di kepalanya mendadak lenyap, digantikan oleh adrenalin yang berpacu liar.

"Fik! Mau ke mana lo?!" teriak Arha sambil ketakutan mengejar di belakang.

Fiki terus berlari menuju pos belakang sekolah. "Gue mau pinjem motor Mang Dedi!"

Penjaga sekolah tersebut tentu saja membolehkan motornya dipinjam oleh Fiki tanpa banyak tanya. Sebab lelaki berkulit gelap itu telah percaya sepenuhnya pada Fiki, siswa yang ringan tangan.

"Fik, jangan gila! Itu takdirnya si Arman, lo gak bisa ikut campur! Itu juga kalo beneran!" Arha menahan lengan Fiki saat mereka sampai di parkiran belakang.

Fiki memakai helm milik Mang Dedi dengan tangan bergetar, lalu menghidupkan mesin motor bebek itu. Matanya menatap Arha dengan kilatan yang belum pernah Arha lihat sebelumnya.

"Ini bukan cuma soal Arman, Ar. Sabrina ada di atas motor itu. Dan gue nggak akan biarin penglihatan gue barusan jadi kenyataan!"

Arha melihat kegilaan sekaligus kesungguhan di mata sahabatnya. Menyadari Fiki tidak akan bisa dicegah lagi dengan kata-kata, Arha mengumpat pelan, lalu dengan cepat melompat ke jok belakang motor Mang Dedi.

"Anjirlah! Ntar kalau lo masuk BK, jangan bawa-bawa nama gue ya!" seru Arha panik sambil menepuk bahu Fiki. "Buruan gas, Fik! Keburu mereka jauh!"

Fiki tidak membuang waktu. Ia langsung menarik gas dalam-dalam. Motor bebek itu melesat keluar dari gerbang belakang sekolah, membelah jalan raya, mengejar takdir buruk yang harus ia patahkan.

Angin jalan raya menghantam wajah Fiki, tapi rasa panas di pelipisnya jauh lebih membakar. Motor bebek Mang Dedi dipaksanya melaju maksimal, meliuk-liuk di antara kemacetan kota. Di belakangnya, Arha pasrah memegangi jaket Fiki sambil terus merapalkan doa.

Jangan terlambat. Jangan terlambat. Kalimat itu berputar seperti mantra di kepala Fiki. Nahas, takdir bergerak lebih cepat dari mesin motor bebek tua. Saat Fiki berhasil mencapai ujung jalan lingkar luar, telinganya menangkap suara yang paling ia takuti. Klakson panjang truk kontainer, disusul dentuman besi beradu yang memekakkan telinga.

BRAAKK!

"Fik! Itu si Arman, Fik!" teriak Arha histeris.

Fiki langsung mengerem mendadak. Di persimpangan depan, sebuah truk kontainer terhenti melintang. Di bawah bannya, motor sport hitam milik Arman ringsek. Aspal jalanan dipenuhi pecahan kaca, coretan pilox kelulusan yang kini ternoda, dan kepulan asap. Orang-orang mulai berlarian mendekat, berteriak panik.

Jantung Fiki rasanya berhenti berdetak. Ia melompat dari motor bahkan sebelum standar terpasang sempurna. Ditembusnya kerumunan orang yang mulai mengerumuni lokasi kejadian.

Di sana, Arman tergeletak tak jauh dari motornya, mengerang kesakitan dengan kaki yang patah. Persis seperti potongan gambar yang Fiki lihat di kelas. Namun, fokus mata Fiki langsung menyisir area sekitar.

Di mana Sabrina?

"Fik, si Sabrina mana?!" Arha menyusul dengan napas tersengal, wajahnya pucat pasi melihat darah di aspal.

Orang-orang sibuk mengerubungi Arman, sementara yang lain berteriak histeris melihat ke arah truk. Tak ada yang menyadari keberadaan Sabrina. Namun, kilatan penglihatan yang sempat mampir di kepala Fiki di kelas tadi mendadak memutar satu detail spesifik yang terlewat: Sabrina terlempar melompati pembatas jalan ke arah semak-semak.

Tanpa ragu, Fiki berlari menjauh dari kerumunan, melompati pagar pembatas jalan, dan menerobos semak belukar di tepi parit.

"Sabrina!" teriak Fiki parau.

Benar saja. Di balik rimbunnya tanaman liar, Sabrina tergeletak pingsan. Agaknya kepala gadis itu membentur beton parit, sehingga mengeluarkan darah segar yang terus mengalir membasahi seragam putihnya.

"Ya Allah, Sabrina!" Arha yang ikut melompat terpekik menahan mual melihat kondisi cewek itu. "G-gue panggil ambulans, Fik! Gue panggil orang-orang!"

"Nggak sempat, Ar! Ambulans bakal telat karena macet!" Fiki berlutut di samping Sabrina. Tangannya gemetar hebat, tapi suara radio rusak di kepalanya mendadak berhenti, digantikan oleh ketenangan yang dingin dan asing.

Fiki teringat potongan gambar terakhir di kepalanya, Sabrina kehilangan banyak darah dari kepala belakang karena posisinya yang telentang.

"Ar, lepas seragam lo! Lipat jadi bantalan tebal!" perintah Fiki cepat. Ia sendiri segera mengambil posisi berlutut di bagian atas kepala Sabrina. Kedua telapak tangannya memegangi sisi kanan dan kiri kepala cewek itu dengan kokoh—menguncinya agar leher Sabrina sebisa mungkin tetap lurus dan tidak bergeser.

"Sekarang selipin kainnya lewat celah bawah leher, Ar. Pelan-pelan, dorong dikit ke atas sampai pas di bawah lukanya. Jangan sampai kepalanya keangkat!"

Arha yang gemetaran segera menuruti perintah. Dengan hati-hati, ia menyelipkan lipatan kemeja putihnya melalui lekukan di bawah leher Sabrina, lalu menggesernya ke posisi luka di kepala belakang. Begitu kain sudah pas di posisinya, Fiki menyusupkan jari-jarinya ke bawah kain, lalu menekan luka itu kuat-kuat ke arah tanah, memanfaatkan bobot kepala Sabrina sebagai penahan.

"Ar, sekarang lo gantiin tangan gue. Pegang kepalanya kayak gini, tekan kainnya dari bawah, jangan sampai lepas!"

Cowok cungkring tersebut sekali lagi menuruti instruksi, meskipun tangannya gemetar. Ia melawan rasa ngerinya melihat kondisi Sabrina. Sedangkan Fiki perlahan menarik tangannya yang kini sudah basah oleh darah hangat.

Selanjutnya Fiki tidak diam saja. Ia segera mendekatkan telinganya ke hidung Sabrina, memastikan embusan napas cewek itu masih terasa. Dadanya pun masih naik-turun, meski pendek-pendek. Dengan jarinya, Fiki menyeka sisa darah yang mengalir di sudut bibir Sabrina agar tidak menyumbat tenggorokannya.

Setelah memastikan jalan napas Sabrina aman, Fiki menegakkan tubuh. Ia menoleh ke arah kerumunan di jalan raya yang semakin bising.

"Ar, tetep di sini, fokus ke Sabrina. Jangan dengerin yang lain," tegasnya. 

Ia lalu berdiri di depan mereka berdua, melebarkan kedua lengannya untuk menghalau beberapa warga yang mulai berdatangan ke lokasi Sabrina. 

"Mundur! Tolong mundur semuanya! Kasih ruang buat napas!" teriak Fiki lantang, suaranya membelah keributan. Wajahnya yang biasa tenang kini tampak begitu tegas, membuat orang-orang yang mendekat spontan menghentikan langkah.

Sambil menjaga area itu tetap steril, mata Fiki terus mengawasi jalan raya, menghitung detik demi detik sampai raung sirine ambulans yang ia tunggu-tunggu akhirnya terdengar dari kejauhan.

Tim medis bergegas turun ke area semak-semak setelah diteriaki oleh orang-orang. Saat petugas medis mengambil alih dan memasang penyangga leher pada Sabrina, salah satu petugas menatap Fiki dan Arha dengan pandangan kagum.

 "Untung kalian langsung tekan lukanya dan posisi badannya benar. Kalau terlambat semenit saja atau posisinya salah, dia bisa kehabisan darah atau patah leher. Kalian hebat." 

Sabrina perlahan ditandu naik ke ambulans. Kondisinya kritis, tapi dia masih bernapas. Dia selamat.

Fiki terduduk lemas di tanah, menatap kedua telapak tangannya yang masih berlumur darah. Napasnya memburu, tubuh jangkungnya gemetar karena sisa adrenalin. Arha, yang kini hanya kaosan, ikut duduk di sebelahnya. Matanya melebar, menatap wajah Fiki dengan tatapan yang campur aduk—antara ngeri, tidak percaya, sekaligus takjub.

"Fik," panggil Arha, setengah berbisik. "Lo ... lo beneran bisa liat masa depan?"

Fiki tidak langsung menjawab. Ia mendongak, menatap langit siang yang terik. Rasa pusing di kepalanya sudah benar-benar hilang, meninggalkan sebuah ruang kosong yang kini dipenuhi oleh sebuah kesadaran baru yang menakutkan.

Kekuatan ini nyata. Dari mana datangnya? Dan ini baru saja dimulai. Ia menoleh ke arah Arha, lalu tersenyum tipis yang dipaksakan.

"Gue juga gak tahu, Ar. Tapi yang jelas ... mulai besok, hidup kita kayaknya gak bakal normal lagi."

Cilacap, 030626

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda