Cerita Fiksi
Anak Merah Putih di Ujung Sabah
Berjalan melewati batas, tempat itu sudah jauh berbeda. Tak ada sawit lagi yang memuakkan hidupnya, dan kini anak berkebangsaan Merah Putih itu merasakan keadilan yang sesungguhnya di tanah asing. Kemarin, ia pindah bersama bapaknya untuk memulai hidup baru bersama datuknya. Dan hari ini, adalah hari pertamanya menemukan dunia anak-anak seusianya belajar dan bermain, dengan seragam kemeja putih bersih dan celana biru yang sedang ia kenakan kini.
“Yasser! Kau di sini rupanya bah. Sudah lama tak jumpa lagi.” Yasser menoleh keheranan, terdengar ada yang memanggil namanya padahal ia belum juga berbaur.
“Ali, Firman, Latip. Eh, apa kabar?” Sontak wajahnya kaget sekaligus riang.
“Baik. Macam mana kau boleh di sini bah?” ucap bocah tinggi yang berada di tengah, bernama Ali.
Mereka bertiga adalah kawan dekat Yasser semasa sekolah dasar. Yasser berpisah dengan para kawanannya jauh dari perbatasan karena bapaknya harus berada di pedalaman Kalimantan demi menyuburkan sawit. Sementara itu, mereka bertiga tak ada pilihan selain pindah ke Sabah karena tak ada sekolah SMP di desa mereka.
“Aku ikut bapakku tinggal dengan datukku, sebab tulah aku boleh di sini,” Yasser memamerkan senyuman gembiranya, merangkul seluruh temannya. Bersama-sama mereka menapaki tanah di sekolah.
“Wah seronok tu. Di mana kau tinggal sekarang bah?”
“Masih di ujung perbatasan bah. Datukku memang dah lama kerja di sana.”
“Wah, jauh juga kau turun ke sekolah bah,” ucap Firman, si bocah yang nampak paling ujung, menepuk bahu Yasser dengan nada yang luar biasa.
Dalam perjalanan mereka yang selalu bersama, tiba-tiba datang sekumpulan bocah dengan tinggi yang sama persis tak sengaja menyenggol mereka. Ucapan maaf tak sempat tersampaikan. Si anak bertopi miring, memiliki tubuh gagah namun posturnya membungkuk sedikit dengan kedua tangan tersembunyi di dalam saku, menyipitkan matanya. Ia kemudian langsung keluar dari barisan temannya dan maju berteriak dengan kesal.
“Oi! Apa pasal kau langgar aku. Sengaja kah?!”
Firman yang berada paling ujung dan bahunya tak sengaja menyenggol geng anak nakal itu maju dengan mimik serius mendapat teriakan seperti itu.
“Kau jalan tengok mana ha? Tengoklah, aku tak sengaja pun!”
“Kau bohong! Kau mesti sengaja! Aku pernah jumpa kau, macam tak suka tengok muka aku!”
Firman semakin mengerutkan alisnya. Ia tak tahan mendengarkan kebohongan itu terus menjadi, sementara dirinya tak pernah berperilaku seperti itu. Sudah dari pabriknya wajah Firman terlihat sinis. Amarahnya menjerit, menahan tangannya yang bergemuruh. Saat sekali saja ia mencoba melepaskan amarahnya, Ali, Yasser, dan Latip langsung mengekang lengannya.
“Sabar Firman, rileks Man, jangan kau gaduh di sini bah.” Suara Latip bergetar saat menahan tubuh keras Firman.
“Awas korang! Korang mesti tanding dengan kami petang nanti. Kalau korang kalah, korang harus minta maaf ke kami.” Anak bertopi miring itu menggenggam satu guncangan tangannya, bersikukuh membuat perjanjian tak wajar pada lima sekawan tersebut.
“Hmph, korang rasa kami takut. Ok, pukul tiga nanti korang mesti datang on time. Kalau korang kalah, korang kena belanja kami kat kedai Zul.” Ali menerima tantangan itu.
“Ok, jaga korang. Kita tengok siapa nanti yang kalah!”
Padahal Firman yang sudah tenang hingga ia menelan ludahnya tak bisa berkata apa-apa, bahkan yang lain juga tak yakin mampu. Hanya Ali saja yang menatap yakin kepada geng yang melewati mereka dengan penuh percaya diri itu.
“Ali, kenapa kau terima tantangan dorang?? Kita ni cuman berempat, dorang berlima. Macam mana kita boleh menang?” Latip mendorong pundak Ali, dengan marah bertanya-tanya bagaimana nasib mereka nantinya.
“Percayalah Tip, kita masih boleh bertanding macem mana pun kondisi kita. Sisa kekuatan kita ni tak akan boleh terkalahkan. Korang ingat tak berapa banyak kita menang tanding dulu. Macem mana perjuangan kita, masih boleh kita kasi kembalikan lagi.”
Sepertinya pula Ali sudah mirip orator ulung saat ia menatap kembali kedua mata tebal Yasser. Teman mereka yang disebut-sebut kiper andal itu mengangguk tersenyum dengan penuh tekad. Sandiwara saling terikat dan tekad yang bulat itu juga menyatukan tangan mereka dengan kompak, menyatakan tim nusa bangsa walau darah mereka mengalir untuk Sabah.
Latihan demi latihan terus memakan waktu, dengan cepat membawa mereka pada pertandingan yang telah dijanjikan. Bola sudah di tengah, dan Ali tentu yang akan selalu memimpin. Gol sudah berusaha hampir menyela skor tertinggi mereka. Keringat sudah di ujung. Sebuah tendangan melesat kencang ke ujung perbatasan, artinya bola tengah bergilir pada area Ali dan para kawanannya.
Pertandingan ini tidak berakhir dengan waktu, tapi Yasser sudah beberapa kali menangkap bola demi menyelamatkan skor. Hingga akhirnya mereka tetap tak bisa menggapai tendangan mematikan anak asli Sabah itu, puncaknya bola melambung jauh.
“Cepat ambil bola itu! Tanding belum habis lagi bah!” teriak pemimpin tim Sabah yang memiliki mata sedikit sipit, mengejar kawannya yang menendang tadi. Yasser tahu ia harus mencari titik mendaratnya bola sepak itu.
Napas Firman dan Latip kembang kempis, dari tadi mereka berusaha menghalau para musuh. Sementara itu, Ali masih memiliki larian kuat mengikuti jejak Yasser. Mereka bersama-sama menyusuri perumahan desa, mengetahui ke mana arah bola tadi melambung.
“Alamak, kempes.”
“Ali cepat, kita kena pergi sekarang!” Tubuh Yasser mulai bergetar ketakutan sambil menarik lengan Ali, matanya membelalak melihat jendela yang pecah akibat tendangan tadi.
“Apa!! Kenapa boleh jadi macem ni!!”
Di sisi lain, Abdul, si pemilik bola, kepalanya tak dapat bergeming lagi. Ia menyentuh bola satu-satunya yang kini telah hancur.
“Tadi bola ni kasi pecah cermin rumah orang. Sebab tu lah boleh jadi macem ni.” Yasser menunjuk perumahan, salah satunya yang paling ujung karena dekat dengan lapangan tadi. Walaupun memang jauh, tapi sekuat itu tendangan Kasim.
“Kasim!! Apa pasal kau sepak bola tu jauh-jauh!!?” Abdul menangis sejadi-jadinya meratapi kehancuran bolanya, menyalahkan semua ini atas kesalahan anak lincah itu, si Kasim. Dia menggoyangkan bahu temannya dengan amarah yang diiringi tangisan.
“Rumah macam mana itu, warnanya coklat tak?” tanya sang kiper musuh mereka yang wajahnya mulai panik. Ia menghampiri perkumpulan itu atas desakan Abdul. Ali mengangguk, begitu pula dengan Yasser.
“Alamak. Kucingku sudah kelaparan!” Kapten dari mereka yang melihat bahwa ini adalah tanda bahaya, kemudian kabur begitu saja sampai terbirit-birit.
“Eh Wawan, tunggu aku bah!!” Satu per satu dari mereka semua pergi meninggalkan lapangan. Terutama Abdul, ia menjadi sangat ketakutan dan mengejar Kasim akibat bola yang dipegangnya.
Mereka tahu, rumah itu adalah milik bapak tua yang hidup sendiri dan berlakon pemarah. Ia sering kali menjadi perbincangan tetangga yang memilih menjauhi area tersebut. Karena, sekali saja masuk atau memegang area dari rumah tersebut, teriakan menyeramkan akan selalu menghantui siapa saja yang melakukannya. Apalagi dengan terpecahnya kaca jendela, entah bagaimana lagi ledakan amarah bapak tersebut. Pantas saja anak-anak Sabah itu lari ketakutan.
“Oi!! Tanding belum habis ni, korang mesti minta maaf sama kami dan orang itu juga!!” Teriakan Ali semacam seruan hewan purba yang mampu menggemakan seluruh area lapangan.
“Ali, macem mana ni. Pak Ahmad mesti marah tengok cermin rumahya. Takut aku bah!” Latip menahan dadanya yang berdebar sambil menengok ke belakang. Lewat sedikit kedipan matanya, ia tak bisa membayangkan akan seperti apa wajah pria tua yang sangat galak itu. Entah, jika pria itu datang, mungkin dia akan menjewer telinga mereka satu per satu. Namun yang terjadi, Ali justru mengejar mereka, menagih janji yang telah dibuat.
“Yasser, kau boleh kah? Kau cuba minta maaf.”
“Aihh, aku takut bah. Sepatutnya dorang yang minta maaf. Kalau macem tu, Firman, kau mesti temani aku nanti.”
“Eh, dah lewat masa ternyata ni. Aku tak boleh lah. Mamak aku mesti marah bila aku balik lambat.”
“Eh Firman! Latip, ke mana juga kau bah?”
“Aku nak pergi ke tandas lah, kalau kau tak boleh pergi minta maaf pun tak apa.”
“Apa!” Yasser mulai berdegup kencang ditinggalkan sendirian setelah dua sosok temannya menghilang dengan banyak alasan. Menoleh sedikit ke belakang saja, ia sudah tahu betapa menyeramkan akibatnya nanti jika ia berani-berani ke sana. Tapi ia tak bisa diam, bapaknya selalu mengajarkan tentang maaf, dan dia harus meminta maaf kalau sudah seperti ini jadinya.
Sore yang memudar dan akan segera gelap membawanya pada arus angin malam yang sedikit menenangkan batinnya. Ia datang dengan jaket biru muda membawakan sebuah bekal kepada datuknya yang sedang berjaga.
“Ah, cucu datuk datang juga. Kenapa muka kau tak ada senyum langsung ni?”
Di sebuah pos yang mengarungi rasa malam yang tenang, Yasser bisa merasakan senyaman apa duduk menghadap langit kosong sembari menyaksikan jalanan seberang yang berlubang-lubang. Seperti inilah setiap hari, setiap malam ketika datuknya mendapatkan giliran menjaga, harus selalu siaga tanpa tidur menunggu orang yang akan masuk melewati perbatasan.
“Tak ada apa Tuk. Yasser takut tak boleh minta maaf, sebab bola kami terlanggar cermin rumah Pak Ahmad sampai pecah.”
“Jadi kau takut minta maaf. Ah sudahlah, tak usah kau pikirkan sangat. Orang tua tu memang tak suka diganggu saja. Aslinya makin geram sebab jiran-jiran mulai bercakap pasal dia, dan sebab tulah ia makin pemarah.”
Yasser menatap sekali lagi pada wajah datuk, sang pria tua penjaga aktif tanpa kenal lelah itu mulai melahap sayur kangkungnya.
“Macem mana Yasser, kau dah betah tinggal di Sabah ni bah?”
“Mestilah datuk. Dekat sini Yasser boleh jumpa kawan-kawan lama Yasser. Yasser tak suka tinggal dekat sana dulu, sekolahnya pun selalu rusak.”
“Syukurlah. Datuk pun suka betul tinggal dekat sini. Kadang-kadang datuk berfikir, kenapa mesti ada yang namanya perbatasan. Sepatutnya kita boleh bersatu lagi, termasuk dorang dekat sana. Datuk pun kesian masa dulu datuk dekat sana, datuk tak pernah senyaman ini hidup dengan duit berbeda,” ucap pria berkumis putih itu. Matanya menatap lebar, mengangkat telunjuknya pada kegelapan jalanan hutan di depan sana yang merupakan tanah kelahirannya.
Yasser tahu, dia seharusnya tak berpikir bahwa tanah kelahirannya ada di seberang sana. Ia seharusnya tak mengenal perbatasan. Tapi datuknya sudah dari dulu menyaksikan perbatasan yang kadang juga bisa berubah. Namun, dia tetap berdiri di tanah yang sama, dengan keadaan yang berbeda.