Cerita Fiksi

Debur Timba dan Rahasia yang Menikam Jiwa

Debur Timba dan Rahasia yang Menikam Jiwa
suasana menimba air (gemini)

Debur timba itu adalah sebuah keistikamahan yang sudah berjalan selama tiga bulan. Tidak ada yang spesial dari suara debur air itu, begitu pun "orkestra" karet dan besi saat ditarik, menghasilkan suara ngik-ngik yang pilu. Di tengah dinginnya desa yang menusuk, Mbok Lantrah berdiri seorang diri. Ia tidak menimba untuk berwudu, melainkan untuk mandi wajib.

Di desa ini, gosip adalah satu-satunya hiburan yang lebih murah daripada harga cabai di pasar. Lek Sutres, Mbak Wantik, dan Bu Henik adalah "komentator" ulung yang menghabiskan hari-harinya di lapak sayur Mas Danang. Bagi mereka, hidup di desa yang tenang ini butuh bumbu, dan Mbok Lantrah adalah sasaran empuk.

"Mbah, njenengan wudu saja dulu. Nimbanya nanti-nanti saja. Kami buru-buru, mau wajib," celetuk Mbak Wantik suatu pagi di sumur umum.

Mbok Lantrah menghela napas, jemarinya yang keriput mencengkeram tali timba. "Saya juga wajib ini, Tik. Saya duluan yang datang."

"Masalahnya, nimbanya lama sekali. Kita urunan beli mesin sanyo saja Mbah tolak, jadinya antre begini," sahut Bu Henik dengan tatapan menyelidik. "Eh, sebentar. Mbah mandi wajib? Tadi malam ada tamu, ya?"

Mbok Lantrah membeku. Ia hanya diam, membiarkan keraguan itu menggantung di udara pagi. Ia tahu, siang nanti, desas-desus itu pasti sudah menjadi santapan utama di pasar.

Malam harinya, ritual itu kembali dilakukan. Mbok Lantrah mematut diri di depan cermin tua. Ia memoles gincu merah, merapikan sanggul yang sudah tidak rapi lagi. Ia tidak gila. Ia hanya rindu. Setelah empat puluh tahun suaminya hilang—lenyap ditelan arus Bengawan Solo pascatragedi 1965—Mbok Lantrah memilih untuk tetap "menikah" dalam ingatannya.

Tiga bulan terakhir, memorinya semakin tajam. Ia menciptakan ruang damai di balik dinding gedek yang bolong. Di sana, tidak ada tembakan, tidak ada cap "Gerwani" yang melekat di punggungnya, tidak ada tatapan curiga dari warga. Hanya ada dia dan suaminya. Saat ia merasakan "kehadiran" itu, ia akan mandi wajib sebagai bentuk pembersihan diri atas kesucian yang ia jaga demi sang suami.

Namun, Lek Sutres tidak melihat cinta. Lek Sutres hanya melihat sensasi di balik lubang di gedek.

"Tadi malam saya lewat," bisik Lek Sutres di lapak sayur keesokan harinya. "Kriet-kriet, ngos-ngosan, seperti orang sedang begituan, Ibu-ibu. Suaranya halus, tapi berat. Mbok Lantrah sudah bersekutu dengan jin!"

Berita itu menyebar secepat api di ilalang kering. Gosip "pernikahan dengan jin" hanyalah pemantik; api yang sesungguhnya adalah luka lama tahun 1965 yang sengaja dikorek kembali. Masyarakat yang selama ini enggan menyapa Mbok Lantrah kini memiliki alasan sah untuk mengucilkannya.

Dalam ingatan warga, memori kelam itu kembali berputar. Mereka mengingat bagaimana dulu, keluarga Mbok Lantrah menjadi penyebab puluhan warga desa kena tendang laras tentara, diseret, dan diinterogasi hingga babak belur karena keterlibatan suaminya dalam organisasi yang dilarang. Bagi mereka, Mbok Lantrah bukan hanya seorang janda, melainkan sisa-sisa "penyakit" masa lalu yang belum dibersihkan.

Mereka sengaja menutup mata atas kebaikan-kebaikan kecil yang Mbok Lantrah lakukan selama puluhan tahun—seperti arem-arem gratis yang ia berikan setiap hari Jumat, atau cabai dan terong yang boleh dipetik siapa saja dari kebunnya. Semua kebaikan itu diabaikan, ditutup rapat oleh kebencian yang menemukan alasan baru untuk meledak. Kini, di mata warga, Mbok Lantrah bukan lagi tetangga yang butuh dirangkul, melainkan "hantu" masa lalu yang harus disingkirkan agar desa mereka kembali bersih dari kutukan.

Mbok Lantrah mendatangi Bu Yayuk, satu-satunya tetangga yang masih bersikap netral. "Saya hanya merindu, Bu. Apakah rindu dianggap dosa?"

Bu Yayuk hanya mengangguk pelan, namun ia tidak bisa membendung arus kebencian yang sudah kadung membesar di luar sana.

Esoknya, saat Mbok Lantrah membawa dagangan keripik pisangnya ke pasar, suasana mendadak senyap. Tak ada satu pun tangan yang terulur membeli. Mata-mata tajam seperti pisau belati menghujamnya. "Itu dia si pengantin jin," bisik seseorang. "Pantas saja dia selalu selamat meski suaminya dicap pengkhianat negara. Ternyata dia punya 'pelindung' yang tidak kasatmata."

Sesak itu membuncah. Mbok Lantrah pulang dengan tangan gemetar. Di dalam rumahnya, ia berdiri di depan cermin tua yang kusam. Ia melihat sosok di cermin itu: seorang wanita tua yang membungkuk, penuh luka, dan lelah.

"Apakah aku yang gila, atau mereka yang sedang membunuhku?" bisiknya parau.

Namun, perlahan, bisikan-bisikan warga di pasar mulai menggerogoti kewarasannya. Ia mulai meragu. Mengapa ia selalu selamat saat pengejaran tentara tahun 65 dulu, sementara yang lain diseret dan dibantai? Mengapa selama empat puluh tahun ini ia tidak pernah tersentuh sakit yang berarti? Jangan-jangan... jangan-jangan apa yang mereka katakan itu benar?

Pikirannya kini semrawut, terjebak dalam labirin ingatan yang kabur. Ia mencoba memutar balik waktu, namun setiap kepingan memorinya kini terasa asing. Sosok yang hadir dalam mimpinya tiga bulan terakhir—pria yang mendekapnya, yang menemaninya—apakah itu benar-benar suaminya? Atau jangan-jangan, itu memang jin yang selama ini mereka tuduhkan?

Ataukah aku memang sudah lama bersekutu dengan kegelapan tanpa aku sadari? pikirnya.

Kebingungan itu menghantam dadanya sekeras palu. Ia menatap cermin itu lebih dalam, mencari jawaban di balik bayangannya sendiri. Sosok yang ia lihat di cermin kini tampak berubah-ubah—kadang suaminya yang dulu, kadang sosok bayangan yang tak memiliki wajah. Ia mulai kehilangan batas antara mana yang merupakan bunga tidur, mana yang merupakan kesetiaan, dan mana yang merupakan kutukan.

"Aku... aku hanya merindu," isaknya, namun keraguan itu kini lebih nyaring dari suaranya. "Tapi, apakah rindu bisa menjelma menjadi sesuatu yang bukan manusia?"

Dengan satu hentakan histeris, ia menghantam cermin itu. Pecahan kaca berhamburan, melukai tangannya hingga darah menetes di lantai tanah. Ia tidak merasakan sakit. Ia justru tertawa kecil di antara isak tangisnya, terjebak dalam keputusasaan yang sunyi. Dunia di luar sana benar, atau mungkin ia yang sudah tidak lagi mampu membedakan mana yang nyata dan mana yang sekadar halusinasi kesepiannya selama puluhan tahun.

Teriakan Mbok Lantrah memecah malam. Warga berdatangan, bukan untuk menolong, melainkan untuk menonton "kegilaan" yang sudah mereka ramalkan. Saat Bu Bidan dan Pak Mantri datang dengan suntikan bius, Mbok Lantrah sudah tidak lagi melawan. Ia hanya menatap langit-langit rumahnya, menyerah pada kekacauan pikirannya sendiri, merasa bahwa kesetiaan empat puluh tahunnya kini telah benar-benar hancur bercampur dengan fitnah yang mungkin saja, entahlah, bisa jadi memang benar adanya.

Saat Mbok Lantrah dibawa pergi menuju Rumah Sakit Jiwa Sardjito, Lek Sutres berdiri di ambang pintu, bergumam tanpa dosa, "Begitulah akhir dari mereka yang bersekutu dengan jin."

Di tengah kepergian mobil ambulans, tidak ada yang bersuara. Hanya angin malam yang berdesir, membawa penyesalan yang terlambat datang—sebuah kesadaran dingin bahwa satu kalimat gosip telah berhasil menghancurkan jiwa serapuh kaca yang selama ini mereka abaikan.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda