Cerita Fiksi

Halaman Terakhir di Musim Panas

Halaman Terakhir di Musim Panas
Ilustrasi Gambar Halaman Terakhir di Musim Panas (Sumber Gambar Gemini AI/Nano Banana)

Bukan karena kehabisan kata, melainkan karena setiap kata yang muncul terasa salah.

Begitulah yang dialami Mara, seorang penulis muda yang selama berbulan-bulan hidup bersama tenggat waktu, target halaman, dan layar laptop yang hampir selalu menyala. Ia terbiasa menghitung hidup berdasarkan jumlah kata yang berhasil ditulis setiap hari.

Seribu kata berarti hari yang produktif. Lima ratus kata berarti ia harus bekerja lebih keras. Dan nol kata berarti kegagalan. Namun suatu pagi, Mara menatap halaman kosong selama hampir dua jam tanpa menghasilkan satu kalimat pun.

Kursor berkedip, layar tetap putih, dan untuk pertama kalinya, ia merasa mungkin dirinya memang sudah tidak memiliki cerita untuk ditulis. Daripada terus memaksa, Mara akhirnya melakukan sesuatu yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya, pergi.

Ia memesan sebuah kamar kecil di desa pesisir yang jauh dari keramaian kota. Desa itu sederhana. Jalanannya sempit, rumah-rumah penduduk berdiri menghadap laut, dan suara ombak terdengar hampir sepanjang hari.

Tidak ada kafe dengan musik keras, tidak ada rapat, dan tidak ada notifikasi pekerjaan. Hanya angin laut, aroma asin, dan matahari musim panas yang terasa lebih hangat daripada biasanya.

Hari pertama, Mara masih membawa laptop ke mana-mana. Hari kedua, ia mulai jarang membukanya. Hari ketiga, ia bahkan lupa di mana terakhir kali meletakkan laptop tersebut.

Pada suatu sore, ketika berjalan tanpa tujuan di dekat dermaga, Mara melihat seorang lelaki sedang duduk di depan bengkel kayu kecil.

Tangannya sibuk mengukir sepotong kayu. Namanya Elias. Ia adalah pengrajin kayu yang sudah tinggal di desa itu sejak kecil.

Mara memperhatikan bagaimana lelaki itu bekerja dengan sangat perlahan. Tidak ada gerakan tergesa-gesa. Ia mengamplas kayu, berhenti, memeriksanya, kemudian melanjutkan lagi.

“Kau tidak takut lama?” tanya Mara.

Elias tersenyum. “Lama untuk apa?”

“Menyelesaikan sesuatu.”

“Kayu bukan pekerjaan yang bisa dipaksa cepat.”

Mara terdiam. Kalimat sederhana itu entah mengapa terasa seperti sedang berbicara kepadanya.

Elias kemudian memberikan sepotong kayu kecil kepada Mara. “Coba ukir.”

“Aku tidak bisa.”

“Bagus.”

Mara mengerutkan kening. “Bagus?”

“Kalau kau sudah tahu caranya, kau mungkin akan sibuk memikirkan hasilnya.”

Untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan, Mara tertawa.

Hari-hari berikutnya, ia mulai sering datang ke bengkel Elias. Ia belajar mengamplas kayu, mengukir pola sederhana, dan membuat benda-benda kecil yang bahkan tidak memiliki tujuan khusus.

Sebuah burung, daun, dan bintang. Tidak ada yang harus dijual, tidak ada yang harus dipublikasikan, dan tidak ada jumlah kata yang harus dicapai.

Hanya tangannya, kayu, dan waktu.

Suatu sore, Mara akhirnya bertanya kepada Elias, “Bagaimana kalau hidup kita tidak menghasilkan apa-apa?”

Elias menghentikan pekerjaannya. Ia memandang laut di kejauhan.

“Laut tidak pernah menghitung berapa banyak ombak yang sudah dibuatnya,” katanya. “Tapi tetap saja, setiap pagi ia datang kembali.”

Mara menundukkan kepala. Selama ini ia mengira hidup harus selalu bergerak maju. Harus ada target baru, buku baru, prestasi baru, dan pencapaian baru.

Ia lupa bahwa manusia juga membutuhkan hari-hari yang tidak menghasilkan apa-apa. Hari di mana untuk sekadar bernapas.

Musim panas hampir berakhir ketika Mara akhirnya kembali membuka laptopnya. Ia duduk di depan bengkel Elias, menghadap laut. Untuk beberapa menit, tidak ada satu kata pun yang tertulis.

Anehnya, kali ini Mara tidak panik. Ia tidak memaksa, dan hanya menunggu.

Kemudian sebuah kalimat muncul di kepalanya. Ia mengetiknya. Lalu kalimat berikutnya. Dan berikutnya.

Bukan karena ia sudah menemukan kembali ambisinya, melainkan karena ia akhirnya mengerti bahwa menulis tidak selalu harus dilakukan dengan berlari. Kadang-kadang, cerita justru datang ketika kita berhenti mengejarnya.

Sebelum meninggalkan desa, Mara memberikan sebuah buku kecil kepada Elias.

Di halaman terakhirnya, ia menulis satu kalimat:

“Terima kasih karena telah mengajarkanku bahwa hidup bukan perlombaan menuju halaman terakhir.”

Elias hanya tersenyum.

Musim panas itu akhirnya selesai. Tetapi bagi Mara, sesuatu yang lain justru dimulai. Ia pulang bukan sebagai penulis yang lebih produktif. Ia hanya pulang sebagai seseorang yang akhirnya tahu kapan harus berhenti.

Sebab terkadang, halaman terakhir dari sebuah musim bukanlah akhir cerita. Ia adalah tempat kita belajar untuk memulai kembali.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda