Cerita Fiksi

Jejak Kebakaran Hutan di Lereng Merbatu

Jejak Kebakaran Hutan di Lereng Merbatu
Ilustrasi Penangkapan Pembakaran Hutan (Photo by AI /Gemini)

Asap pekat berwarna abu-abu kehitaman membubung tinggi menutupi langit malam Hutan Lereng Merbatu. Kobaran api merah keemasan menjalar cepat, menelan pepohonan tua seluas puluhan hektare dalam hitungan jam. 

"Bagas, lari! Asapnya makin pekat! Kita bisa kehabisan oksigen di sini!" jerit Laras di tengah deru angin panas yang menerpa Hutan Lereng Merbatu.

Bagas terbatuk-batuk hebat, mengusap matanya yang perih menyengat. "Tidak, Laras! Lihat arah rambatan apinya! Ini bukan kebakaran alami akibat kemarau, hutan kita sengaja dibakar oleh seseorang!"

"Arahkan kameramu ke sini, Laras!" seru Bagas lagi sembari menunjuk kobaran api merah.

"Rekam semuanya! Bagas bergumam betapa kejamnya kerusakan lingkungan ini!"

Laras mengarahkan lensa kameranya dengan tangan gemetar ketakutan.

"Siapa lagi pelakunya kalau bukan Pak Handoko? Bukankah dia yang selama tiga bulan ini terus mengancam akan meratakan hutan kita demi ekspansi perkebunan kelapa sawit?"

"Tepat sekali! Korupsi dan serakahnya uang telah membutakan matanya!" tegas Bagas sembari mengepalkan tangan erat-erat. "Kita harus membongkar kejahatan ini sampai tuntas!"

***

Keesokan harinya, kabut tipis sisa kebakaran masih menyelimuti tanah yang menghitam. Garis kuning polisi sudah terbentang melingkari titik awal munculnya api.

"Bagaimana hasil pengamatan awal Anda di lokasi ini, Pak Polisi?" tanya Mbah Tirto, tetua adat desa, sembari mendekati Iptu Rian yang sedang berjongkok mengamati jelaga di balik semak-semak.

Iptu Rian berdiri perlahan, merapikan seragam polisinya yang terkena debu abu. "Kami masih mengumpulkan bukti fisik di lapangan, Mbah. Saya harap warga tidak menyimpulkan apa pun sebelum pemeriksaan tim forensik selesai."

Bagas melangkah cepat menghampiri mereka berdua dengan raut wajah gusar. "Pak Iptu Rian, tidak ada lagi yang perlu ditunggu! Minggu lalu Pak Handoko terang-terangan berteriak di balai desa bahwa hutan ini akan 'dibersihkan' cepat atau lambat jika warga tetap keras kepala tidak mau menjual tanah!"

Mbah Tirto memegang pundak Bagas yang tegang. "Sabar, Le. Kebencian tidak boleh mendahului kebenaran. Mbah paham amarahmu, tapi biarkan kepolisian bekerja tanpa tuduhan emosional."

"Tapi kami punya bukti otentik yang tidak bisa disangkal, Mbah!" potong Laras mantap. Ia menyodorkan kantong plastik transparan berisi pemantik api perak berlapis krom.

"Saya menemukan ini tersangkut di semak dekat pusat api, Pak Rian. Ada ukiran inisial 'H' di badannya. Bukankah semua orang di desa ini tahu bahwa pemantik mahal seperti ini hanya dimiliki oleh Pak Handoko?"

Iptu Rian menerima bukti itu dan mengamatinya dengan saksama. "Baik. Terima kasih atas barang bukti ini. Mari kita bicarakan hal ini bersama pemilik pemantik di posko pemeriksaan."

***

Di balai desa yang dijadikan posko darurat, suasana mendadak memanas. Pak Handoko menggebrak meja kayu di hadapan petugas.

"Ini tuduhan gila dan fitnah yang sangat keji!" bentak Pak Handoko dengan wajah merah padam. "Saya memang pengusaha sawit, tapi saya bukan kriminal bodoh yang membakar lahan secara liar!"

"Lalu bagaimana Bapak menjelaskan mengenai pemantik antik milik Bapak bisa berada tepat di titik awal munculnya api, Pak Handoko?" serang Laras mengarahkan mikrofon dan kameranya.

"Pemantik itu hilang di kedai kopi minggu lalu!" tangkis Pak Handoko keras. "Ada orang jahat yang sengaja mencurinya dari meja saya!"

Bagas tertawa sinis, menatap sang pengusaha dengan penuh kebencian. "Alasan klasik! Anda sengaja membakar hutan ini agar status tanah konservasinya gugur karena dianggap rusak total, kan? Setelah itu, Anda bisa membelinya dari pemerintah dengan harga yang sangat murah!"

Mbah Tirto melangkah ke tengah perdebatan. "Pak Handoko, jika Bapak memang jujur, hukum akan melindungi Anda. Namun jika Anda berbohong, alam dan warga tidak akan pernah memaafkan kesalahan Anda."

"Cukup! Harap semuanya tenang!" sela Iptu Rian tegas. Ia menatap Pak Handoko, lalu berbalik memandang warga. "Pak Handoko, Anda boleh menunggu di luar ruangan sebentar. Saya ingin menggali keterangan lebih dalam dari Bagas dan Laras."

***

Setelah pintu ruang pemeriksaan tertutup rapat, Iptu Rian memutar-mutar pemantik perak di jemarinya.

"Mengapa Anda menyuruh Pak Handoko keluar, Pak Rian?" tanya Laras heran. "Bukankah buktinya sudah sangat jelas dan tidak bisa membantah lagi?"

Iptu Rian menggeleng pelan. "Bukti ini justru terlalu sempurna, Laras. Dan ada hal yang sangat aneh dari hasil sampel laboratorium tanah yang baru saja saya terima."

"Maksud Anda apa, Pak Polisi?" tanya Bagas. Nada suaranya mendadak berubah agak tegang dan defensif.

Iptu Rian menatap mata Bagas dengan pandangan tajam menusuk. "Zat kimia pemicu api ini bukan bensin atau solar biasa, Bagas. Ini adalah cairan hydrocarbon-gel khusus. Senyawa ini dirancang untuk menciptakan kobaran api permukaan yang sangat cepat dan tampak dahsyat, namun sama sekali tidak merusak sistem akar tanah di bawahnya."

Laras mengerutkan dahi, menatap Iptu Rian bingung. "Cairan apa itu? Siapa yang bisa membuat bahan kimia seperti itu?"

"Hanya seorang ahli kehutanan yang riset ilmiahnya berfokus pada formulasi akseleran pemadam ramah lingkungan," jawab Iptu Rian dingin. "Bukankah itu judul skripsimu saat lulus kuliah di kota, Bagas?"

Ruangan mendadak menjadi sangat sunyi. Laras menatap sahabat dekatnya itu dengan mata terbelalak tak percaya. "Bagas... apa yang dikatakan Pak Rian?"

"Bukan hanya itu," lanjut Iptu Rian sembari menggeser layar tablet polisinya ke meja. "Rekaman CCTV kedai kopi minggu lalu memperlihatkan dengan jelas siapa yang mengambil pemantik milik Pak Handoko dari meja saat beliau lengah. Orang yang mengambilnya adalah kamu, Bagas."

Laras melangkah mundur, tubuhnya gemetar hebat. "Bagas! Jawab aku! Katakan kalau semua tuduhan pak polisi ini salah!"

Bagas membisu. Peluh dingin mengucur deras di pelipisnya. Perlahan, wajah bersalahnya memudar, berganti dengan senyum pahit dan tawa hampa yang penuh keputusasaan.

"Aku harus melakukannya, Laras!" jerit Bagas meluapkan beban di dadanya. "Pemerintah dan hukum tidak pernah mau mendengarkan teriakan kita! Pak Handoko sudah menyogok pejabat kota! Bulan depan izin AMDAL palsunya akan terbit dan seluruh Hutan Lereng Merbatu ini akan diratakan secara legal tanpa ada satu pun yang bisa membendungnya!"

"Tapi kenapa kau harus membakar hutan yang kau cintai sendiri, Bagas?!" tangis Laras pecah mendengarnya.

"Karena hanya dengan menjadikannya skandal kejahatan besar yang diliput media nasional, megaproyek jahat itu bisa dibatalkan selamanya!" teriak Bagas dengan air mata menetes di pipinya.

"Aku hanya membakar bagian pinggirannya menggunakan gel buatanku agar ekosistem inti tidak mati! Aku mengorbankan sedikit pohon dan menjebak Handoko agar publik murka dan menolak penjualan lahan ini!"

Mbah Tirto, yang mendengarkan dari balik pintu, melangkah masuk dan mengelus dadanya yang sesak. "Kau telah membakar rumah yang sangat ingin kau lindungi, Le..."

Iptu Rian melangkah mendekati Bagas, lalu menyematkan sepasang borgol besi di kedua pergelangan tangannya.

"Niatmu menyelamatkan alam mungkin berangkat dari kepedulian, Bagas. Namun, tindakan main hakim sendiri dan perusakan lingkungan tetaplah sebuah kejahatan berat di mata hukum."

"Maafkan aku, Laras... Maafkan aku, Mbah Tirto..." bisik Bagas pasrah saat dituntun Iptu Rian keluar ruangan.

***

Hutan Lereng Merbatu memang akhirnya terbebas dari ancaman ekspansi perkebunan sawit setelah skandal tersebut meledak di media massa, namun pelindung terbesarnya kini harus berjalan masuk ke balik jeruji besi menjadi korban dari keputusasaannya sendiri.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda