Cerita Fiksi
Sepotong Rendang Pelepas Rindu
Wangi kelapa yang digongseng menembus hingga ke jendela kamar. Aromanya memenuhi alam bawah sadarku. Suara sendok dan kuali yang beradu terdengar begitu nyata. Perlahan, dalam kondisi separuh sadar, aku mencoba membuka mata, sementara nyawaku belum sepenuhnya terkumpul.
Wajah Amak hadir di depanku, seolah ia sedang membangunkanku dari tidur panjang. Aku kembali menutup mata, lalu membukanya, tetapi tetap saja aku masih melihat wajahnya dengan senyum yang merekah. Tak ada suara yang dikeluarkannya, hanya tatapan mata dan raut wajahnya yang penuh senyum.
“Amak ... Ily masih mau tidur,” ucapku sambil menguap.
“Bangun, Ly. Amak sudah masak rendang untuk Ily,” ujar Amak lembut.
“Jangan tidur aja, bawa salat Duha,” lanjut Amak sambil menatapku.
“Matahari semakin dekat dengan kepala,” ingat Amak.
“Tapi ini masih pagi buta, Mak,” sahutku malas.
“Ndak ada pagi buta. Anak gadis mana yang kerjanya tidur seharian?” tegur Amak sambil berkacak pinggang.
“Mak ...,” rengekku pelan.
“Bangun ndak, Ly? Kalau ndak mau bangun, jangan merengek ke Amak jika Amak siram,” ancam Amak sambil menahan senyum.
“Iya, ini Ily bangun,” jawabku tergesa-gesa sambil beranjak dari tempat tidur.
Ketika aku terbangun, wajah Amak hilang dari pandanganku. Aku memanggil Amak dan mencarinya ke dapur kos, tetapi Amak tak kunjung menyahut.
“Barusan, apakah itu hanya mimpi semata?” gumamku.
“Aku kira Amak ada di sini,” ujarku lirih.
“Ternyata ... ah, sudahlah,” kataku sambil menghela napas.
Jam dinding berdetak dengan cepat. Di halaman, wangi kelapa itu masih tercium dan menusuk hidungku. Kali ini, aroma itu seolah nyata karena wanginya semakin terasa dekat.
“Ily ...”
“Apa yang ditenung tu, Ly?” tanya Etek Yaya.
“Ndak ada, Tek. Mau ke mana, Etek?” tanyaku penasaran.
“Mau kenduri,” jawab Etek Yaya singkat.
“Kenduri di mana, Tek?” tanyaku lagi.
“Di rumah sebelah,” jawabnya sambil menunjuk ke arah rumah sebelah.
“Lah, kenduri dalam rangka apa, Tek?” tanyaku kembali.
“Beralek, anaknya yang perempuan,” jelas Etek Yaya.
“Oh, tapi belum ada Ily nampak tenda terpasang. Janur pun belum ada,” kataku heran.
“Petang ini mau dipasang, soalnya ndak baralek gadang,” jelas Etek Yaya.
“Kira Ily baralek gadang, Tek,” ujarku sambil tersenyum.
“Ini aroma rendangnya dah tercium,” kata Etek Yaya sambil menghirup aroma yang terbawa angin.
“Iya, Tek. Sampai ke kamar kos Ily wanginya,” sahutku.
“Ayuk ikut, Ly,” ajak Etek Yaya.
“Lanjut, Tek. Ily masih ada kerjaan,” tolakku halus.
“Ooyalah, Etek jalan dulu, ya,” pamit Etek Yaya.
“Iyaa, jangan lupa sisakan rendangnya, Tek,” pesanku sambil tersenyum.
“Jangan hanya rendang yang dinanti,” ujar Etek Yaya sambil tersenyum penuh arti.
“Kau carilah lagi, Ly. Jika bisa, cari urang awak,” lanjutnya menggoda.
“Aman, Tek,” jawabku santai.
“Dah, Ly. Etek mau lanjut. Ndak bakalan habis cerita ni do kalau dilanjut,” pungkas Etek Yaya sambil tertawa kecil.
“Siap,” jawabku singkat.
Amak, andai Amak ada di sini dan mimpi Ily itu nyata, pasti Ily bahagia, Mak. Hanya aroma rendang ini yang bisa mengobati rindu Ily kepada Amak dan kampung halaman.
Beberapa jam kemudian
“Ly ... O Ly ...,” panggil Etek Yaya dari luar.
“Apa, Tek?” sahutku.
“Ni, sepotong rendang untuk Ily,” ujar Etek Yaya sambil menyerahkan sepiring rendang kepadaku.
“Boleh, Tek, dibawa pulang?” tanyaku memastikan.
“Boleh, sudah menjadi tradisi di sini setelah selesai kenduri,” jelas Etek Yaya.
“Terima kasih, Etek,” ucapku tulus.
“Taragak Ily dengan rendang ni, Tek?” tanyaku lirih.
“Sejak Ily mencium aroma rendang ni, Ily teringat dengan Amak,” ujarku dengan suara tertahan.
“Iya, Ly. Etek paham,” jawab Etek Yaya lembut.
“Ndak apa, makanlah rendangnya,” hibur Etek Yaya.
“Siapa tahu bisa mengobati rindu Ily pada Amak,” lanjutnya menenangkan.
“Iya, Tek,” jawabku pelan.
“Etek, balek lagi, ya,” pamit Etek Yaya.
“Hati-hati, Tek,” pesanku.
Aku segera mengambil piring dan mencicipi rendang yang sedari pagi sudah mengganggu tidurku.
Aku teringat Amak. Dahulu, sebelum aku merantau ke negeri seberang, Amak selalu membekaliku dengan rendang buatan tangannya sendiri. Bagiku, rasanya sangat autentik, dengan rempah-rempah yang terasa kuat dan kelapa gongseng yang pekat, membuat rendang Amak selalu nikmat dan berbeda.
Sekarang, aku sudah tidak bisa merasakan air tangan Amak lagi, meski aku kembali ke kampung halaman.