Cerita Fiksi
Kehidupan Sebelumnya Anakku
Akhir-akhir ini anak perempuanku yang berusia 3 tahun memiliki kebiasaan baru. Ia akan mengatakan kepada orang-orang tentang kehidupannya di masa lalu. Banyak profesi yang disebutkannya. Mulai dari seorang pilot pesawat pertama di dunia, penemu telepon, Cleopatra, dan banyak lagi. Mungkin karena aku dan suamiku selalu memberikannya buku bacaan mengenai tokoh-tokoh penting dalam sejarah, ia pun menumbuhkan identitas orang-orang tersebut sebagai bagian dari kehidupannya di masa lalu.
Aku belum mengoreksinya. Kupikir, biarkan saja ia mengeksplorasi bacaan dan video-video edukasi yang ditonton setiap hari. Bila waktunya sudah tepat, barulah ia diberikan penjelasan yang lebih mudah diterima. Namun, ada satu hal yang membuat kami—aku dan suamiku— sedikit terganggu beberapa hari ini. Sejak ia mulai menyebutkan tentang hal lain yang jauh berbeda dengan identitas tokoh-tokoh penting dunia di masa lalu. Kemarin ia berkata dengan lantang, "Aku adalah induk ular yang mati terpanggang karena melindungi telur-telurnya dari kebakaran hutan hebat di Kalimantan."
Satu, kami tak pernah membahas mengenai ular karena masih menakutkan untuknya. Dua, kami belum mengenalkan tentang pulau-pulau di Indonesia. Tiga, kosa kata seperti 'mati' dan 'terpanggang' juga terlalu menyeramkan untuk kami ajarkan padanya. Dengan kami yang memproteksi segala jenis tontonannya di dalam rumah, rasa-rasanya hal-hal seperti itu tak mungkin muncul di televisi pintar kami. Atau mungkinkah secara tak sengaja ia dengar dari ponsel kami atau mendengar sesuatu ketika berada di luar rumah?
Insiden kebakaran itu sendiri juga baru terjadi tahun lalu. Melihat dari linimasa waktunya, maka tak mungkin anak kami membicarakan hal terkait kehidupan masa lalunya. Selain itu, tak ada yang berubah selain hutan-hutan lindung berubah menjadi perkebunan sawit. Harga minyak goreng masih mahal seperti biasa. Pun dengan bensin subsidi dan non subsidi. Bumi pun terasa makin panas dari hari ke hari dan kami makin sering melihat berita masyarakat adat makin terpinggirkan, serta hewan-hewan langka dan dilindungi kehilangan tempat tinggal.
Kami pikir ia akan berubah menjadi sosok lain besok. Namun, sudah tiga hari ini ia tetap konsisten menjadi ular. Ular malang yang mati terpanggang karena melindungi telur-telurnya. Deskripsinya terlalu detail dan mengerikan untuk disebut hanya kebetulan semata. Terutama dengan kosa kata yang beragam itu.
"Api mengepung, panasnya seperti mengelupas kulit, kubah asap, napasku sesak. Tapi aku harus melindungi anak-anakku."
Ia terus mengatakan itu kepada siapa pun. Seolah benar-benar menceritakan kehidupannya di masa lalu. Aku dan suamiku luar biasa heran sekaligus khawatir. Apa yang sebenarnya terjadi pada putri kami? Ketakutan kami makin menjadi ketika di suatu malam, ia yang biasanya menangis meminta susu tiba-tiba saja tak ada di kasurnya. Aku yang sudah biasa terbangun karena sedikit gerakannya pun tak bangun pada malam itu.
Aku keluar kamar dan mendapatinya sedang terlelap melingkari mainan bola plastiknya yang dianggap sebagai telur. Ia pun meminta dibelikan mainan boneka ular keesokan paginya. Puncak dari segala ketakutan kami. Kami dengan segera membawanya ke psikolog anak. Dan ia terlihat senang sekali bertemu dengan psikolog tersebut sambil memamerkan boneka ular kecilnya sambil mengatakan, "Ini anakku."
Psikolog yang menangani anak kami tersenyum. Ia juga menunjukkan foto anak orangutan yang ada di meja kerjanya. Itu adalah anak orangutan yang ia adopsi dari hutan Kalimantan juga.
"Ini juga anak yang dokter adopsi dari hutan di Kalimantan. Kita sama, ya."
Setelahnya, anakku mulai bercerita tentang banyak hal kepada psikolog tersebut sementara kami berdua diminta menunggu sebentar di luar untuk beberapa sesi selanjutnya. Itu adalah waktu di mana kami mulai mempertanyakan banyak hal sekaligus menyalahkan diri sendiri. Apakah kami lalai hingga anak yang mengakibatkan anak kami mulai membangun dunianya sendiri atau kehidupan masa lalu itu betul-betul ada dan nyata?
Setelah menunggu beberapa waktu, kami dipersilakan masuk sementara anak kami diajak bermain oleh kakak-kakak admin di luar. Ia masih menggendong boneka ularnya dengan lembut dan penuh kasih sayang sebelum melambaikan tangan kepada kami yang bergantian masuk. Psikolog cantik berkacamata tersebut tersenyum sebentar sebelum memulai penjelasannya pada kami.
"Bapak, Ibu, sebelumnya saya hanya ingin mengatakan kalau Bapak dan Ibu tidak perlu khawatir. Ini fenomena yang kerap terjadi pada anak. Biasanya karena ingatan autobiografis mereka sedang berkembang pesat. Pada usia ini anak mulai mampu menceritakan pengalaman dalam bentuk narasi, tetapi sistem memorinya masih berkembang. Batas-batas bahwa ia pernah mengalami sendiri atau sekadar melihat juga masih samar sehingga mereka sering keliru. Dan ... ya fenomena ini sendiri pernah menjadi penelitian di Amerika Serikat. Nantinya anak-anak akan melupakan tentang kehidupannya di masa lalu tersebut."
Penjelasannya sedikit banyak memberikan kelegaan pada kami. Tak lupa pula kami diharapkan memberikan lebih banyak perhatian dan pendampingan. Segala kegundahan tentang cerita kehidupan atau masa lalu ini sudah selesai bagi kami. Anak kami pulang tak hanya membawa boneka ular, ia juga membawa boneka orang utan pemberikan psikolog tadi. Melihat bagaimana ia begitu menyayangi boneka-boneka tersebut, aku jadi khawatir seandainya ia tahu jika para satwa di bagian bumi Indonesia ini begitu tersiksa melebihi apa pun.
Bagaimana rumah mereka diratakan, dibakar, dihancurkan, lalu mulai dibangun kebun-kebun korporasi dan gedung-gedung pencakar langit maupun resor-resor berdalih ekonomi hijau. Dan ketika kusampaikan kegundahan ini, suamiku hanya menghela napas.
"Kamu bersuara pun tak mengubah apa-apa. Kalau bersuara, yang ada kamu hanya menambah musuh. Mari lindungi diri sendiri alih-alih membuka borok orang-orang atas."
Menyaksikan bagaimana kami tak memiliki daya dan upaya untuk berbenah, aku memilih diam untuk sementara waktu. Sembari menyaksikan anak kami memainkan bonekanya dengan riang.