Cerita Fiksi
Sepatu Ajaib Menyeberangi Sungai
Setiap pagi, sebelum matahari menyentuh pucuk pohon, Karyan sudah berdiri di tepi sungai. Di sampingnya ada tiga anak lain Bima, Sari, dan Lala sebagai teman satu sekolah Karyan.
Mereka tidak sedang bermain. Mereka sedang menunggu keberanian untuk menyeberang. Sungai di depan mereka bukan sungai kecil. Arusnya deras setelah hujan semalaman. Jembatan yang dahulu menghubungkan kampung dengan sekolah telah roboh berbulan-bulan lalu.
“Karyan,” bisik sepatu kanannya, “hari ini jangan nekat.”
Karyan menunduk.
Sepatu lusuh itu bernama Kuki. Tentu saja nama itu pemberian Karyan sendiri. Kuki si sepatu yang dibelikan orang tuanya saat masih SD. Kuki selalu menemani Karyan menuntut ilmu.
“Kalau kita tidak menyeberang, kita terlambat sekolah.”
Kuki menghela napas. “Aku tahu. Tapi solku sudah tipis. Aku tidak mau mati kedinginan di sungai.”
Karyan tersenyum. “Kau sepatu, bukan manusia.”
“Justru karena aku sepatu, aku tahu rasanya diinjak-injak.”
Bima tertawa. Sari dan Lala ikut tersenyum. Mereka berempat sudah terbiasa menyeberangi sungai dengan kaki telanjang atau memeluk tas di atas kepala.
Bagi anak-anak lain, sekolah dimulai ketika bel berbunyi. Bagi mereka, sekolah dimulai ketika berhasil melewati sungai.
***
“Pemerintah sudah tahu,” kata Bima suatu pagi.
“Terus?” tanya Karyan.
“Katanya akan diperbaiki.”
“Katanya kapan?” Karyan bertanya lagi.
Bima mengangkat bahu. Lala menunjuk papan pengumuman di dekat jalan. Terlihat kata "Pembangunan Jembatan Akan Segera Dilaksanakan."
"Jembatan itu gak pernah diperbaiki sampai kita melihat tulisan itu sudah pudar," gumam Karyan.
Sari bergumam, “Papan itu lebih lama berdiri daripada janji mereka.”
Kuki terkekeh. “Akhirnya ada manusia yang bicara seperti sepatu.”
Mereka kembali menyeberang. Karyan berjalan paling depan. Air menghantam betisnya.
Satu langkah.
Dua langkah.
Tiga langkah.
Tiba-tiba kakinya tergelincir.
“Karyan!” histeris Sari.
Tubuhnya terseret arus. Bima berusaha meraih tangannya. Sari menarik tas Karyan. Lala berteriak meminta pertolongan.
Kuki si sepatu terlepas dari kaki Karyan.
“Karyan!” Untuk pertama kalinya, suara sepatu itu terdengar ketakutan.
Namun Karyan berhasil memegang akar pohon di tepi sungai.
Ia selamat. Tetapi Kuki hanyut.
Karyan menangis. “Jangan pergi.”
Arus membawa sepatu itu semakin jauh.
***
Hari itu Karyan datang ke sekolah tanpa sepatu. Guru mereka, Pak Danu, memperhatikan kaki Karyan yang penuh lumpur.
“Kenapa?” tanya Pak Danu.
“Sepatu saya hanyut, Pak.”
Pak Danu diam. Ia tahu masalah mereka. Ia juga tahu surat pengaduan telah berkali-kali dikirim kepada pemerintah setempat. Tetapi jawabannya selalu sama.
“Masih dalam proses.”
Pak Danu akhirnya berkata, “Besok kalian tidak perlu menyeberang.”
Karyan terkejut. “Kenapa, Pak?”
“Sekolah akan mencari jalan lain,” kata Pak Danu yang sebenarnya juga kebingungan.
Namun, jalan lain berarti memutar hampir dua belas kilometer. Bagi anak-anak yang berjalan kaki, itu bukan jalan lain. Jalan sejauh itu membuat kemungkinan terburuknya untuk berhenti sekolah.
***
Keesokan paginya, Karyan kembali ke sungai.
Bima, Sari, dan Lala sudah menunggu.
“Pak Danu bilang jangan lewat sini,” kata Sari.
Karyan melihat arus. “Aku tahu.”
“Lalu kenapa datang?” tanya Sari.
Karyan tidak menjawab.
Ia melihat sesuatu tersangkut di antara batu. Sebuah sepatu. Ternyata sepatu itu Kuki.
Kondisinya lebih buruk. Talinya putus. Solnya hampir terlepas. Karyan mengambilnya.
“Kau masih hidup?” tanya Karyan yang cemas dengan kondisi Kuki.
Kuki diam. Karyan menempelkan sepatu itu ke telinganya. Tidak ada suara. Untuk pertama kalinya, Kuki tidak menjawab.
***
Beberapa hari kemudian, pemerintah akhirnya datang. Bukan membawa material jembatan. Mereka membawa kamera. Seorang pejabat berdiri di depan sungai.
“Kami akan segera menindaklanjuti kebutuhan masyarakat.”
Karyan menatapnya.
“Pak, kami cuma ingin jembatan,” kata masyarakat di sana.
Pejabat itu tersenyum. “Semua sedang diproses.”
Kuki yang berada di dalam tas Karyan tiba-tiba bergumam. “Dulu aku juga pernah mendengar kalimat itu.”
Karyan membeku. “Dulu?”
Kuki diam lagi.
Malamnya, Karyan membersihkan sepatu itu. Di bagian dalam sol terdapat tulisan kecil yang selama ini tidak pernah ia perhatikan. Tulisannya terlihat "Milik Karyan... Jangan dibuang."
Tetapi di bawahnya ada tulisan lain.
"Untuk anak yang akan menyeberangi sungai berikutnya."
Karyan terdiam. “Ini bukan punyaku?”
Kuki akhirnya berbicara. “Bukan.”
“Lalu kenapa kau selalu bersamaku?”
Sepatu itu menjawab pelan. “Karena ibumu memberikanku kepadamu.”
Karyan teringat sesuatu. Ia memang tidak pernah mengingat ayahnya. Ia juga tidak pernah tahu mengapa ibunya selalu melarangnya membuang sepatu lama itu.
Kuki melanjutkan, “Dulu, ayahmu juga menyeberangi sungai ini untuk pergi ke sekolah.”
Karyan menahan napas. “Lalu?”
“Suatu hari, arus terlalu deras.”
Sungai mendadak terasa lebih sunyi.
“Dia tidak pernah sampai sekolah,” kata Kuki.
***
Keesokan harinya, Karyan, Bima, Sari, dan Lala berdiri lagi di tepi sungai.
Namun, kali ini mereka tidak membawa tas. Mereka membawa papan kayu. Pak Danu datang bersama warga. Satu demi satu warga membawa bambu, tali, dan kayu.
Mereka mulai membangun jembatan darurat.
Bukan karena pemerintah tiba-tiba peduli.
Melainkan karena anak-anak itu akhirnya berhenti menunggu.
Saat jembatan sederhana selesai, Karyan menatap Kuki. “Terima kasih.”
Sepatu itu tersenyum.
“Aku cuma sepatu.”
Karyan menggeleng. “Bukan.” Ia melangkah ke jembatan. “Kau saksi.”
Di belakang mereka, sungai terus mengalir.
Pemerintah mungkin belum datang membawa jembatan. Tetapi empat anak telah membuat satu hal yang lebih sulit dihancurkan.
Sebuah keberanian untuk mengatakan bahwa sekolah seharusnya dapat dicapai semua anak, bukan hanya mereka yang tinggal di tempat yang mudah dijangkau.
Kuki bergumam dari dalam tas. “Karyan.”
“Ya?”
“Besok kita sekolah lagi?” tanya Kuki.
Karyan tersenyum. “Ya besok dan seterusnya.”
Untuk pertama kalinya, Kuki tidak mengeluh.
Sebab ia tahu, perjalanan paling panjang bukanlah menyeberangi sungai. Melainkan membuat orang dewasa akhirnya mendengar suara anak-anak.