Cerita Fiksi
Kentongan Pukul Tiga Malam
Kentongan itu berbunyi lebih dulu daripada tangis bayinya.
Hening membuka mata. Ia tetap berbaring beberapa detik, menanti bunyi kedua yang tak kunjung datang. Hanya desau kipas angin di sudut langit-langit dan helaan napas Aldi yang teratur di sebelahnya. Tangis pelan kemudian menyusul dari kamar kecil di samping tempat tidur mereka. Hening meraba ponsel di bawah bantal. Layarnya menyala, menunjukkan angka 03.08.
Ia turun tanpa berniat menyalakan lampu. Sandalnya tersangkut jauh di bawah ranjang, bertumpuk dengan popok kain yang belum sempat dilipat sejak sore. Hening membiarkannya. Sepasang telapak kakinya yang polos menemukan dinginnya lantai semen, menuntunnya sampai ke kasur bayi. Anak itu sudah memerah ketika ia mengangkatnya. Popoknya kering. Hening menggendongnya sambil berdiri, menepuk-nepuk punggung kecil itu hingga tangisnya reda, lalu duduk di tepi kasur yang sempit.
Dari celah jendela, ujung gang tampak pekat. Bekas pos ronda di sana hanya menyisakan dua tiang pendek yang meranggas dan lantai semen yang menghitam setelah bertahun-tahun dihajar hujan. Hening sudah lama tidak melihat ada orang di sana. Warga sekarang lebih suka berkumpul di warung dekat pertigaan yang lampunya lebih terang. Tiang-tiang lapuk itu dibiarkan mati perlahan.
Bayi akhirnya tenang dan tertidur. Hening membaringkannya perlahan, membawa botol susu kosong ke dapur, lalu mencucinya di bawah kucuran keran. Ketika ia kembali ke kamar utama, Aldi masih meringkuk dengan satu kaki terjulur keluar dari selimut. Hening melihat jam sekali lagi. 03.27. Ia mematikan layar ponsel, membenamkan kepala ke bantal, dan mencoba memejamkan mata.
Pagi datang terlalu cepat bersama deru motor dari jalan depan.
Ketika Hening membuka mata untuk kedua kali, Aldi sudah tidak ada di sisinya. Di atas meja makan tergeletak dua bungkus bubur ayam yang ditutup kertas minyak cokelat. Tidak ada secarik catatan pun. Hening mengambil satu bungkus, merobek karetnya, namun kembali menutupnya rapat-rapat begitu mendengar bayinya mulai menggeliat dari kamar sebelah.
Ia menghabiskan sisa pagi dengan mengganti popok, menyusui, lalu membawa bayinya duduk di ruang depan. Tak lama kemudian, suara motor Aldi terdengar memasuki halaman. Suaminya masuk membawa sekantong plastik berisi jeruk.
“Buburnya dimakan?” tanya Aldi.
“Belum.”
Aldi melirik meja. “Nanti dingin.”
“Bentar.”
Aldi menarik kursi, mengambil satu jeruk, dan mulai mengupas kulitnya yang tebal. “Tadi malam bangun?”
Hening merapikan ujung kain bedong. “Iya.”
“Sekali?”
Hening berhenti sebentar, mencoba mengingat urutan jam di kepalanya. “Enggak tahu.”
Aldi menyodorkan belahan jeruk yang sudah bersih dari serat. “Makan.”
Hening menerima buah itu, membiarkannya diam di telapak tangan. Aldi melangkah masuk ke kamar untuk melihat anak mereka. Jeruk itu tetap berada di genggaman Hening yang dingin, sampai beberapa saat kemudian bayinya kembali menangis.
Menjelang siang, ibunya datang membawa rantang susun. Perempuan tua itu masuk sambil memanggil nama cucunya, langsung mengambil tempat di tepi kasur bayi. Setelah mengecup kening bocah itu, ia menyingkap selimut sedikit untuk memeriksa sepasang kaki kecil yang bergerak-gerak.
“Tambah gemuk.”
Hening tersenyum tipis.
“Semalam tidur?”
“Lumayan.”
Ibunya menoleh, menatap lekat kantung mata Hening. “Kamu?”
Hening baru saja hendak membuka mulut saat bayinya menggerakkan tangan dan mulai merengek lagi. Ibunya segera sigap berdiri.
“Ambilkan kain itu.”
Hening meraih kain bedong dari sandaran kursi.
“Bukan yang itu. Yang putih.”
Hening meletakkan kembali kain tersebut dan mengambil yang lain di dalam lemari. Ibunya menerima kain putih itu dengan cekatan dan mulai membebat tubuh cucunya. “Kamu makan dulu.”
“Nanti.”
Ibunya menatap meja makan yang berantakan, lalu membuka ikatan rantang.
“Sayurnya taruh sini.”
Hening mengangguk patuh.
Ia menyendok nasi, menuangkan kuah sayur lodeh, dan duduk. Baru tiga suap nasi masuk ke mulutnya, bayinya kembali menjerit. Hening meletakkan sendok yang mendadak terasa berat.
“Biar Ibu saja.” Ibunya mengulurkan tangan.
Namun Hening sudah terlanjur berdiri, seolah tubuhnya digerakkan oleh pegas yang tak bisa berhenti.
“Enggak apa-apa.”
Ia membawa bayinya masuk ke kamar. Ibunya tetap bergeming di meja makan. Ketika Hening kembali ke ruang tengah setengah jam kemudian, nasi di piringnya sudah sepenuhnya anyep. Ibunya sudah pulang, hanya meninggalkan rantang kosong yang tersusun rapi di atas meja.
Sore itu, Aldi tertidur pulas di ruang tengah dengan televisi yang menyala tanpa suara. Hening membawa bayinya kembali ke kamar setelah menyusuinya sampai kenyang. Ia menaruh anak itu di kasur kecil, lalu melangkah ke dapur untuk meneguk air. Panci di atas kompor masih menyisakan uap tipis yang mengepul. Hening memutar kenop kompor hingga padam, lalu berdiri di depan wastafel sambil menenggak air dari gelas beling.
Air keran tetap mengalir deras di bawahnya.
Ia baru benar-benar sadar jiwanya sempat hanyut setelah mendengar suara serak Aldi dari arah ruang tengah.
“Hen.”
Hening menoleh dengan lambat.
“Airnya.”
Ia buru-buru memutar keran hingga rapat. Aldi sudah berdiri di ambang pintu dapur sambil mengusap matanya yang merah. “Kamu tadi mau apa?”
“Minum.”
“Sudah?”
Hening mengangguk.
Aldi kembali berbaring di ruang tengah. Hening membawa gelas kosongnya ke kamar. Di atas meja, bungkus bubur ayam dari pagi tadi masih terbuka, meninggalkan bau gurih yang sudah basi. Ia meremas kertas minyak itu, membuangnya ke tempat sampah, dan menutupnya rapat-rapat.
Malam turun lebih cepat karena langit tertutup awan mendung. Setelah listrik mendadak padam, rumah mereka seketika gelap gulita, hanya menyisakan binar pucat dari layar ponsel. Aldi keluar sebentar menerobos kegelapan untuk memeriksa meteran luar, lalu kembali masuk dengan sandal yang basah kuyup.
“Besok harus beli token.”
Hening mengangguk dalam gelap.
Bayi mereka belum juga mau memejamkan mata. Hening menggendongnya, berjalan pelan dengan ritme yang sama dari pintu ke jendela, berulang kali. Hujan deras mulai menghantam genting di luar. Air dari talang yang bocor mengalir deras ke halaman, meluap hingga membanjiri sisi jalan gang.
Aldi mendekat, mengulurkan kedua lengannya.
“Sini, biar aku.”
Hening menyerahkan bayinya tanpa suara.
Aldi menepuk-nepuk punggung anak itu dengan sabar. Hening meluruhkan tubuhnya, duduk di tepi tempat tidur yang berderit.
Dari ujung gang yang gelap, terdengar bunyi kayu dipukul.
Sekali.
Lalu sekali lagi.
Hening menegakkan punggung, mengangkat kepalanya yang terasa pening. Aldi tetap fokus menepuk punggung bayi dalam dekapannya.
“Kamu dengar?” tanya Hening, suaranya hampir menyerupai bisikan.
“Dengar apa?”
Hening tidak menjawab.
Bunyi kayu itu hilang, tenggelam oleh deru hujan. Ia berdiri, mengambil sandal karet di dekat pintu, dan mendorong daun pintu rumah hingga terbuka.
“Mau ke mana, Hen?”
“Sebentar.”
“Di luar hujan deras.”
“Aku tahu.”
Hening melangkah keluar.
Halaman rumahnya sudah berubah menjadi genangan air setinggi mata kaki. Ia terus berjalan hingga melewati pagar, menyusuri gang yang sepi dan gelap. Sandal kanannya sempat terlepas ketika ia menginjak bagian tanah yang berubah menjadi lumpur cair. Kali ini ia tidak membiarkannya; ia memungut sandal itu, memakainya kembali dengan kaki yang kotor, dan terus melangkah maju.
Bekas pos ronda itu berdiri bisu di ujung gang.
Hening berdiri diam di bawah guyuran hujan yang menusuk kulit. Dari tempatnya berdiri, ia menatap lekat-lekat lantai semen yang retak-retak dan rumput liar yang tumbuh subur di sela-selanya. Ia menunggu.
Tidak ada bunyi kayu yang saling beradu.
Ia menunggu lebih lama lagi.
Hanya ada suara hujan yang menghantam tanah.
Beberapa menit berlalu, seberkas cahaya senter memotong kegelapan dari arah belakangnya. Aldi berdiri di sana, memegang payung besar dengan sebelah tangan.
“Kamu ngapain di sini, Hen?”
Hening menggeleng pelan.
Aldi tidak mengejarnya dengan pertanyaan lain. Ia hanya menggeser payung agar tubuh Hening terlindung dari air. “Bayi sudah tidur.”
Hening masih menatap sisa semen pos ronda yang basah.
“Pulang?”
Kali ini Hening mengangguk.
Mereka berjalan bersisian menembus malam yang basah. Sesampainya di dalam rumah, Hening berniat langsung masuk ke kamar bayinya.
“Biar aku saja yang jaga,” kata Aldi lembut. “Aku saja.”
“Kamu ganti baju dulu, basah semua itu.”
Hening menatap suaminya sebentar, lalu berbalik menuju kamar mandi. Ketika ia keluar dengan pakaian kering, Aldi sedang duduk berselonjor di lantai kamar dengan bayi mereka yang lelap di pangkuannya. Beberapa botol susu yang sudah dicuci tampak ditunggingkan di atas selembar kain bersih dekat wastafel.
Hening mematung di ambang pintu.
Aldi menoleh, tatapannya beralih ke meja makan yang kosong.
“Kamu belum makan dari siang, kan?”
Hening melihat permukaan meja yang bersih.
“Aku belum makan.”
Aldi tidak menyahut lagi. Ia bangkit dengan gerakan amat hati-hati agar tidak mengejutkan bayi dalam dekapannya, lalu melangkah ke dapur. Pintu penanak nasi dibuka. Sayur lodeh buatan ibunya siang tadi masih tersisa di dalam panci kecil.
“Masih ada sayurnya?”
“Masih.”
Aldi menyalakan kompor, memanaskan kuah santan yang sudah mengental itu. Hening duduk di kursi meja makan. Dari kamar sebelah, suara hujan yang menghantam genting terdengar konstan. Sesekali bayinya bergerak kecil dalam gendongan Aldi yang kokoh.
Setelah asap hangat mengepul dari panci, Aldi meletakkan sepiring nasi dengan guyuran sayur lodeh di depan Hening. Ia kemudian mengambil tempat di seberang meja, tetap dengan bayi yang meringkuk tenang di dadanya.
Hening mulai menyuap nasinya.
“Pedas?” tanya Aldi pelan.
“Enggak.”
“Kurang garam?”
Hening menggeleng.
Ia menghabiskan seluruh makanan di piringnya tanpa sisa. Setelah itu, ia membawa piring kotor ke dapur, memutar keran, dan mencucinya hingga bersih sebelum ditaruh di rak pengering.
Di samping wastafel, ada satu botol susu yang masih terbalik di atas kain.
Hening berdiri diam, memandangi pantulan air di permukaannya.
Dari arah kamar tidur, suara Aldi terdengar lamat-lamat mendendangkan sebuah lagu. Senandung itu sempat terhenti di tengah bait, senyap sejenak, lalu diulang kembali dari baris paling awal.
Hening memutar keran hingga mati. Ia tidak menyentuh botol susu yang tersisa itu.
Ia mematikan lampu dapur, melangkah masuk ke dalam kamar utama yang temaram, lalu merebahkan tubuhnya di sisi tempat tidur. Aldi masih setia duduk di sudut ruangan, menggendong anak mereka yang tertidur lelap.
Hening menarik selimut kainnya tinggi-tinggi, menutupi sepasang kakinya yang kini tak lagi terasa dingin. Di luar jendela, hujan masih terus turun dengan ritme yang sama.