Cerita Fiksi
Cermin Cipta Molek
Ratih selalu memastikan siaran langsung pada ponselnya benar-benar padam sebelum ia berani menghadap cermin tua itu.
Malam itu, setelah hampir satu jam memoles wajah di depan kamera sambil menjawab rentetan pertanyaan penonton yang lewat cepat di layar, ia menekan tombol selesai. Angka terakhir jumlah penonton masih membekas di sudut atas. Di bawahnya, pujian bertumpuk hampir seragam: warna lipstik yang menawan, bentuk alis yang simetris sempurna, hingga sanjungan tentang kulitnya yang tampak tanpa pori meskipun jarum jam sudah mendekati tengah malam. Ratih menyapukan pandangan pada beberapa komentar terakhir sebelum meletakkan gawai itu di atas meja.
Ia tidak langsung beranjak. Jemarinya masih menjepit spons lembap yang baru saja ia gunakan untuk menyamarkan bayangan keunguan di bawah matanya. Di layar ponsel yang gelap, pantulan wajahnya tampak persis seperti apa yang diinginkan pasar: warna pipi yang segar, sapuan garis mata yang tegas namun presisi, dan permukaan kulit yang rata. Cahaya dari lampu lingkaran di depan meja telah berhasil mengusir seluruh bayangan asli dari wajahnya.
Di sudut studio, berdiri sebuah cermin tua berbingkai kayu jati. Permukaannya mulai buram dan ditumbuhi flek hitam di bagian sudut, namun bagian tengahnya masih menyimpan kejernihan yang jujur. Ratih bangkit, lalu mematikan lampu lingkaran. Seketika itu juga, atmosfer ruangan berubah.
Ia melangkah mendekat dan menatap permukaannya.
Bibirnya tidak ada.
Ratih mematung selama beberapa detik yang panjang. Hidungnya, lekuk dagu, serta sepasang matanya masih terpampang di sana seperti biasa. Hanya bagian bibir yang kosong, seolah-olah seseorang telah menghapusnya dengan sekali usapan kain basah. Ia menyentuh bibirnya sendiri yang terasa nyata, lalu berganti menyentuh permukaan kaca cermin.
Dingin menyengat.
Ratih buru-buru menyalakan kembali sakelar lampu ruangan. Pantulan di dalam cermin kembali utuh dalam sekejap. Bibirnya kembali di sana, dilapisi warna merah yang tebal. Sejak malam itu, ia bersumpah tidak akan pernah langsung bercermin setelah kamera ponselnya menyala.
Cermin itu didapatnya dari kamar Nenek Warmi, beberapa hari sebelum perempuan tua itu mengembuskan napas terakhir. Bingkainya terlampau berat dan bagian belakangnya sudah rapuh digerogoti rayap. Ratih sempat mengutarakan niatnya untuk mengganti kaca yang sudah berumur itu, tetapi neneknya melarang dengan tegas.
“Jangan diganti,” kata Warmi kala itu, suaranya parau namun tertanam kuat. “Kacanya masih bagus.”
Ratih ingat betul bagaimana ia berdiri di depan kaca itu sambil mengeluhkan penampilannya sendiri. Rambutnya diikat berantakan, dan ada bekas jerawat kemerahan di dagu yang gagal disembunyikan.
“Segala cela kelihatan jelas, Nek.”
“Ya memang begitu setitik gunanya cermin.”
“Keriput juga tidak ditutupi.”
Warmi terkekeh pendek, memamerkan garis-garis halus di sekitar matanya. “Memangnya sejak kapan cermin punya kewajiban untuk membuat orang terus terlihat muda?”
Setelah neneknya tiada, cermin seisi bingkainya diboyong Ratih ke rumah baru, ditempatkan di sebuah ruangan yang kini dialihfungsikan menjadi studio rias. Ia mengecat ulang bingkai kayunya yang kusam, membersihkan jamur di kaca bagian bawah, lalu memasang deretan lampu putih terang di sekelilingnya.
Studio itu dinamai Cipta Molek, sebuah nama yang dahulu dipakai Warmi untuk usaha rias pengantin kecil-kecilan di kampung halaman. Kini, di tangan Ratih, nama itu bertransformasi menjadi tempat merias pengantin urban, melayani pelanggan modern, dan dalam beberapa bulan terakhir, menjadi latar belakang siaran langsung tata rias di media sosial.
Di depan lensa kamera, Ratih adalah penguasa visual. Ia tahu persis sudut kemiringan kepala yang paling estetis, arah datangnya cahaya yang mampu memanipulasi bentuk hidung, serta penempatan kamera yang harus sedikit lebih tinggi dari kelopak mata. Ia paham kombinasi warna yang sanggup membuat kulit tampak lebih bersih dan di mana bayangan palsu harus disapukan demi menciptakan ilusi pipi yang tirus. Ia juga sangat mengerti kapan harus melempar senyum agar penonton tidak beranjak dari layarnya.
Namun, cermin tua peninggalan neneknya tidak pernah sekalipun diizinkan masuk ke dalam bingkai kamera.
Suatu sore, sebuah pesan singkat masuk dari perusahaan kosmetik yang baru saja mengikat kontrak kerja sama dengannya. Mereka mengirimkan satu paket produk baru dan meminta Ratih memproduksi dua video promosi. Catatannya singkat namun menuntut: gunakan foundation yang satu tingkat lebih terang, Mbak. Di kamera biar kelihatan lebih bersih dan tidak kusam.
Ratih membaca kalimat itu berulang kali. Malamnya, ia membuka segel paket, mengoleskan dua contoh warna di punggung tangan, lalu memilih warna yang paling terang—warna yang sebenarnya tidak pernah cocok dengan warna asli kulit lehernya.
Esok paginya, ia mengaplikasikan cairan itu ke wajahnya.
Hasilnya di layar gawai memang mengagumkan. Wajahnya tampak bercahaya tanpa cela. Ratih merekam video promosinya dengan lancar; merapikan rambut, menyalakan seluruh lampu, dan melempar senyum terbaik ke arah lensa. Usai merekam, ia memeriksa ulang hasilnya. Semuanya tampak sempurna, bahkan kerutan halus di bawah matanya hilang tak berbekas.
Namun, ketika ia berbalik untuk meraih kapas pembersih di dekat cermin tua, pandangannya tidak sengaja membentur permukaan kaca.
Pipi kirinya hilang.
Kapas di genggamannya luruh ke lantai. Ratih menunduk, menatap lantai semen cukup lama, membiarkan jantungnya bertalu hebat sebelum memberanikan diri memungut kapas itu. Saat ia kembali menegakkan punggung dan menatap ke depan, pantulan wajah di cermin sudah kembali lengkap seperti sedia kala.
Kejadian itu disimpannya sendiri, rapat-rapat.
Tiga minggu berselang, Dinda datang untuk janji temu rias pengantin.
Gadis itu datang ditemani seorang perempuan paruh baya yang berjalan pelan di belakangnya, memikul tas kain besar berisi kebaya brokat, kotak perhiasan kuno, dan sepasang selop yang dibungkus kertas koran. Dinda mengambil tempat di kursi rias, jemarinya sibuk membalas pesan di ponsel dengan raut gelisah.
Saat Ratih mulai membersihkan sisa debu di wajah Dinda, sebuah bekas luka di pipi kiri gadis itu terpampang jelas. Luka lama yang memanjang dari batas telinga hingga melengkung ke tulang pipi bawah. Permukaan kulit di sana tampak mengilap, dengan warna merah muda yang kontras dengan warna kulit di sekitarnya.
Ratih sudah menghadapi ratusan wajah dengan berbagai macam kondisi. Ia tahu teknik terbaik untuk menyembunyikannya hingga tak berbekas. Namun, sebelum jemarinya menyentuh botol korektor warna, ia berbisik pelan, “Mau saya tutup sepenuhnya luka di pipi ini?”
Dinda menatap lurus ke arah cermin tua.
“Kalau bisa, jangan terlalu tebal, Mbak.”
“Bisa saya samarkan agar tidak mencolok.”
“Jangan dihilangkan seluruhnya.”
Gerakan tangan Ratih tertahan di udara. “Kenapa?”
Dinda menghela napas, bahunya turun sedikit. “Kalau saya tertawa, bagian kulit di sini suka tertarik. Kalau makeup-nya terlalu tebal, lapisannya malah akan retak dan kelihatan aneh.”
Ratih mengganti alatnya dengan spons yang lebih kecil dan pipih. Ia mengetuk-ngetukkan foundation tipis-tipis hanya di sekitar pinggiran bekas luka, membiarkan bagian tengahnya tetap bernapas tanpa lapisan kimia. Setelah sapuan bedak tabur dan sedikit rona merah di tulang pipi, bekas luka itu masih menyisakan jejaknya jika dilihat dari jarak dekat.
Dinda memajukan wajahnya, memeriksa pantulan dirinya dari dekat.
“Yang bagian ini nanti jangan diedit ya, Mbak.”
Ratih tersenyum tipis. “Maksudnya di foto dokumentasi?”
“Iya.”
“Iya, tidak akan saya edit.”
Dinda memasukkan ponselnya ke dalam tas dengan gerakan yang tampak lebih tenang. Sembari menunggu Ratih menyiapkan kuas aplikator mata, ia berbisik lirih, “Biar ibu saya tidak merasa kehilangan anaknya yang asli saat di pelaminan nanti.”
Ratih memilih untuk diam. Ia mengambil kuas blending dan mulai fokus merapikan gradasi warna di kelopak mata Dinda.
Pada hari pernikahan, Ratih mendatangi rumah Dinda yang riuh. Halaman depan dipadati kursi plastik hijau dan deretan meja prasmanan. Orang-orang lalu lalang membawa piring, gelas, dan tumpukan kotak makanan. Dari kejauhan, suara pengeras suara dari musala sesekali memecah udara, mengumumkan nomor kendaraan yang menyumbat jalan gang.
Proses merias telah usai ketika Ratih membantu Dinda merapikan ujung kebayanya sebelum berdiri.
Saat hendak melangkah keluar kamar, mereka berdua berpapasan di depan sebuah cermin besar berpembatas kuningan milik keluarga pengantin.
Pantulan tubuh Dinda tampak utuh dan anggun. Bekas luka di pipinya masih setia di sana, menegaskan cerita hidupnya di antara riasan pengantin yang megah.
Ratih berdiri dua langkah di belakang pengantinnya. Ia melempar pandang ke arah cermin yang sama, menatap pantulannya sendiri lebih lama dari biasanya.
Di dalam cermin itu, wajah Ratih hampir sirna seluruhnya.
Hanya sepasang matanya yang tersisa, menatap balik dengan pandangan lelah dan asing. Bagian wajah lainnya melebur, kabur seperti bayangan yang kehilangan bentuk.
“Mbak Ratih?”
Panggilan Dinda menariknya kembali ke realitas. Gadis itu sudah menoleh dengan kening berkerut.
“Ah, tidak apa-apa,” jawab Ratih dengan suara yang diusahakan tetap tenang.
Ia segera merapikan sisa alat ke dalam tas riasnya, lalu berjalan mengekor di belakang Dinda menuju riuhnya pesta.
Malam harinya, Ratih tidak menyalakan lampu lingkaran maupun kamera ponselnya. Studio Cipta Molek dibiarkan gelap.
Ia hanya duduk diam di kursi kerjanya, menghadap langsung ke arah cermin tua peninggalan neneknya hingga lampu-lampu jalan di luar mulai menyala satu per satu. Di atas meja rias, peralatan kosmetiknya berserakan; spons yang menghitam, kuas-kuas yang kotor, sisa kapas, dan botol-botol foundation kiriman perusahaan yang tutupnya dibiarkan terbuka.
Ia meraba ponselnya, lalu membuka aplikasi kamera depan.
Wajahnya muncul di layar digital yang terang. Sempurna. Mulus tanpa ada bekas jerawat ataupun garis keletihan di bawah kantung mata. Ratih memiringkan kepalanya ke kanan, dan wajah di layar ikut bergerak dengan patuh.
Ia menekan tombol daya. Layar ponsel mati, menjadi gelap gulita.
Sementara itu, cermin tua di hadapannya masih setia menyajikan pantulan tubuhnya yang kehilangan detail wajah—sebuah siluet samar yang nyaris kosong.
Ratih mengulurkan tangan, meraih spons rias yang tergeletak di dekatnya. Ia mengambil botol foundation cair yang diklaim mampu membuat wajah tampak putih bersih di depan kamera, menuangkan beberapa tetes ke punggung tangannya, lalu perlahan mengangkat spons itu mendekati wajah.
Gerakannya mendadak terkunci.
Ia menatap cairan kimia di punggung tangannya, lalu perlahan menurunkan kembali lengannya. Spons itu ia letakkan kembali di atas meja rias.
Ratih bangkit dari duduknya. Ia berjalan menuju jendela studio yang selama ini selalu dikunci rapat demi menghalau bising kendaraan dan debu jalanan. Ia membuka selotnya, mendorong daun jendela lebar-lebar. Angin malam seketika merangsek masuk, membawa serta aroma tanah basah sisa hujan sore hari dari halaman luar.
Ketika ia kembali melabuhkan tubuhnya di kursi rias, pantulan di dalam cermin tua itu lambat laun mulai menampakkan wujudnya kembali. Ratih tidak memajukan tubuh untuk memastikannya dari dekat. Ia memilih mulai membereskan meja kerjanya dengan tenang; mencuci spons hingga busa putihnya bersih dari warna cokelat kosmetik, menutup rapat seluruh botol make-up satu demi satu, lalu memadamkan lampu utama studio.
Keesokan paginya, cahaya matahari menembus jendela yang dibiarkan terbuka, jatuh tepat di atas permukaan cermin tua.
Bekas jerawat kecil di dagu Ratih tampak kemerahan. Ada gurat tipis yang melengkung di sudut matanya saat ia berkedip. Warna kulitnya tidak seterang ataupun seputih wajah yang biasa menyapa ribuan penonton di balik layar gawai.
Ratih berdiri tegak di depan cermin tua itu sembari mengikat rambutnya asal-asalan ke belakang. Ia tidak menyalakan lampu lingkaran, tidak juga menyentuh kuas-kuasnya. Ia hanya menatap dirinya sendiri dengan pandangan yang utuh.
Pelanggan pertama hari itu mengetuk pintu studio, datang terlambat dua puluh menit.
Perempuan muda itu masuk tergesa-gesa sambil mendekap sepotong kebaya yang dibungkus kain jarik, berulang kali melontarkan maaf karena salah menaiki angkutan kota. Begitu duduk di kursi rias, ia langsung menyodorkan ponselnya, memperlihatkan sebuah foto contoh riasan digital.
“Kurang lebih mau dibuat seperti ini, Mbak. Tapi tolong, jangan terlalu tebal ya.”
Ratih membuka kotak kosmetiknya tanpa terburu-buru.
Perempuan itu menatap pantulan wajahnya sendiri di permukaan kaca cermin jati, lalu mengarahkan telunjuknya ke arah sebuah tahi lalat hitam kecil yang tumbuh tepat di dekat sudut bibirnya.
“Bagian yang ini jangan ditutup pakai foundation ya, Mbak.”
Jemari Ratih yang hendak mengambil spons pemoles seketika berhenti. “Kenapa?”
“Sudah ada di sana sejak saya kecil. Kalau hilang, rasanya seperti bukan saya lagi.”
Ratih mengangguk pelan, seulas senyum tulus terbit di wajahnya. Ia meletakkan spons besar itu, lalu beralih mengambil kuas aplikator yang jauh lebih kecil untuk mulai meratakan bedak hanya di sekitar lingkar tahi lalat tersebut. Bagian wajah yang lain hanya diberi sapuan bedak tipis-tipis, membiarkan pori-pori aslinya tetap terlihat di bawah sorot cahaya alami.
Begitu seluruh proses selesai, pelanggan itu memajukan wajahnya ke arah kaca.
“Tahi lalatnya masih kelihatan jelas.”
“Memang sengaja saya biarkan,” sahut Ratih lembut.
Perempuan itu tersenyum puas, membalik tubuhnya dengan riang, lalu mulai merapikan lipatan ujung kebayanya.
Ratih mengambil kuas yang baru saja ia gunakan, membersihkan sisa bedak yang menempel di bulu-bulunya dengan telaten, lalu mengembalikannya ke dalam wadah penyimpanan. Di belakang punggung mereka berdua, cermin tua berbingkai kayu jati itu menangkap seluruh pendar cahaya pagi yang mengalir masuk dari jendela studio yang terbuka lebar.