Cerita Fiksi

Penari Lengger Tanpa Sampur

Penari Lengger Tanpa Sampur
Penari Lengger Tanpa Sampur. (Generated by AI)

Niken tahu jiwanya mulai meloloskan diri dari raga justru saat ia hafal di luar kepala letak sarang laba-laba di langit-langit rumah. Satu berada tepat di atas meja makan, satu bersembunyi di sudut dekat jendela, dan yang paling kecil menggantung di atas rak piring. Ia kerap menatap rajutan benang tipis itu saat jemarinya sibuk mengeringkan piring, mengayun sapu, atau sekadar menunggu air di jerangan mendidih.

Setiap kali suara Arga berubah—tidak pernah meninggi, hanya melandai datar dan dingin seperti ubin kamar mandi—kesadaran Niken seperti terangkat ke langit-langit. Dari atas, ia menonton seorang perempuan berdaster biru pudar sedang menaruh piring dengan gerakan berulang, sembari menggumamkan jawaban patuh pada suaminya.

“Aku cuma bilang, guru SD itu mestinya memberi contoh.”

Niken menyelipkan piring ke rak kering.

“Masa masih kepingin menari Lengger?”

“Ya.”

Piring di genggamannya nyaris luluh lantak di lantai.

Sebelum sepasang kakinya dijinakkan oleh lantai semen ruang kelas, Niken adalah angin yang menari hingga larut. Tubuhnya akrab dengan debu panggung hajatan desa, lampu kecamatan yang panas menyengat, hingga lantai papan yang licin oleh peluh. Di baris paling depan penonton, ayahnya selalu duduk dengan kipas bambu yang tak pernah dikepakkan, menjaganya dengan keheningan yang kokoh.

Saat tabuhan kendang reda dan aroma kembang sajen menyublim ke udara, sang ayah akan menunggunya di pintu belakang. Tanpa pujian, lelaki tua itu hanya akan menyodorkan sebotol air dan berbisik, “Eling, Nduk. Kalau sudah selesai, pulang.” Dahulu, Niken mengira itu adalah peringatan tentang bahaya larut malam. Sekarang ia paham, ayahnya sedang memperingatkan agar ia tidak meninggalkan dirinya sendiri di atas panggung.

Sampur merah yang menjadi kulit keduanya dijahit oleh jemari ibu. Kain itu pernah robek sepanjang telapak tangan saat Niken berputar terlalu liar dan tersangkut paku berkarat. Ibu menjahitnya kembali di depan televisi, meninggalkan bekas jahitan kasar yang menonjol seperti parut luka di kulit. Setelah sepasang cincin bertukar jari, sampur itu lelap di dasar lemari yang paling gelap.

Arga memang tidak pernah menjatuhkan larangan dengan kata-kata tajam. Ia hanya menyusun barikade alasan yang sopan setiap kali Niken berpamitan untuk latihan.

“Besok kamu mengajar.”

“Kalau pulang malam, fisikmu bisa tumbang.”

“Kalau sekadar acara resmi sekolah, tentu saja boleh.”

Suatu malam, ketika aroma sanggar memanggilnya begitu kuat, Niken mendapati Arga sedang melipat pakaian di ruang tengah.

“Aku bukan melarang,” ucap Arga tanpa mengalihkan pandangan dari lipatan kemeja. “Cuma sekarang statusmu sudah berbeda. Orang-orang di luar gampang menyusun gunjingan.”

Niken mengambil alih tumpukan kain itu, meresapi kehangatan setrika yang perlahan menguap, lalu menguncinya di dalam lemari.

“Ya.”

Sejak malam itu, sampur merahnya mati suri.

Di sekolah, Niken adalah ketertiban itu sendiri. Ia tiba sebelum matahari sepenuhnya bangun, membuka jendela agar angin pagi mengusir sisa pengap, dan memenuhi papan tulis dengan angka-angka matematika.

Namun, keretakan itu menolak disembunyikan. Suatu pagi, saat seorang murid bertanya tentang pecahan, kapur di tangan Niken mendadak membeku. Ia menatap papan tulis dan menemukan tiga baris soal telah terpampang di sana. Ia sama sekali tidak ingat kapan jemarinya bergerak menulis dua baris terakhir.

“Bu, yang nomor dua bagaimana?”

Suara bocah itu terdengar jauh. Niken menatap telapak tangannya sendiri; debu kapur putih menyelusup ke pori-pori dan garis tangannya, seperti bedak penari yang luntur.

“Sebentar.”

“Bu?”

Niken mengerjapkan mata, menarik jiwanya kembali ke dalam dada. “Kita ulang dari awal.”

Sore harinya, dapur rumahnya menjadi saksi keabuan yang sama. Ia menemukan penanak nasi masih menyala dengan uap yang mengepul sia-sia. Niken berdiri terpaku di depannya, menatap kepulan uap, mencoba mengingat dengan keras apakah lambungnya sudah diisi sejak pagi tadi.

Arga menyadari kekosongan itu lebih cepat.

“Kamu akhir-akhir ini sering melamun,” ujarnya malam itu saat Niken sedang merajang daun bawang.

“Enggak.”

“Ada masalah dengan kepala sekolah?”

“Enggak.”

Pisau di tangannya bergeming. Arga meneguk air dari gelasnya. “Kalau capek, bilang. Jangan lupa besok tagihan listrik dibayar.”

“Iya.”

Ketika langkah Arga menjauh, Niken melanjutkan potongannya. Ia mengiris begitu cepat, begitu tipis, hingga daun-daun hijau itu lumat menjadi serpihan remah yang tak berbentuk di atas talenan. Malam itu, ia tidak sudi menatap langit-langit. Ia hanya ingin menatap pisau.

Sabtu pagi, kakinya menyeret ingatan menuju sanggar tua. Tempat itu tidak berubah: cat pintu yang terkelupas seperti kulit ari yang menua, dan halaman yang lelah ditimbun daun-daun mangga kering. Di dalam, deretan gamelan membisu di bawah selimut kain cokelat.

Bu Wirni sedang mengayun sapu lidi ketika langkah Niken melintasi ambang pintu. Perempuan sepuh itu menegakkan punggungnya yang bungkuk.

“Nduk.”

Niken melempar senyum tipis. “Masih kenal saya, Bude?”

“Yang kabur dari tubuh tua ini cuma mata, Nduk. Bukan ingatan.”

Bu Wirni kembali menyapu. Niken melabuhkan duduknya di tepian lantai kayu yang dingin.

“Masih ada anak-anak yang datang latihan?”

“Ada. Satu-dua.”

“Lengger?”

Bu Wirni terkekeh lirih. “Ya masa badminton.”

Tawa Niken pecah, meletupkan sedikit beban di dadanya. Beberapa saat kemudian, Bu Wirni muncul dari ruang penyimpanan yang apak, membawa lipatan kain merah yang amat ia kenal. Sebelum lipatan itu luruh sepenuhnya, mata Niken langsung tertuju pada bekas jahitan kasar di ujungnya.

“Sampur saya.”

“Kain ini menunggumu pulang,” sahut Bu Wirni lembut.

Niken mengusap parut jahitan itu dengan ibu jarinya. Ada getaran akrab yang merambat ke lengannya. “Saya sudah lupa cara bergerak.”

Bu Wirni tidak membantah. Ia melangkah ke tengah ruangan, lalu menepuk lantai kayu. “Coba berdiri.”

“Sekarang?”

“Tubuh perempuan tidak pernah benar-benar lupa, Niken. Yang lupa itu ketakutanmu.”

Niken berdiri. Ia menggeser telapak kaki kanannya.

“Jangan terburu-buru.”

Ia menarik napas, mencoba menyelaraskan detak jantung dengan lantai kayu. Pergelangan tangan kanannya memutar, mulanya kaku dan terlalu tergesa.

“Pelan. Rasakan anginnya.”

Niken mengulang. Kali ini, ia membiarkan bahunya luruh. Kaki kanannya merendah, bergeser setengah jengkal. Pergelangan tangan berputar, dan sampur merah di jemarinya mengembang pendek, membelah udara dengan desau sunyi.

Bu Wirni mengangguk, matanya berkaca-kaca. “Napasmu masih di sana.”

Niken menunduk, menatap sepasang kakinya yang kini terasa menapak bumi sepenuhnya.

Hujan mengguyur bumi sejak magrib keesokan harinya. Lampu ruang tamu berkedip redup sebelum menyala malas. Arga melangkah masuk pukul sembilan malam dengan ujung celana yang basah oleh air hujan.

“Kamu kembali ke sanggar?” tanya Arga langsung sambil membuka kancing pergelangan tangannya.

Niken tetap melanjutkan kegiatannya melipat kaus. “Iya.”

“Latihan menari lagi?”

“Iya.”

Arga menghela napas berat. “Kamu tahu orang-orang mulai berbisik dan bertanya?”

Gerakan tangan Niken terkunci. “Siapa?”

Arga mengedikkan bahu acuh. “Ya tetangga. Orang-orang.”

“Orang yang mana, Arga?”

“Sudahlah.” Arga meraih handuk, mengusap rambutnya yang lembap dengan gusar. “Aku cuma tidak habis pikir, untuk apa menghidupkan sesuatu yang sudah mati? Kamu sudah punya pekerjaan tetap, rumah ini juga butuh diurus.”

Niken menatap tumpukan pakaian yang rapi di depannya. Suara hujan di atap seng bagian belakang terdengar seperti gemuruh tabuhan kendang yang menuntut jawaban.

“Aku cuma latihan menari, Arga. Aku tidak sedang menjual diri.”

“Aku tahu,” potong Arga cepat, lalu berbalik menuju kamar.

Di sela keheningan yang tegang itu, seolah ditiup angin, sampur merah yang tadinya tersimpan di dalam lemari luruh dan tergeletak di lantai ruang tengah. Niken tidak ingat pernah mengeluarkannya. Ia melangkah mendekat, berlutut, dan memungut kain itu.

Saat ia menegakkan tubuh, pandangannya kembali terlempar ke langit-langit rumah. Meja makan di bawah sana tampak asing dan kerdil. Rak piring terlihat sunyi. Arga berdiri di ambang pintu kamar, sedikit membungkuk untuk memungut handuknya yang terjatuh. Di sudut plafon, sarang laba-laba itu bergoyang pelan ditiup angin dari celah ventilasi.

Niken memejamkan mata erat-erat. Tidak, pikirnya. Aku tidak akan membiarkan diriku tertinggal di atas sana.

Ia menunduk. Ujung sampur merahnya menyapu ubin. Dinginnya keramik menjalar dari telapak kakinya, membakar kesadarannya untuk pulang ke tubuh sendiri.

“Niken,” panggil Arga dari kejauhan.

“Ya?”

“Kamu tidak apa-apa?”

“Aku sangat apa-apa.”

Niken tidak mengembalikan sampur itu ke dalam lemari. Ia membawanya ke ruang tamu yang temaram. Tanpa alunan pemutar musik, tanpa tabuhan bonang maupun kendang, ia membentangkan kain merah itu di udara malam.

Hujan masih setia di luar. Dari arah dapur, ketukan air dari keran yang bocor menjelma ritme yang magis. Niken mengangkat lengan kanannya. Pergelangan tangannya meliuk teliti, jari-jarinya merekah membentuk ngrayung. Bahu kirinya merendah, menopang beban sunyi yang selama ini ia pikul sendiri. Kaki kanannya bergeser, mantap dan berakar.

Ia tidak berhenti. Ia melanjutkan ke gerakan berikutnya, lalu berikutnya. Itu adalah tarian pembebasan diri. Sampur merah itu berkibar mengikuti ke mana pun lengannya menuntut.

Arga berdiri membatu di ambang pintu, menyembunyikan separuh tubuhnya di balik kegelapan koridor. “Niken”

Niken tidak menoleh, tidak juga menjawab. Ia terus menari dalam diam hingga peluh membasahi leher daster birunya. Ketika ia akhirnya menurunkan kedua tangan dan menyudahi tariannya, ia merasa tubuhnya telah utuh kembali. Niken melipat sampur itu dengan takzim, meletakkannya di atas meja ruang tamu, tepat di bawah sorot lampu. Ia tidak akan menyembunyikannya lagi.

Senin pagi, udara sekolah terasa lebih bersih. Beberapa anak perempuan telah berkerumun di depan pintu kelas dengan mata berbinar.

“Bu Niken, jadi kan kita latihan tari?”

“Untuk pentas 17-an, Bu! Kata Pak Kepala Sekolah, kelas kita harus tampil.”

Niken meletakkan tas dan buku tugasnya di atas meja. Ia menatap wajah-wajah polos yang mendambakan gerak itu.

“Ya sudah. Dorong mejanya ke tepi. Buat lingkaran.”

Anak-anak riuh bergerak. Dua anak saling dorong berebut posisi paling depan, sementara yang lain hampir terjerembab saat mencoba berputar secara serampangan. Niken tertawa—sebuah tawa lepas yang sudah lama tidak mampir ke tenggorokannya.

“Pelan-pelan, Sayang. Jinakkan dulu kakinya.”

Niken membuka tasnya, mengeluarkan sampur merah warisan ibunya. Kain itu bersinar di bawah lampu neon kelas yang terang. Seorang murid perempuan mendekat, matanya menatap takjub. “Bagus sekali kainnya, Bu.”

“Jangan ditarik, ya.”

Niken mengikatkan kain itu pada pinggangnya, membiarkan ujung dengan bekas jahitan lama itu terurai bebas di sisi tubuhnya. “Lihat kaki Ibu,” titahnya tegas namun lembut. “Fokus pada pijakanmu, jangan dulu pikirkan tangan.”

Anak-anak mulai meniru gerakannya. Ada yang terlalu tergesa, ada yang kehilangan keseimbangan dan salah arah. Niken berjalan perlahan di antara barisan mereka. Ia merendahkan tubuhnya, menyentuh lembut pergelangan kaki seorang murid untuk membetulkan tumpuan, lalu beralih menepuk pelan bahu murid lain agar tidak tegang.

“Begini, Bu Niken?”

“Hampir benar. Turunkan bahumu sedikit lagi, Nak. Biarkan jiwamu mengalir ke sana.”

Murid itu mencobanya kembali. Kali ini, gerakannya melambat, menjadi lebih patuh pada ritme tubuhnya sendiri. Niken melangkah ke depan kelas, mengangkat sepasang lengannya ke udara. Pergelangan tangannya memutar gemulai, membiarkan sampur merah itu menepis debu-debu kapur di udara.

“Bu, lihat aku! Begini?”

Niken mendekat, membetulkan sudut siku anak itu dengan sentuhan yang hangat dan penuh keyakinan. “Jangan gerakkan dari jemarimu. Mulailah dari dalam sini, mulai dari bahumu.”

Anak itu mengangguk paham dan mencoba sekali lagi. Niken melangkah mundur, ikut mengangkat tangannya, dan bersama anak-anak itu, ia menari menembus dinding-dinding yang selama ini mengungkungnya. Di langit-langit kelas itu,

tidak ada sarang laba-laba. Hanya ada udara bebas yang siap mereka warnai dengan kepakan sampur merah.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda