Kamar di ujung lorong itu selalu memiliki hawa yang sedikit berbeda. Lebih sejuk, namun sekaligus terasa lebih diam, seolah udara enggan berganti meskipun jendela telah dibuka lebar-lebar setiap pagi.
Ketika pertama kali menempati kamar tersebut, satu-satunya perabotan yang tertinggal dan tidak sempat disingkirkan oleh penghuni sebelumnya adalah sebuah meja rias kayu jati yang tampak sangat tua.
Di atasnya, menempel permanen sebuah cermin lonjong dengan bingkai ukiran rumit bergaya Eropa klasik. Bentuk dan lekuk ukirannya membawa kesan berat dan kuno, mengingatkan pada sisa-sisa perabotan era kolonial Belanda yang sering dibiarkan berdebu di rumah-rumah tua.
Kayu jatinya masih sangat kokoh, berwarna cokelat gelap dengan aroma apak yang khas, namun bagian kacanya memiliki satu cacat yang mencolok: sebuah retakan halus yang membelah tepat di sudut kanan atas, memanjang ke bawah seperti kilat kecil yang membeku di dalam kaca.
Pada minggu-minggu pertama, retakan itu sama sekali tidak mengganggu rutinitas keseharian. Kehidupan berjalan seperti air mengalir.
Cermin itu tetap menjalankan fungsinya dengan baik, memantulkan bayangan saat sedang merapikan kerah baju atau sekadar menyisir rambut sebelum berangkat memulai hari.
Hanya saja, seiring berjalannya waktu, ada kejanggalan kecil yang perlahan merayap masuk ke dalam kebiasaan yang damai tersebut. Semuanya dimulai dari sudut mata.
Setiap kali melintas di depan cermin itu tanpa sengaja, selalu ada bayangan sekelebat yang tertangkap di bagian kaca yang retak.
Terkadang terlihat seperti helaian kain kusam yang melambai pelan, dan di hari lain tampak seperti siluet seseorang yang sedang berdiri diam membelakangi ruangan.
Namun, setiap kali langkah dihentikan dan kepala ditolehkan untuk memastikan, kaca itu hanya memantulkan dinding kamar yang kosong dan polos.
Kejanggalan itu perlahan berubah menjadi teror tipis yang mengusik ketenangan saat malam tiba. Suasana sunyi seolah menjadi pengeras suara bagi hal-hal yang tak kasatmata di dalam kamar.
Suatu malam yang sepi, di bawah cahaya lampu kamar yang sengaja dibuat sedikit temaram, pantulan di dalam cermin mulai terasa tidak sinkron.
Retakan di sudut kanan atas itu tiba-tiba terlihat seolah bukan sekadar goresan pada permukaan datar, melainkan sebuah celah sempit menuju ruangan lain yang bentuknya persis sama, namun diliputi bayangan yang jauh lebih pekat.
Rasa penasaran entah mengapa berhasil mengalahkan rasa takut yang mulai menjalar di tengkuk. Langkah kaki perlahan mendekati meja rias tua tersebut.
Udara di sekitar cermin terasa turun beberapa derajat, jauh lebih dingin. Mata memicing, menatap lurus ke arah pantulan wajah sendiri di dalam sana.
Semuanya terlihat normal dan tenang, sampai tiba-tiba, kelopak mata pada pantulan di dalam cermin itu berkedip perlahan, padahal mata di dunia nyata sedang menatap nanar tanpa berkedip sama sekali.
Jantung berdegup kencang menghantam dada, namun kedua kaki seakan tumbuh akar, terpaku kuat ke lantai ubin. Pantulan itu kini sepenuhnya menolak untuk meniru gerakan aslinya.
Sudut bibir di dalam cermin itu perlahan melengkung naik, membentuk sebuah senyuman tipis yang dingin dan sama sekali tidak ada di wajah aslinya.
Lalu, dengan gerakan yang sangat pelan dan kaku, tangan kiri dari sosok di dalam cermin itu terangkat naik. Tangan pucat itu bergerak mendekati bagian tepat di mana retakan itu berada.
Terdengar bunyi ketukan yang sangat pelan dan ritmis. Tuk… tuk… tuk… Bunyi itu tidak berasal dari benda di dalam kamar, melainkan murni dari balik permukaan kaca.
Ujung jari pucat di dalam cermin itu menekan retakan tersebut dari arah dalam, seakan berusaha memperlebar jalan keluar.
Sesaat kemudian, memecah kesunyian malam, terdengar bunyi halus kaca yang merekah.
Krek. Retakan yang tadinya hanya sebatas sudut kanan atas, kini merambat dan bertambah panjang dua sentimeter ke bawah.
Tidak ada teriakan yang keluar dari tenggorokan, hanya napas yang tertahan karena ketakutan yang melumpuhkan. Dengan sisa tenaga yang ada, langkah kaki perlahan ditarik mundur selangkah demi selangkah, menjauhi meja rias peninggalan masa lalu itu.
Tanpa memalingkan pandangan dari cermin yang kini menampilkan sosok tersenyum pucat yang diam menunggu dalam kegelapan, tangan meraba kenop pintu di belakang punggung.
Malam itu, kamar di ujung lorong tersebut dibiarkan kosong tak berpenghuni, ditinggalkan bersama sebuah cermin tua yang diam-diam terus memperpanjang garis lukanya di tengah kegelapan.