Menggarap naskah cerita fiksi berlatar masa lampau hingga larut malam sudah menjadi bagian dari rutinitas yang sulit dihilangkan. Keheningan malam selalu menawarkan ruang berpikir yang lebih jernih, membiarkan imajinasi melesat tanpa batas.
Di sudut meja kerja berlapis taplak kain kasar, bersanding dengan laptop modern yang layarnya terus berpendar terang, bertengger sebuah mesin tik manual berwarna hitam legam.
Benda besi peninggalan era kolonial seberat hampir sepuluh kilogram itu dibeli dari sebuah pasar loak murni untuk pajangan, sekadar penambah nuansa klasik di ruang kerja yang sempit dan dipenuhi tumpukan buku sastra lawas.
Tuts-tuts bulatnya sudah keras, pitanya mengering, dan tuas mekaniknya kerap macet. Sehari-hari, mesin tik itu hanya menjadi saksi bisu, berdiam diri mengumpulkan debu.
Malam itu, jarum jam dinding di atas pintu baru saja melewati angka dua belas. Suasana di luar ruangan begitu pekat dan sepi, hanya terdengar sayup-sayup paduan suara jangkrik dari arah pekarangan samping.
Saat jari-jemari sedang sibuk merangkai paragraf di atas keyboard laptop yang nyaris tak bersuara, sebuah bunyi logam beradu tiba-tiba memecah kesunyian.
Takk!
Suaranya tunggal, berat, dan bergema pelan di dalam dada. Bunyi itu jelas berasal dari sudut meja di sebelah kiri.
Pandangan seketika beralih dari layar monitor ke arah mesin tik tua tersebut. Tidak ada apa-apa di sana. Logam hitamnya tampak diam membeku memantulkan cahaya lampu meja yang kekuningan.
Mungkin hanya suara renggangan kayu meja yang memuai karena perubahan suhu malam hari, pikir hati mencoba merasionalisasi keadaan dan kembali menenangkan diri.
Perhatian kembali dipaksa untuk fokus ke naskah di layar monitor. Namun, belum lima menit berselang, bunyi itu terdengar lagi. Kali ini tidak tunggal, melainkan sebuah ritme beruntun yang sangat familier bagi siapa saja yang mengenal mesin ketik manual.
Takk… takk… takk… sreek… DING!
Bulu kuduk serentak berdiri, mengantarkan hawa dingin yang menjalar cepat dari punggung hingga ke ubun-ubun. Itu sama sekali bukan suara sembarangan.
Itu adalah suara khas hentakan tuas logam yang memukul pita tinta dengan keras, diikuti bunyi geseran silinder yang ditarik mundur secara kasar, lalu diakhiri dengan denting bel nyaring penanda batas pinggir kertas. Masalah utamanya adalah mesin tik itu kosong melompong.
Tidak ada selembar kertas pun yang terpasang di sana, dan kedua tangan ini sedang berada tepat di atas pangkuan, membeku karena terkejut.
Udara di dalam ruangan mendadak terasa jauh lebih padat dan pengap. Embusan napas perlahan terasa berat. Segala suara jangkrik di luar rumah seakan lenyap ditelan kehampaan.
Dengan dorongan rasa penasaran yang mengalahkan rasa ngeri yang mulai merayap, kursi ditarik perlahan ke belakang, menimbulkan bunyi decit pelan di atas lantai ubin.
Langkah kaki diayunkan ragu, mendekati sudut meja yang sedikit gelap. Mata memicing tajam, mencoba menangkap detail apa pun yang salah dari benda tua tersebut.
Ketika jarak tersisa kurang dari setengah meter, langkah terhenti. Di bawah pendaran cahaya lampu yang temaram, terlihat jelas ada selembar kertas buram kekuningan yang entah sejak kapan sudah terselip rapi di balik gulungan silinder karet. Kertas itu tampak tua dan bergelombang, seolah baru saja ditarik dari dalam laci yang lembap.
Tangan terasa bergetar hebat saat mencoba meraih pinggiran kertas yang rapuh itu. Bau kapur barus samar menguar dari arah balok-balok huruf logamnya, menutupi aroma karat yang biasanya tercium. Suara mesin tik itu kini benar-benar berhenti, menyisakan kesunyian ruangan yang justru terasa menekan telinga. Pandangan mata diturunkan dengan hati-hati, membaca deretan huruf kapital berwarna hitam pekat yang tercetak miring dan tidak rata di atas kertas tersebut. Tintanya terlihat masih basah, memantulkan cahaya lampu. Tulisannya hanya satu kalimat pendek:
"K I T A B E L U M S E L E S A I M E N U L I S."
Belum sempat akal sehat mencerna makna dari kalimat ganjil tersebut, sebuah embusan napas yang sangat dingin menyapu pelan tengkuk leher dari arah belakang, tepat di samping telinga. Bersamaan dengan itu, terdengar suara ketukan satu jari yang sangat keras pada tuts mesin tik di depan mata.
Takk!
Tubuh kaku seketika bak patung batu. Tak ada keberanian untuk menoleh ke belakang, menyadari dengan ngeri bahwa malam ini ada sosok lain yang tanpa suara selalu berdiri di belakang kursi, ikut membaca setiap kata yang diketik dalam diam.