Cerita Misteri

Danu Sang Nazir: Mata Merah Pertama

Danu Sang Nazir: Mata Merah Pertama
Danu Sang Nazir: Mata Merah Pertama (Chat GPT)

Di sebuah desa kecil, terdapat sepasang suami istri yang sudah lama menanti kehadiran anak. Bertahun-tahun doa mereka tak kunjung dijawab, hingga akhirnya mereka menyerah. Suatu hari, mereka menemui Pastor Samuel, seorang pastor yang dikenal sebagai eksorsis—imam yang kerap dipanggil untuk menghadapi gangguan roh jahat—untuk menanyakan cara agar mereka mendapatkan anak.

Hari itu, Pastor Samuel tidak langsung memberi jawaban. Ia berkata, “Pulanglah terlebih dahulu. Datang kembali dua hari lagi, saya akan bertanya kepada Tuhan.”

Maka pulanglah suami istri tersebut, dan dua hari kemudian mereka kembali.

Malam itu, Pastor berdoa di kediamannya. Ia juga memiliki pergumulan: tidak ada pewaris yang dapat melanjutkan pelayanannya sebagai eksorsis. Dalam doanya, ia merasa Tuhan menjawab bahwa anak dari pasangan itu kelak akan menjadi penerusnya. Pastor pun mengerti dan berjanji akan membimbing anak itu.

Keesokan harinya, pasangan itu datang kembali.

“Jika Tuhan mempercayakan kalian seorang anak,” ujar Pastor Samuel pelan, “anak itu harus menjadi nazir, diserahkan sepenuhnya untuk melayani Tuhan.”

Mereka saling berpandangan, lalu mengangguk.

“Kami rela, Pastor.”

Pastor menambahkan, “Mulai saat ini, jagalah anak itu, bahkan sejak dalam kandungan. Ia tidak boleh tercemar.”

“Baik, Pastor,” jawab sang suami.

Beberapa bulan kemudian, tepat seperti yang dikatakan, lahirlah seorang anak laki-laki. Mereka menamainya Danu. Saat berusia tiga tahun, mereka membawanya kepada Pastor Samuel untuk diserahkan.

Danu tumbuh seperti anak biasa—namun tidak sepenuhnya. Kemampuannya sudah terlihat sejak kecil. Jika anak lain takut gelap, Danu justru takut pada sesuatu yang bergerak di dalam gelap.

Pastor Samuel mulai membimbingnya, mengajarkan untuk tidak takut dan melatih Danu cara peka terhadap kehadiran roh jahat. Semua itu dipersiapkan untuk pelayanannya kelak.

Pertama kali Danu melihat sosok perempuan berambut panjang di pojok dapur, ia berusia lima tahun. Lalu sosok tinggi di bawah pohon belakang gereja. Pocong di pemakaman bukan lagi hal asing baginya. Ia selalu menceritakan apa yang dilihatnya kepada Pastor.

“Suatu saat, kamu akan melihat yang berbeda,” kata Pastor Samuel. “Dan itu tanda waktumu tiba.”

Beberapa tahun kemudian, seorang pasangan muda membeli rumah mewah dengan harga yang sangat murah. Suatu sore, ketika sedang menyisir rambut, sang istri melihat sesuatu di cermin, sepasang mata merah yang membuat bulu kuduk merinding.

Hal itu terjadi berulang kali. Mereka pun meminta bantuan Pastor Samuel.

Pastor datang bersama Danu. Ini pertama kalinya Danu diajak ke rumah yang mengalami gangguan, di usia delapan tahun.

Sementara Pastor berbincang dengan pasangan itu, Danu berdiri mengamati rumah. Ia merasakan sesuatu. Udara terasa lebih berat.

Tiba-tiba—

SETTT

Sesuatu melintas cepat di sampingnya.

Tak ada yang menyadari. Hanya Danu.

Bulu kuduknya berdiri. Ini bukan seperti yang biasa ia lihat.

Setelah meninggalkan rumah itu, Pastor tidak langsung kembali ke gereja. Ia mengajak Danu mendatangi orang yang menjual rumah tersebut. Seorang pria paruh baya membuka pintu dengan raut enggan.

“Rumah itu… pernah digunakan untuk apa?” tanya Pastor tenang.

Pria itu sempat diam, lalu menghela napas panjang. Ia mengakui bahwa dulu tempat itu bukan rumah biasa. Pernah ada praktik gelap di sana—tempat pelacuran tersembunyi. Bahkan, katanya banyak bayi yang diaborsi di tempat itu demi kepuasan nafsu.

Danu berdiri di samping Pastor, mendengarkan. Dadanya terasa sesak, seolah-olah kata-kata itu memiliki berat yang nyata.

Dalam perjalanan pulang, Pastor hanya berkata pelan, “Danu, ingat ini—tidak ada kegelapan tanpa dosa yang melahirkannya.”

Malam itu, Danu tidak bisa tidur. Setiap memejamkan mata, ia melihat sosok itu.

Tinggi, mengerikan, berdiri di sudut kamar. Kulitnya gelap seperti bayangan yang mengeras. Tangannya dan kukunya panjang. Saat wajahnya terangkat, matanya menyala merah. Giginya tidak rata, tajam seperti serpihan kaca.

Keesokan harinya, Danu menceritakan semuanya.

Pastor Samuel tidak terkejut.

“Bagus, Danu,” katanya pelan. “Kemampuanmu meningkat.”

“Pastor… itu berbeda,” ujar Danu.

Pastor mengangguk. “Memang. Tidak semua yang kamu lihat adalah arwah biasa.”

Ia menjelaskan bahwa makhluk itu bukan sekadar roh, melainkan sesuatu yang terbentuk dari dosa yang pernah terjadi di tempat itu.

“Makhluk itu menjadi kuat karena tempat itu,” lanjut Pastor. “Dan sekarang, ia menyadari kamu bisa melihatnya.”

Pastor menyarankan pasangan itu untuk meninggalkan rumah tersebut.

“Rumah bisa dibeli lagi. Tapi kedamaian tidak.”

Mereka pun pindah.

Di gereja, Danu duduk diam di bangku paling belakang. Kini ia mengerti, kemampuannya bukan sekadar melihat makhluk halus, tetapi memahami sesuatu yang lebih dalam—jejak kegelapan yang tertinggal dari manusia.

Pastor Samuel menepuk bahunya.

“Sekarang kamu siap, Danu.”

“Baik, Pastor.”

Di luar, lonceng gereja berdentang pelan.

Dan di balik jendela, untuk sesaat…

bayangan itu masih berdiri.

Mengawasi.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda