Cerita Misteri

Pocong Berkain Putih Bersih di Rumpun Bambu Belakang Rumah Paklek Randi

Pocong Berkain Putih Bersih di Rumpun Bambu Belakang Rumah Paklek Randi
ilustrasi dahan pohon (Unsplash/MAK)

Lebaran adalah momentum seru dan meriah, mulai dari kumandang takbir hingga acara reuni keluarga besar. Tak peduli jika harus adu outfit, hingga adu kekayaan, persetan juga dengan pertanyaan kapan nikah.

Namun, ada satu kisah horor yang turut meramaikan momentum hari raya: tentang penampakan pocong di belakang rumah nenek. Kisah ini dituturkan oleh Paklek Randi, salah satu pamanku asal Kabupaten T.

“Lho, Randi? Kapan pulang?” tanya Santoso pada seorang pemuda di sebuah pos kampling dekat warung Yu Sum.

“Tadi habis asar,” jawab Randi.

Randi sendiri adalah pengemudi ekspedisi antarprovinsi. Entah dari Jawa Timur ke Jawa Tengah, hingga bahkan ke Jakarta dan Banten. Pokoknya, Randi jarang di rumah. Bisa-bisa, dia pulang setelah tiga bulan bekerja.

“Kamu makin jelek saja, Ran?” ledek Soni. “Sama juga denganku.”

Para pemuda di pos kampling tertawa terbahak-bahak. Sebagian dari mereka memang anak rantau yang pulang setahun sekali. Jadi, acara kumpul begini sudah sangat jarang.

“Gimana kalau kita main skak (catur)?” tawar Santoso.

“Ayo! Terakhir kali kita main catur, hasilnya seri.”

Jadilah Randi dan Santoso segera menyusun bidak-bidak di atas papan catur dan mulai menyusun strategi. Soni justru memesan dua cangkir kopi hitam pada Yu Sum, sedangkan beberapa pemuda lainnya membeli kacang kulit dan aneka jajanan.

“Kalahkan Santoso, Di. Jangan permalukan Dukuh N,” ucap Soni mengompori.

“Jangan hilangkan marwah Dukuh C, San,” ucap yang lainnya.

Randi dan Santoso memang berasal dari dua dukuh berbeda dalam lingkup desa yang sama. Jadi, kalau mereka sudah bermain catur, harga diri masing-masing dukuh bakal dipertaruhkan.

Waktu berjalan dalam permainan catur yang lagi-lagi berakhir seri antara Santoso dan Randi. Mereka berdua sama-sama unggul dan memiliki strategi yang kuat. Saat melirik jam dinding di pos kampling, ternyata sudah pukul dua dini hari.

“Aku pulang saja lah. Mataku sudah ngantuk,” pamit Randi. “Besok kita uji coba lagi. Siapa tahu Dukuh N menang.”

“Berani pulang sendiri? Mau kuantar?” tawar Soni. “Jam segini banyak dedemit berkeliaran.”

Randi mendengkus. Ia lalu meneguk sisa kopi di cangkir sebelum berjalan menjauh, tidak menggubris omongan Soni dan tawa Santoso di belakang. Namanya juga dini hari, sudah tentu sangat sepi. Tak ada orang yang berlalu lalang, kecuali suara jangkrik dan hewan-hewan malam.

Randi lalu berbelok ke rumahnya, yang sebenarnya hanya berjarak sekitar tiga ratus meter dari pos kampling tempatnya bermain catur tadi. Namun, posisi rumahnya memang agak menjorok ke belakang, karena ada kebun di depan rumah. Kebun itu ditanami aneka sayuran oleh ibunya. Begitu juga pekarangan di belakang rumah, dipenuhi tanaman seperti mahoni, pisang, hingga serumpun bambu.

“Emak ya? Tapi Emak nggak punya baju warna putih,” gumam Randi saat melihat seperti ada seseorang di dekat rumpun bambu.

Rasa penasaran membuatnya segera mendekat, hanya untuk membeku di tempat.

Itu bukan emaknya.

Sosok itu terbalut kain putih sekujur tubuh, dengan sisa kain terikat di atas dan bawah tubuh. Dalam kegelapan malam, ia begitu mencolok dengan kain putih bersihnya, nyaris tanpa cela.

Randi tidak bisa bergerak, pun berteriak. Tubuhnya bak kaku, bahkan untuk berkedip saja tak mampu. Matanya terpaku beberapa saat, hingga sosok putih tadi perlahan miring, miring, dan miring sebelum jatuh ke tanah. Barulah setelah itu Randi sanggup berlari ke jalan dan berteriak seperti orang kesetanan.

“Setaaan!”

Santoso, Soni, dan beberapa pemuda yang mendengar suara teriakan spontan berlari. Mereka lalu mendapati Randi dalam keadaan pucat pasi.

“Di, kenapa, Di?”

“Setan… setan…”

Para pemuda sibuk menenangkan Randi yang ketakutan. Sementara itu, Halimah, ibunya Randi, terlihat membuka pintu dan keluar.

“Kamu kenapa, Le? Malam-malam begini kok teriak-teriak?”

“Ada setan, Mak. Di belakang rumah!”

Halimah segera mengambil senter dan berjalan ke pekarangan belakang. Beberapa waktu kemudian, ia kembali.

“Nggak ada apa-apa, Le.”

“Tadi… tadi ada, Mak. Putih… putih… pocong…”

Halimah menggeleng. Ia kemudian berterima kasih kepada para pemuda yang sudah menenangkan Randi, sebelum berbalik mengomeli anaknya.

“Kamu ini anak laki-laki, lho. Masa takut hantu? Lagipula, kalau malam itu jangan keluyuran! Sudah dini hari masih saja main keluar. Kalau sudah ketemu demit begini baru tahu rasa!”

Randi nurut saja saat tangannya digandeng oleh sang emak untuk masuk ke rumah, meski bulu kuduknya masih berdiri dan hawa dingin terus menyelimuti.

“Jadi, warnanya putih bersih, Paklek? Bukan yang ada kotor-kotor tanah atau merah-merah?” tanyaku saat bertamu ke rumah nenek saat Lebaran. “Aku pernah ketemu yang ada merah-merahnya di dekat tempat kerjaku.”

“Yang putih bersih saja sudah ngeri, apalagi yang merah?”

“Memangnya muncul di mana, Paklek?”

“Di belakang rumah. Di sekitar rumpun bambu sama pisang itu.”

Kendati Paklek Randi pernah melihat penampakan sosok pocong di sana, bukan sekali dua kali aku mendapati beliau memanen pisang hingga membersihkan pekarangan belakang rumah. Entah karena sudah tidak terlalu memikirkan sosok itu, atau memang tidak peduli lagi.

Namun, kalau harus jujur, area rumpun bambu dan pisang di belakang rumah nenek memang punya vibes yang berbeda. Rasanya sedikit hampa, dengan kesejukan aneh yang menusuk tulang, dan agak remang, entah karena bayangan pepohonan yang rimbun atau memang karena ada “sesuatu” di sana.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda