Cerita Misteri
Polisi Berdarah di Perlintasan Rel Kereta Api Tanpa Palang Pintu
Shift malam umumnya selalu memiliki kisahnya sendiri. Entah bertemu jejadian, dedemit, atau minimal bertemu orang berperangai setan. Nah, tapi bagaimana kalau sepulang dari shift kerja malam, kamu justru disuguhi pemandangan sosok yang berlumuran darah?
Kisah ini dialami oleh Tante Fitri, tanteku sendiri yang melihat penampakan menyeramkan itu pada awal-awal 2000an. Begini kronologinya.
“Jadi ini jadwalnya shift malam ya, Nduk?” tanya Halimah. “Kuantarkan sampai halte bus bagaimana?”
Fitri setuju. “Boleh, Mak. Antarkan sebelum ashar ya.”
“Iya.”
Fitri sendiri memang bekerja di sebuah pabrik roti di kecamatan sebelah. Lokasinya cukup jauh sehingga perlu naik bus untuk sampai kesana. Belum lagi, dari rumah menuju halte bus di dekat pasar induk, dia harus melewati hamparan sawah yang luas, dan juga perlintasan rel kereta api tanpa palang pintu yang konon kerap menyajikan penampakan sosok-sosok menyeramkan.
“Mak berani pulang kan?” tanya Fitri khawatir. Sebab, Halimah membawa sepeda. “Ini lewat perlintasan rel kereta api angker, lho.”
“Yang penting kan berdoa dulu. Aku ini bukan bapakmu yang penakut.”
“Iya deh. Yasudah, aku berangkat ya.”
Halimah kemudian bergegas pulang sebelum petang makin gelap. Sedangkan Fitri menunggu bus tujuan kota M, yang mana searah dengan tempatnya bekerja. Di dalam bus, rupanya sudah ada beberapa kawan dan mereka segera berbincang hingga sampai di pabrik roti.
“Wah, bonus bakalan keluar banyak. Akhir-akhir ini merk roti kita makin dikenal dan varian baru banyak peminatnya! Ayok semangat!” pekik salah satu pekerja.
“Lumayan buat biaya nikah!” sahut yang lain.
“Ditabung buat beli kambing bisa ini!”
Pabrik roti ini memang beroperasi selama 24 jam dan terbagi atas dua shift dengan puluhan karyawan. Apalagi, merk mereka mulai booming dan dikenal masyarakat, yang tentu saja harus terus memproduksi roti. Varian terbarunya, yakni isian coklat dan bertabur kacang betul-betul ludes di pasaran.
Shift pagi dimulai jam 7 pagi hingga jam 5 sore, sedangkan shift malam dimulai jam 7 malam hingga jam 5 pagi. Yang mana, kisah-kisah seram kerap terjadi pada mereka yang mendapat shift malam.
Ditambah lagi, konon pabrik roti ini dibangun di atas lahan wingit (angker) yang kisahnya diceritakan turun temurun. Entah sebagai tempat pembantaian jaman kolonialisme, tempat pembuangan mayat korban perang, hingga sejarahnya yang dulu pernah menjadi pabrik pengolan kayu.
“Alhamdulillah bisa ngaso (istirahat). Fit, kamu bawa lauk apa?”
“Ikan pindang goreng,” kata Fitri. “Kamu bawa apa?”
“Sayur lodeh.”
Jam istirahat seringnya digunakan karyawan untuk makan atau ke kamar mandi sebelum kembali melanjutkan produksi roti. Sepanjang malam, pabrik terus berkarya. Hingga jam 5 pagi, pasukan shift malam pun akhirnya bisa pulang.
Pagi masih sedikit gelap, dengan hawa dingin sejuk dan sedikit berkabut. Meski begitu, para penduduk lokal sudah sibuk beraktivitas. Ada yang sudah membawa cangkul ke sawah, membawa keranjang untuk belanja ke pasar, hingga bus pagi pun sudah hampir sesak dipenuhi penumpang.
“Tidur pasti enak ini,” kata Fitri. “Mataku rasanya seperti di lem.”
Begitu bus berhenti di halte dekat jalan ke rumahnya, Fitri pun turun. Namun, nasibnya kurang mujur kali ini. Dia tidak menemukan becak atau ojek sama sekali di tempat pangkalan. Alhasil, Fitri pun berjalan kaki saja, hitung-hitung olahraga.
“Jam segini biasanya ramai. Kok tumben, pagi ini sepi?”
Fitri berjalan sambil beberapa kali melakukan peregangan badan. Sambil menghirup udara kampung yang segar, dia segera celingak celinguk sebelum melewati perlintasan rel tanpa palang pintu. Syukurlah, tidak ada kereta yang lewat.
“Mbak….”
Fitri menoleh sewaktu mendengar suara panggilan lirih. Suaranya parau, penuh kesakitan, dan menderita.
“Mbak….”
Mata Fitri melotot tatkala mendapati ada seorang lelaki tergelepar di dekat rel. Tubuh tinggi tegapnya terbalut oleh seragam polisi lusuh penuh darah. Leher lelaki itu tertekuk miring aneh, seperti mau putus dengan darah yang kian mengucur deras.
“Mbak….”
Fitri membeku di tempat. Berbagai pertanyaan mampir di kepalanya. Apakah orang ini adalah korban kecelakaan? Ataukah dia korban tabrak kereta? Dan, sejak kapan dia ada disini?
Namun, ketika melirik nama yang ada di badge seragam lelaki itu, Fitri merasa nyaris pingsan. Disana tertera nama, Nizam.
Nama seorang polisi yang pernah disambar kereta api di rel perlintasan tanpa palang pintu, hingga kepalanya putus beberapa tahun lalu. Dan yang paling salah, sosok lelaki berdarah itu mulai menyeringai dengan sorot mata kosong, dan mulut yang juga tidak luput akan aliran darah.
“Mbak….”
Beberapa detik kemudian, kepala sosok tersebut semakin miring hingga nyaris sembilan puluh derajat, sebelum putus dan menggelinding. Entah mendapat kekuatan darimana, Fitri langsung lari tunggang langgang. Meninggalkan area rel kereta tanpa palang pintu itu, bahkan hingga jatuh bangun. Tidak dia pedulikan luka-luka di lutut, siku, dan lengannya, pokoknya dia harus kabur sejauh mungkin.
Hingga dua ratus meter setelahnya, Fitri berjumpa dengan Mbokde Tumi, seorang penjual sayur keliling yang hendak ke pasar.
“Fit, kamu kenapa kok lari-larian? Itu Yu Mah, Emakmu, sudah mau sampai sini, kok.”
“Anu…” Fitri menghirup napas banyak-banyak. “...ada orang…orang berdarah…di rel..”
Mbokde Tumi segera turun dari sepedanya. “Ada korban ketabrak kereta?”
Fitri menggeleng dengan muka pucat pasi. Tanpa aba-aba, Mbokde Tumi lalu berjalan mendekati rel untuk memastikan perkara apa yang membuat Fitri ketakutan begitu. Namun nihil. Tidak ada apapun atau siapa pun di sana.
Bahkan setelah Fitri tenang dan menceritakan apa yang dia lihat pagi itu, Mbokde Tumi tetap tidak menemukan apa-apa di perlintasan rel tersebut. Kecuali hawa tidak nyaman dan angin pembawa merinding, setiap kali perempuan paruh baya itu melewati lokasi tersebut.