Cerita Misteri
Perempuan Berambut Kuncir Dua yang Bersenandung di Bawah Pohon Sengon Buto
Jujur saja, aku suka ngeri-ngeri sedap saat memandangi sebuah pohon sengon buto (sengon merah) besar di belakang rumah. Bukannya kenapa-kenapa, tetapi selalu ada sekisah horor yang disampaikan beberapa orang. Contohnya seperti keberadaan perempuan berkuncir dua dalam penuturan Pakdhe Rantung di suatu waktu.
Jadi, Pakdhe Rantung adalah paman dari Lek Salim yang pernah tinggal selama beberapa hari. Aku kurang mengerti atas alasan apa beliau menginap, tetapi beliau adalah orang yang grapyak (ramah) dan mudah berbaur. Apalagi kalau sudah bertemu sirkel bapak-bapak, waduh, makin ngalor-ngidul percakapannya.
Hingga suatu waktu, Pakdhe Rantung dibuat ngeri atas apa yang beliau lihat di pohon sengon buto belakang rumahku. Begini kronologinya.
“Keren rumahmu, Le. Sukses ya kamu,” Pakdhe Rantung terpesona memandangi rumah keponakannya, Salim. “Di zamanku dulu, rumah gedongan ini cuma dimiliki pejabat dan orang ningrat.”
Salim terkekeh. “Alhamdulillah, Pakdhe.”
Salim lantas mengajak Pakdhe Rantung berkeliling rumah dan halaman belakang, pun mengenalkan pamannya pada keluarga Bahri, tetangga di sebelah rumahnya. Namun dari awal, ada sesuatu yang menarik perhatian Pakdhe Rantung, yakni sebuah pohon sengon besar di belakang rumah Bahri.
“Ini sengon buto kan, Le?” tanya Pakdhe Rantung. “Kulihat dari kulit pohonnya gelap, dan getahnya (kambium) merah.”
“Betul, Pakdhe. Kalau sebutannya di daerah asal saya sih, sengon merah.”
“Walah, sebesar ini kalau dijual, kamu bisa kaya mendadak, Le.”
Bahri tergelak. “Jangan dijual dulu, Pakdhe. Dibiarkan besar saja, supaya teduh dan tidak panas. Toh anak-anak saya suka bermain di sini.”
Pakdhe Rantung tersenyum saat melihat ketiga anak Bahri bermain di bawah pohon sengon. Anak perempuannya bermain masak-masakan, dan kedua anak lelakinya bermain kelereng serta miniatur truk. Udara di sini terasa sejuk dan rindang, mungkin karena dahan pohon sengon yang membentuk payung besar.
“Melihat besarnya pohon ini, umurnya pasti sudah tua?” tanya Pakdhe Rantung. “Berapa tahun umurnya?”
Bahri terdiam sejenak. “Wah, kurang tahu, Pakdhe. Sebab saya baru pindah kemari di tahun 2004, dan kata pemilik rumah, pohon ini sudah ada sejak tahun 80-an. Mungkin seusia rumah ini, atau sedikit lebih tua lagi.”
Pakdhe Rantung mengangguk. Sejak kedatangannya hari itu, ia merasa terhipnotis oleh pohon sengon buto milik Bahri. Bukan bermaksud ingin memiliki, melainkan merasakan ada ‘sesuatu’ di sana. Seolah ada energi tersendiri yang hadir di eksistensi pohon tersebut.
Malam harinya, Pakdhe Rantung begadang seraya menikmati singkong goreng di teras rumah Salim, sedangkan keponakannya sedang ada meeting online di dalam rumah.
“Aroma melati?” Pakdhe Rantung terheran-heran. Seingatnya tadi siang, di sekitar sini tidak ada tanaman bunga melati. Kok tiba-tiba ada aromanya?
“Betulan demit ya? Demit perempuan?” Pakdhe Rantung kemudian celingak-celinguk. Dia ini adalah tipe manusia yang tidak takut setan. Jadilah, beliau berkeliling demi mencari sosok apa yang berani mengajaknya ‘kenalan’.
“Demit ora ndulit, setan ora doyan!” bisiknya tidak peduli.
Suasana tiba-tiba sangat hening. Bahkan suara jangkrik dan burung hantu terdiam, digantikan embusan angin semilir yang membangunkan bulu roma. Aroma melati masih tercium, dan mulai terdengar suara perempuan bersenandung. Suaranya lirih dan sedikit pedih.
Pakdhe Rantung bersedekap kala melihat ada sesosok perempuan berbaju putih di bawah pohon sengon buto Bahri yang duduk membelakanginya. “Siapa dirimu? Apakah kamu manusia, atau entitas tidak kasat mata?” tanya Pakdhe Rantung datar. “Dari mana asalmu?”
Perempuan tadi tampak membeku sejenak, dan suara senandungnya terhenti. Dia kemudian bangkit berdiri dan menghadap Pakdhe Rantung. Sosok itu tampak tertawa malu-malu dan bersikap salah tingkah yang membuat Pakdhe Rantung mengernyit heran. Sosok itu mengenakan gaun terusan selutut berwarna putih kusam, dengan rambut panjang berkuncir dua berantakan. Yang paling absurd, dia terlihat memakai bedak berdempul yang terlihat aneh nan lucu.
“Siapa namamu?” tanya Pakdhe Rantung saat menyadari bahwa sosok ini bukanlah anak perempuan Bahri. Lagipula, perempuan di depannya ini tidak menapak tanah!
Sosok itu masih tertawa malu-malu. Tingkahnya seperti remaja puber yang kasmaran. Alih-alih menjawab atau berganti rupa menakutkan, dia justru berjalan menjauhi pohon sengon tersebut sebelum menghilang menjadi kepulan asap.
“Setan kasmaran,” gumam Pakdhe Rantung.
Salim yang keluar dari dalam rumah pun terheran saat melihat pamannya bersedekap angkuh sembari memandangi pohon sengon. “Pakdhe kenapa di sini? Sudah malam bukannya masuk rumah, malah melihat pohon sengon. Sampeyan mau cari apa? Penampakan?”
“Sudah ketemu penampakan kok, tadi.”
“Weh, penampakan apa? Pocong?”
Pakdhe Rantung menggeleng. “Bajang. Bajang perempuan genit.”
Meskipun begitu, aku sendiri belum pernah melihat sosok perempuan misterius yang dimaksud oleh Pakdhe Rantung kala itu. Dan sejujurnya, aku tidak mau melihat ataupun bertemu.