Kolom

Fenomena Melihat Hantu: Antara Halusinasi atau Cuan yang Harus Dieksekusi?

Fenomena Melihat Hantu: Antara Halusinasi atau Cuan yang Harus Dieksekusi?
ilustrasi sedang frustrasi (Unsplash/Andrej Lisakov)

Pernahkah kamu melihat hantu? Atau kamu salah satu orang yang kerap melihat hantu? Kalau iya, kita sama! Meski aku bukan anak indigo, tapi di real life aku kerap diganggu dedemit. Entah poci yang ngintip di balik pohon, perempuan menangis, perempuan cekikikan, hingga poci yang menari riang.

Namun, fenomena melihat hantu berhasil diulik oleh beberapa peneliti lho!

Penelitian Tentang Fenomena Melihat Hantu

Melansir laman Psychology Today, Frank T. McAndrew Ph. D. berhasil merangkum beberapa penelitian guna menguak misteri fenomena hantu. Terutama ditujukan kepada orang-orang yang kerap melihat penampakan macam aku. Teori itu antara lain:

Pernyataan Sosiolog Christopher Bader

“Syarat pertama agar ada hantu di rumah adalah seseorang percaya bahwa ada hantu di rumah.” Persepsi ini didorong oleh harapan, kebutuhan, dan kepercayaan. Hal ini berlaku terutama saat informasi sensorik yang kita terima tidak jelas atau ambigu.

Penelitian yang Diterbitkan Tahun 2013

Penelitian ini menegaskan bahwa pengalaman fenomena supranatural paling mungkin terjadi di lingkungan yang terasa mengancam, atau ambigu. Mungkin saat kita berada di tempat asing, dan merasa ngeri karena nggak familiar dengan lokasinya.

Ilmu Psikologi Mengenai Fenomena Melihat Hantu

Lewat Revised Paranormal Belief Scale yang diterbitkan oleh Jerome Tobacyk, setidaknya ada enam kategori kepercayaan yang meliputi:

  1. Prekognisi: kemampuan memprediksi masa depan,
  2. Bentuk kehidupan luar biasa, meliputi keberadaan alien maupun monster Loch Ness,
  3. Spiritualisme: kemampuan berkomunikasi dengan leluhur atau arwah,
  4. Takhayul, meliputi kepercayaan mistis, astrologi,
  5. Ilmu sihir,
  6. Psikokonesis: kemampuan membaca pikiran

Melihat Hantu adalah Hasil Kimia dari Otak

Penelitian terbaru dari laboratorium ahli saraf Olaf Blanke mengungkapkan bahwa komunikasi antara lobus frontal dan temporal otak mungkin bertanggung jawab atas halusinasi pasien Parkinson. Para peneliti juga menemukan bahwa mereka dapat memicu pengalaman kehadiran atau penampakan pada banyak pasien epilepsi dengan menstimulasi area perbatasan antara lobus temporal dan parietal.

Kasarannya, kehadiran hantu mungkin dipicu oleh kesehatan mental seseorang itu sendiri.

Banyaknya Cerita Horor yang Turut Menyumbang Fenomena

Dewasa ini kita temui banyak sekali film-film horor lokal maupun internasional, yang mengemas horor umum atau bahkan mengangkat urban legend daerah tertentu. Tidak muluk-muluk film deh, kamu pasti kerap mendengar cerita-cerita horor, kasak-kusuk misteri, dan teori konspirasi kan?

Aku pribadi cukup menikmati cerita dan novel horor misteri, atau menonton serial horor yang dibintangi aktris Suzzana dari kecil. Plus, cerita urban legend dan hal-hal wingit sudah dikenalkan lingkungan. Barangkali, hal ini turut mempengaruhi diriku, yang jadi sering diganggu penampakan.

Ditambah, ada dua tanggapan yang kuterima sewaktu menceritakan pengalaman penampakan tersebut. Dari Ibu, beliau setuju bahwa memang ada wilayah-wilayah tertentu yang wingit dan angker. Sedangkan dari Bapak, beliau mengajarkan untuk berpikiran netral, stay positive, dan tetap mengedepankan tata krama semisal mengucap salam di tempat baru. Alhasil, kadang aku berpikir: “Apa aku yang halusinasi ya? Tapi tadi jelas ada poci ngumpet di balik pohon mahoni kok!”

Benefit Sering Melihat Hantu

Nggak bisa dipungkiri, aku iri dengan orang-orang normal yang nggak gampang ketemu hantu. Maksudku, hidup mereka slow, tanpa dibayang-bayangi ketakutan dan ketidaknyamanan. Dibandingkan aku yang sering merinding, mencium aroma-aroma aneh, dan beberapa kali lihat begituan.

Namun, ternyata ada benefit yang cukup kusyukuri. Di mana kisah-kisah seram tadi berhasil menjadi cuan, kala dipublikasikan oleh platform Yoursay.id dalam naungan kanal Cerita Misteri.

Nggak hanya sebatas pengalaman pribadi di tempat kerja saja, aku kembali mengingat pengalaman nyeleneh lain semasa sekolah, dan kisah-kisah seram orang-orang yang dibagikan padaku, dan mengeksekusinya menjadi cerita misteri.

So, menurut kalian, hantu itu betulan nyata atau hanya permainan sensorik dan halusinasi semata?

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda