Cerita Misteri

Kuyang yang Mendiami Jembatan Bambu Lawas

Kuyang yang Mendiami Jembatan Bambu Lawas
ilustrasi jembatan bambu (Unsplash/Jana Shnipelson)

Kadang, mendengar kisah hidup dari orang lain tidak hanya memberikan keluh kesah, tetapi juga kisah inspiratif hingga pengalaman horor. Salah satunya adalah perjuangan Mbah Ngartini, wanita tangguh yang pernah mengejar penampakan hantu kepala dan jeroan saat berangkat berdagang ke pasar pada dini hari.

Kisahnya terjadi sekitar tahun 1990-an. Saat itu, Mbah Ngartini tengah sibuk menumpuk daun pisang di halaman rumahnya. Sore itu, beliau berhasil membawa pulang beberapa ikatan besar daun pisang setelah membelinya dari penduduk desa. Meski memiliki beberapa pohon pisang kepok di halaman belakang, beliau harus berkeliling guna mendapatkan lebih banyak dagangan untuk dijual ke pasar induk dini hari nanti.

Mbah Ngartini adalah wanita pemberani yang tidak gentar sedikit pun saat harus berjumpa dengan makhluk halus. Menjelang dini hari, putra beliau, Parlan, sempat menawarinya untuk lewat jalan memutar.

"Kuantar saja lewat Desa N, Mak. Jalannya sudah bagus dan jembatannya kokoh," tawar Parlan.

"Jauh kalau lewat sana, Le. Nanti keburu pagi dan harga bisa anjlok. Lebih baik lewat Jembatan Sesek saja, lebih cepat."

"Jalan sana itu angker, Mak. Wingit. Sudah banyak orang yang bertemu jejadian dan dedemit di sana."

"Halah, sama demit saja takut," sahut Mbah Ngartini enteng.

Parlan tahu betul bahwa Jembatan Sesek adalah jalan tercepat menuju pasar induk. Namun, jembatan yang terbuat dari bambu itu terkenal angker karena tanpa penerangan dan diapit oleh rumpun bambu yang luas. Jika harus melewati Desa N yang memiliki jembatan beton, jaraknya sangat jauh.

Tepat pukul 02.00 dini hari, Parlan mengantar ibunya dengan sepeda kumbang. Namun, setibanya di dekat Jembatan Sesek, Mbah Ngartini meminta diturunkan. Meski sempat berdebat, Parlan akhirnya menyerah karena ibunya bersikeras. Dengan kekhawatiran yang masih tersisa, Parlan pun pamit pulang, meninggalkan ibunya yang melangkah mantap ditemani senter baterai.

Angin berembus dingin, menelusuri tengkuk dan membangunkan bulu roma. Suara gesekan dedaunan bambu terdengar ngeri, berpadu dengan aroma amis darah yang menusuk indra penciuman.

"Sya... sya..."

Mbah Ngartini terus berjalan tanpa memedulikan suara-suara aneh itu. Pikirannya tetap positif dengan langkah yang tenang. Tiba-tiba, terdengar suara parau yang disusul tawa terputus-putus. "Hendak... ke mana... Mbah...?"

Mbah Ngartini berdecak kesal. "Mau ke pasar induk untuk menjual daun pisang," jawabnya cuek.

Ternyata ucapan orang-orang mengenai keangkeran Jembatan Sesek benar adanya. Tepat saat berada di tengah jembatan, Mbah Ngartini dikagetkan dengan kemunculan sosok kepala perempuan lengkap dengan jeroan isi perut yang melayang-layang di udara sambil tertawa-tawa.

"Mau... saya... temani...?" tawar sosok itu.

Mbah Ngartini justru tersenyum kecil. "Boleh saja. Itu ginjal sama jantungmu lumayan kalau dijual."

Setelah mengucapkan hal itu, Mbah Ngartini mengeluarkan sebilah pisau daging yang diselipkan dalam ikatan daun pisang. Sambil mengarahkan senter ke arah sosok tersebut, Mbah Ngartini justru mulai berlari mendekat. "Ayo ke sini, biar kupisahkan kepala dengan jeroanmu!"

Sosok dedemit itu tampak terkejut. Alih-alih meneror, ia justru melayang pergi, menjauh. Mbah Ngartini terus berlari mengejar seperti orang kesetanan sembari menodongkan pisau daging. Sosok tersebut kemudian lenyap di ujung jembatan dan hilang begitu saja.

"Katanya mau menemani, kok malah hilang? Kamu demit apa tukang ngibul?!" teriak Mbah Ngartini sebelum kembali melanjutkan perjalanannya dengan santai.

Sesampainya di pasar, seorang pedagang lain bernama Mbak Ridha berkomentar, "Wah, jenengan berani sekali lewat Jembatan Sesek itu sendirian. Mana masih dini hari pula. Kalau saya, lebih baik lewat Desa N walau lebih jauh."

Mbah Ngartini tertawa lepas. "Demit itu hanya menggoda. Lebih baik ketemu demit daripada ketemu manusia."

"Kok begitu, Mbah?" tanya Mbak Ridha heran.

"Kalau ketemu demit dan kita pingsan ketakutan, paling-paling hanya mereka tertawakan kemudian hilang. Justru kalau ketemu manusia dan kita pingsan, itu bahaya. Bisa-bisa kita dirampok atau malah dibuang ke jurang."

Mbak Ridha mengangguk setuju. Memang benar, meski bertemu dedemit sukses membuat siapa pun membeku ketakutan, sosok setan berwujud manusia yang sering kali jauh lebih beringas dan nyata, tentu jauh lebih menakutkan dibandingkan hantu tulen.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda