Kolom

Mengenal Kerajinan 'Anam Kepang', Esensi Edukatif yang Mati Ditelan Zaman

Mengenal Kerajinan 'Anam Kepang', Esensi Edukatif yang Mati Ditelan Zaman
ilustrasi menganyam bambu (Youtube/KERAJINAN tricraft)

Pada awal 2000an, saya masih menjumpai banyak perajin anyaman bambu di Dusun Tejo, Nyawangan, Kecamatan Kras, Kabupaten Kediri. Kerajinannya sendiri disebut ‘anam kepang’ di mana hasil yang tersaji adalah anyaman bambu selebar 2 x 4 meter yang lazim dipakai menjemur hasil panen.

Menurut KBBI, menganyam bermakna mengatur bilah, daun, dan sebagainya dengan cara tindih menindih dan silang menyilang.

Menjadi perajin anyaman bambu di Dusun Tejo dahulu sangat lumrah. Satu dusun kompak menjadi sentra kerajinan anyaman bambu dengan target ukuran 2 x 4 meter, yang konon terjual sampai Kabupaten Nganjuk. Kerajinan tersebut berfungsi sebagai alas menjemur hasil panen, sebelum adanya pemanfaatan terpal. Ada juga jenis anyaman bambu untuk kesenian jaran kepang.

Berbeda dengan kawasan Dusun Ngegong, Desa Banjarsari, Kecamatan Ngantru, Tulungagung, di mana lebih banyak jenis kerajinan anyaman bambunya. Ada tampah, tompo, rinjing, tempeh, dan sebagainya. Namun dewasa ini, kerajinan anyaman bambu dari kedua lokasi tampaknya berhenti total. Sebab, tidak lagi saya temui aktivitas menjemur iratan (bilah bambu tipis) sebagaimana masa lampau.

Gempuran Barang Modern dan Kurangnya Sokongan Negara

Saya pribadi memahami betapa dunia telah melaju seakan tanpa rem, baik dari teknologi, digitalisasi, hingga perabotan rumahan. Di era lampau, masyarakat memaksimalkan fungsi perabotan berbahan anyaman bambu. Pun masih lazim ditemui rumah berdindingkan anyaman bambu.

Tetapi saat zaman berubah, maka diikutilah dengan pergeseran jenis perabotannya. Perabotan berbahan plastik hingga alumunium lantas membanjiri pasaran. Kemudian sedikit demi sedikit memaksa kerajinan anyaman bambu lenyap tanpa jejak.

Yang sedikit membuat miris adalah, kurangnya sokongan dan ambisius pemerintah daerah dalam menanggapi hal ini. Suatu kawasan yang telah lama menjadi sentra produksi anyaman bambu, dengan sedikit dorongan seharusnya telah berhasil menjadi kawasan edukatif. Namun, hal ini tidak pernah dijalankan bahkan sampai rantai kerajinannya putus dimakan zaman.

Penghasilan yang Dimakan Habis Inflasi

Menurut satu informasi A1 yang pernah menjadi perajin anyaman bambu di Dusun Tejo, sistem yang dipakai ada dua.

Pertama, berutang bambu. Para perajin semula berutang bambu utuh dari tengkulak dengan target jumlah anyaman bambu tertentu. Bila pandai mengatur, maka jumlah anyaman bambu bakal lebih banyak, dan upah yang diperoleh juga lebih tinggi.

Kedua, menitipkan anyaman. Perajin bakal membeli bambu utuh dari tengkulak, kemudian mengeksekusinya menjadi beberapa anyaman bambu sebelum dititipkan pada tengkulak untuk dijual. Upah lazimnya dicairkan pada bulan besar alias Dzulhijjah, di mana harga anyaman bambu melambung tinggi. Jadi, mirip investasi kecil, lah.

Namun, waktu yang dibutuhkan untuk menghasilkan kerajinan juga tergolong lama. Dari proses menggergaji, memotong, sampai irat (mengiris bambu menjadi bilah tipis) sudah memakan waktu beberapa hari. Belum lagi proses menjemurnya. Kalau proses menganyam, bisa membutuhkan waktu semalam (ngebut dan express), bisa juga butuh waktu beberapa hari.

Di masa sekarang ketika kebutuhan hidup mahal, para generasi baru banting stir menjadi pejuang devisa negara alias bekerja ke luar negeri. Walaupun beberapa di antaranya masih fokus berwirausaha, menggarap lahan sawah, atau bekerja sebagai driver truk besar.

Matinya Esensi Edukatif

Yang disayangkan dari putusnya rantai kerajinan ini adalah, matinya esensi edukatif yang semestinya layak diperjuangkan. Alih-alih menyalahkan penduduk, saya lebih menyayangkan kinerja pemangku jabatan yang harusnya lebih gercep menangkap perubahan zaman. Saya tahu bahwa penduduk juga perlu memenuhi kebutuhan harian, dan menjadi perajin anyaman bambu di masa ini tidak lagi relevan.

Kendati membunuh esensi perjuangannya, semestinya patut diolah sebagai desa wisata edukatif, pemeliharaan budaya, dan tentunya jalan efektif bagi kerajinan anyaman bambu ke kancah dunia.

Sebab, menganyam bambu bukanlah hal mudah, dan para perajin umumnya telah memiliki jam terbang dan skill yang tak perlu diragukan lagi.

Skill dan Esensi Era yang Hanya Tersimpan dalam Nostalgia

Pada akhirnya, kerajinan anyaman bambu kini hanya suatu esensi era, dan kisah-kisah yang sampai pada anak cucu. Tidak lagi saya dapati iratan bambu yang dijemur di halaman maupun tepi jalan di Dusun Tejo, melainkan kenangan-kenangan yang tersimpan rapi.

Sebagaimana bunga edelweis yang abadi, memorinya masih tertata apik hingga saat ini. Kendati demikian, saya masih berharap suatu saat kawasan tersebut kembali dengan nyawa lamanya, dan menjadi sentra kerajinan anyaman bambu yang layak menjadi kawasan cagar budaya.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda