Cerita Misteri
Kutukan Merenggut Jiwa di Hutan Larangan
Hutan itu tidak pernah benar-benar sunyi. Dimas baru memahami hal tersebut ketika matahari tenggelam di balik pepohonan. Awalnya, ia mengira suara-suara yang mengikutinya hanyalah angin.
Kemudian, sebuah ranting berkata, “Jangan injak aku.”
Dimas pun membeku. Di bawah sepatunya, ranting patah itu bergerak pelan.
“Aku sedang tidur,” gumamnya.
Dimas langsung berlari.
Ia tersesat sejak sore. Awalnya, ia dan tiga temannya masuk ke hutan untuk mencari jalur lama menuju sebuah desa yang konon telah ditinggalkan puluhan tahun. Mereka membawa senter, kamera, dan keberanian yang ternyata jauh lebih sedikit daripada yang mereka bayangkan.
Raka, teman yang paling berani sekaligus paling keras kepala, memimpin perjalanan.
“Tidak ada hantu,” katanya sambil tertawa.
Sementara Zahra, yang sejak awal merasa tidak nyaman, beberapa kali meminta mereka pulang.
“Dari tadi aku merasa ada yang mengikuti.”
“Paling tupai,” jawab Raka.
Lalu Dimas melihat sesuatu di bawah pohon besar. Sebuah ompreng makanan.
Terbuat dari aluminium kusam. Permukaannya dipenuhi goresan panjang seperti bekas cakar. Pada salah satu sisinya terdapat noda merah kehitaman yang telah mengering. Tutupnya penyok dan di bagian tengahnya ada retakan menyerupai senyuman.
“Siapa yang buang beginian di tengah hutan?” tanya Zahra.
Ompreng itu berbunyi. "Ting."
Ketiganya diam. Kemudian tutupnya terbuka sendiri.
“Sudah lama sekali,” bisik suara serak dari dalamnya.
Dimas menjatuhkan senternya.
“Siapa?” tanya Zahra dengan suara gemetar.
“Aku lapar.”
Raka mundur satu langkah.
Ompreng itu kembali berbunyi. "Ting. Ting. Ting."
“Aku lapar,” ulangnya.
Di sekeliling mereka, benda-benda lain mulai bergerak. Sebuah botol plastik terguling keluar dari semak.
“Jangan beri dia apa pun,” bisiknya.
Kaleng berkarat di dekat akar pohon bergetar.
“Diam!” bentak kaleng itu. “Kau akan membuatnya marah!”
Sebuah sendok patah merangkak perlahan dari tanah.
“Sudah ada tiga orang sebelum kalian,” katanya.
Zahra menangis.
Dimas menarik tangannya. “Kita pergi. Sekarang.”
Namun Raka justru menatap ompreng itu.
“Ini cuma ulah seseorang.”
Ia mengangkat batu.
“Raka, jangan!” teriak Dimas.
Terlambat.
Batu itu menghantam tutup ompreng, hingga berbunyi, "Ting!"
Suara benturan itu menggema ke seluruh hutan. Lalu semuanya diam. Bahkan serangga pun berhenti berbunyi. Ompreng itu membuka tutupnya perlahan. Dari dalamnya mengalir cairan merah. Bukan darah. Lebih kental. Lebih hitam. Kemudian suara ompreng berubah.
“Sekarang,” katanya.
“Aku kenyang.”
Dimas menatap Raka. Raka tidak bergerak. Wajahnya pucat.
“Apa?” bisik Dimas.
Di belakang Raka, sesuatu berdiri di antara pepohonan. Tinggi. Kurus. Wajahnya tidak terlihat.
Zahra menjerit. Makhluk itu menyentuh bahu Raka. Dalam sekejap, Raka menghilang.
Tidak ada teriakan.
Tidak ada darah.
Hanya tasnya yang jatuh ke tanah.
Ompreng itu tertawa.
"Ting. Ting. Ting."
Dimas dan Zahra berlari tanpa menoleh.
Mereka terus berlari hingga menemukan sebuah pondok tua. Pintu kayunya terbuka. Di dalamnya terdapat meja panjang. Di atas meja, puluhan benda tersusun rapi.
Piring retak.
Pisau tumpul.
Cangkir pecah.
Jam tangan berhenti.
Dan puluhan ompreng.
Semua memiliki noda merah.
“Selamat datang,” kata sebuah piring.
Zahra mundur.
“Kalian tidak boleh keluar,” ujar sendok.
“Tidak sebelum salah satu dari kalian menggantikan kami,” tambah botol plastik.
Dimas melihat dinding pondok. Di sana terdapat tulisan yang hampir terhapus. Terdapat kata, "Jangan pernah membawa pulang ompreng ini."
Tiba-tiba, Zahra menggenggam tangan Dimas.
“Kita masih bisa keluar.”
Dimas mengangguk.
Mereka berlari menuju pintu.
Namun ketika Dimas sampai di luar, Zahra tidak lagi berada di belakangnya.
Ia menoleh. Pondok itu hilang. Hanya ada hutan.
Dan ompreng makanan itu. Tergeletak di tanah. Dimas mengambilnya. Ia tidak tahu mengapa. Mungkin karena takut. Mungkin karena ingin menyelamatkan Zahra atau mungkin karena sejak awal, benda itu memang ingin dibawa pulang.
***
Pagi harinya, Dimas ditemukan di pinggir jalan oleh warga.
Sendirian.
Ia tidak mampu mengingat apa yang terjadi.
Polisi menemukan tas Raka.
Namun Zahra tidak pernah ditemukan.
Beberapa hari kemudian, Dimas pulang ke rumah.
Ia mencoba melupakan semuanya.
Hingga suatu malam, ketika membuka lemari dapur, ia mendengar suara yang sangat dikenalnya.
"Ting."
Dimas membeku. Ompreng itu ada di sana. Dia sangat bersih. Tidak ada goresan. Tidak ada darah. Tutupnya terbuka perlahan.
“Dimas,” katanya. “Aku lapar,” sahut ompreng itu pelan.
Dimas mundur. “Apa yang kau inginkan?”
Ompreng itu tertawa. Lalu, dari dalam pantulan permukaan aluminiumnya, Dimas melihat sesuatu yang membuatnya berhenti bernapas. Bukan wajahnya.
Melainkan wajah Zahra dengan mata kosong. Zahra tersenyum dari dalam ompreng.
“Jangan takut,” bisiknya.
“Aku juga dulu membawa ompreng ini pulang.”
Dimas menjatuhkan benda itu. Namun ompreng tersebut tidak jatuh. Ia tetap menggantung di udara. Lalu tutupnya membuka semakin lebar dan untuk pertama kalinya, Dimas sadar bahwa ompreng itu bukan wadah makanan.
Ompreng itu adalah mulut. Selama ini, ia tidak pernah tersesat di dalam hutan. Hutanlah yang sedang mencari jalan untuk masuk ke rumahnya.