Cerita Misteri

Perempuan Berkebaya Lumut di Jalan Hutan

Perempuan Berkebaya Lumut di Jalan Hutan
Ilustrasi Perempuan Berkebaya Lumut di Jalan Hutan (Gemini)

Aku pernah melewati sebuah jalan hutan yang menurut warga setempat tidak boleh dilalui sembarangan. Bukan karena jalannya rusak atau sering terjadi longsor, melainkan karena ada cerita tentang seorang perempuan yang berdiri di tengah jalan. Anehnya, tidak semua orang bisa melihat sosok itu.

Aku baru mengetahui cerita tersebut ketika berkunjung ke desa tempat tinggal Puput, teman lamaku. Sore itu, aku berniat pulang ke kota sebelum malam. Namun, Puput menyarankan agar aku menunda perjalanan.

“Kalau mau lewat jalan hutan, sebaiknya tunggu besok pagi,” katanya.

“Memangnya kenapa? Bukankah itu jalan tercepat menuju kota?”

Puput terdiam sebentar sebelum menjawab, “Ada sesuatu di sana.”

Aku tertawa kecil. Kukira ia hanya sedang menakut-nakutiku.

“Jangan bercanda. Aku sudah sering melewati jalan sepi.”

“Aku tidak sedang bercanda, Jon. Warga sini punya cerita tentang perempuan yang suka berdiri di tengah jalan hutan.”

Aku mulai tertarik. Menurut Puput, perempuan itu mengenakan kebaya berwarna hijau lumut dan cokelat gelap. Pakaiannya tampak menyatu dengan pepohonan, seolah-olah ia bagian dari hutan itu sendiri. Rambutnya panjang terurai, sementara wajahnya pucat dan tatapannya sulit ditebak.

“Kalau ada orang melihatnya, apa yang terjadi?” tanyaku.

“Orang itu biasanya tidak bisa menemukan jalan keluar.”

Aku menganggap cerita tersebut sebagai mitos yang berkembang di masyarakat. Meski demikian, aku akhirnya memutuskan menginap semalam di rumah Puput.

Keesokan paginya, sebelum berangkat, aku bertemu Pak Dono, seorang warga sepuh yang dikenal mengetahui banyak cerita tentang desa itu. Ketika mendengar rencanaku melewati jalan hutan, ia mengingatkanku agar tidak berhenti di tengah perjalanan.

“Lewati saja jalan itu seperti biasa. Jangan mencari sesuatu yang tidak perlu dicari,” pesannya.

Aku mengangguk, meskipun belum sepenuhnya memahami maksud perkataannya.

Perjalanan dimulai sekitar pukul sembilan pagi. Jalan hutan itu membentang di antara pepohonan tinggi. Cahaya matahari masuk melalui celah dedaunan, membentuk bayangan yang bergerak mengikuti arah angin. Sesekali terdengar suara burung dari kejauhan.

Aku mengendarai sepeda motor dengan kecepatan sedang. Tidak ada sesuatu yang aneh sepanjang perjalanan. Aku juga tidak melihat perempuan berkebaya seperti yang diceritakan Puput.

Namun, beberapa ratus meter sebelum tikungan besar, aku melihat sebuah sepeda motor terparkir di pinggir jalan. Di dekatnya terdapat seorang laki-laki yang berjalan mondar-mandir sambil memperhatikan keadaan sekitar.

Awalnya aku mengira motornya mogok. Aku memperlambat kendaraan dan bertanya apakah ia membutuhkan bantuan.

“Mas, sedang ada masalah?” tanyaku.

Laki-laki itu menoleh. Wajahnya terlihat gelisah.

“Saya mencari jalan keluar. Dari tadi lewat sini terus, tetapi tidak sampai ke mana-mana.”

Aku memperhatikan jalan di belakangnya. Seharusnya, jika ia mengikuti jalur tersebut, ia akan sampai ke persimpangan desa.

“Bukankah jalan ini lurus saja?” tanyaku.

“Iya, tadi saya juga berpikir begitu. Tapi setiap kali sampai tikungan, saya kembali ke tempat ini.”

Aku tidak tahu harus menjawab apa. Setelah menunjukkan arah menuju desa, aku melanjutkan perjalanan. Namun, sebelum pergi, aku sempat mendengar laki-laki itu menggumamkan sesuatu.

“Perempuan itu terus menghalangi jalan saya.”

Aku teringat cerita Puput.

Sesampainya di desa, aku menceritakan kejadian tersebut kepada Pak Dono. Mendengar penjelasanku, ia tidak terlihat terkejut.

“Jadi, kamu bertemu orang itu?” tanyanya.

Aku mengangguk.

Pak Dono kemudian menjelaskan bahwa beberapa warga pernah mengalami kejadian serupa. Ada orang yang masuk ke jalan hutan dan merasa telah berjalan jauh, tetapi selalu kembali ke tempat semula. Mereka mengaku melihat seorang perempuan berdiri di tengah jalan. Ketika mencoba mendekatinya, sosok itu menghilang dan muncul kembali di tempat lain.

“Apakah perempuan itu memang hantu?” tanyaku.

Pak Dono menarik napas panjang sebelum bercerita.

Dahulu, ada seorang perempuan yang tinggal tidak jauh dari hutan tersebut. Ia dikenal sebagai sosok yang suka menolong dan tidak pernah mengganggu orang lain. Suatu hari, ia menjadi korban kejahatan seseorang yang berniat buruk. Sejak peristiwa itu, warga percaya arwahnya masih berada di sekitar jalan hutan.

Namun, ada satu hal yang membuat cerita tersebut berbeda.

“Orang yang melewati jalan itu dengan niat baik tidak akan melihatnya,” ujar Pak Dono. “Mereka akan lewat seperti biasa. Sebaliknya, orang yang membawa niat buruk akan melihat perempuan itu. Ia akan menunjukkan jalan yang membuat mereka terus berputar-putar.”

Aku terdiam. Tiba-tiba, perkataan laki-laki yang kutemui tadi kembali terngiang.

“Lalu, bagaimana dengan orang yang tersesat?” tanyaku.

“Kalau mereka sudah ditemukan warga, biasanya bisa kembali. Tetapi tidak semua orang mau mengakui alasan sebenarnya mengapa mereka berada di sana.”

Pak Dono tidak menjelaskan lebih jauh. Aku pun tidak ingin mendesaknya.

Menjelang sore, aku bersiap pulang. Puput kembali mengingatkanku agar berhati-hati. Kali ini, aku tidak menertawakan perkataannya.

Ketika melewati jalan hutan, suasananya tampak sama seperti pagi tadi. Pepohonan berdiri rapat, angin menggerakkan dedaunan, dan cahaya matahari mulai meredup.

Aku tidak melihat siapa pun di tengah jalan.

Namun, saat melewati tikungan besar, mataku menangkap sesuatu di antara pepohonan. Sekilas tampak seperti kain kebaya berwarna hijau lumut yang tersangkut pada batang pohon. Aku memperlambat kendaraan, tetapi ketika menoleh kembali, benda itu sudah tidak terlihat.

Aku tidak berhenti. Aku terus melaju sampai keluar dari kawasan hutan.

Sejak kejadian itu, aku tidak lagi menganggap cerita Puput dan Pak Dono sebagai sekadar kisah untuk menakut-nakuti pendatang. Aku juga mulai memahami pesan Pak Dono: tidak semua orang yang tersesat kehilangan arah karena tidak mengenal jalan.

Ada kalanya seseorang tersesat karena niat yang dibawanya sendiri.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda