Kolom

Dampak Bahaya Tone Deaf, saat Ucapan Merusak Empati dan Pertemanan

Dampak Bahaya Tone Deaf, saat Ucapan Merusak Empati dan Pertemanan
Ilustrasi komunikasi tone deaf. (pexels.com/Visual Tag MX)

Tidak semua perkataan yang terdengar biasa dapat diterima dengan baik. Di tengah banyaknya persoalan hidup, komunikasi yang tidak peka justru bisa melukai hubungan sosial. Seperti misalnya, kita punya teman sedang bercerita bahwa dirinya kehilangan pekerjaan. Ia kebingungan membayar kebutuhan sehari-hari dan mulai khawatir dengan masa depannya. Namun, bukannya mendengarkan, seseorang atau temannya justru menjawab, “Ya sudah, cari pekerjaan lain saja. Jangan terlalu dipikirkan.”

Kalimat itu mungkin dimaksudkan sebagai nasihat. Namun, bagi orang yang sedang kesulitan, respons tersebut bisa terasa meremehkan. Inilah salah satu contoh perilaku tone deaf yang sering tidak disadari dalam kehidupan sehari-hari.

Fenomena tone deaf semakin relevan ketika masyarakat menghadapi tekanan ekonomi, bencana lingkungan, persoalan pekerjaan, dan konflik sosial. Di tengah situasi tersebut, seseorang bisa saja menyampaikan candaan, memamerkan kemewahan, atau memberikan komentar tanpa mempertimbangkan keadaan orang lain.

Persoalannya bukan sekadar pilihan kata, melainkan kemampuan memahami konteks dan perasaan lawan bicara. Jika berlangsung terus-menerus, komunikasi yang tidak peka berpotensi merusak empati, cara berpikir, dan hubungan pertemanan.

Lantas, apa itu tone deaf dalam komunikasi sosial? Menurut Cambridge Dictionary, istilah tone deaf dalam konteks sosial menggambarkan seseorang yang tidak memahami perasaan orang lain atau kebutuhan dalam situasi tertentu. Istilah ini berbeda dari ketidakmampuan membedakan nada musik.

Dalam percakapan sehari-hari, tone deaf merujuk pada ketidakpekaan terhadap suasana, waktu, dan kondisi emosional seseorang. Misalnya, seseorang mengeluhkan kesulitan ekonomi, tetapi temannya justru membicarakan barang mewah tanpa memperhatikan konteks. Perilaku tersebut tidak selalu dilakukan dengan niat menyakiti.

Memahami tone deaf yang perlu diperhatikan adalah bagaimana pesan disampaikan dan siapa yang menerimanya. Mengapa tone deaf bisa pengaruhi cara cerpikir? Kebiasaan mengabaikan sudut pandang orang lain dapat membuat seseorang terlalu bergantung pada penilaiannya sendiri.

Penelitian Adam D. Galinsky dan rekan-rekannya dalam jurnal Psychological Science (2006), berjudul Power and Perspectives Not Taken, menemukan bahwa kondisi berkuasa berkaitan dengan kecenderungan lebih rendah untuk memahami perspektif orang lain. Dalam eksperimen tersebut, peserta yang berada dalam kondisi berkuasa cenderung lebih sulit memperhitungkan informasi dan pengalaman yang tidak mereka miliki.

Temuan itu tidak membuktikan bahwa semua orang berkuasa kehilangan empati. Namun, penelitian tersebut membantu menjelaskan mengapa seseorang dapat terlalu yakin pada pandangannya sendiri. Hubungan pertemanan membutuhkan kepercayaan dan rasa aman untuk bercerita. Ketika seseorang mengungkapkan kesedihan, ia belum tentu membutuhkan nasihat panjang. Terkadang, ia hanya ingin didengarkan tanpa dihakimi.

Penelitian Rui Pei dan rekan-rekannya yang diterbitkan dalam Nature Human Behaviour pada Oktober 2025 mengamati komunitas mahasiswa yang melibatkan 5.192 partisipan. Penelitian tersebut menemukan bahwa mahasiswa yang memandang teman-temannya memiliki empati lebih tinggi melaporkan kesejahteraan yang lebih baik. Sebaliknya, mereka yang menganggap orang lain kurang berempati cenderung enggan mengambil risiko sosial dan semakin terisolasi seiring waktu.

Temuan tersebut tidak secara khusus meneliti istilah tone deaf. Namun, hasilnya menunjukkan bahwa persepsi terhadap empati memiliki hubungan penting dengan kedekatan sosial. Bayangkan seseorang yang berulang kali mendapat respons merendahkan ketika bercerita. Lama-kelamaan, ia mungkin memilih menyimpan masalahnya sendiri. Hubungan yang sebelumnya dekat dapat berubah menjadi sekadar percakapan biasa karena kepercayaan mulai berkurang.

Dampak komunikasi tidak peka tidak selalu terlihat melalui pertengkaran. Salah satu akibat yang sering luput diperhatikan adalah berkurangnya keterbukaan. Orang yang merasa tidak dipahami mungkin berhenti menceritakan kesulitannya. Akibat lainnya adalah munculnya kesalahpahaman. Candaan yang dianggap ringan oleh satu pihak dapat terasa menyakitkan bagi pihak lain, terutama ketika berkaitan dengan pengalaman kehilangan, kondisi ekonomi, atau persoalan keluarga.

Perilaku tone deaf juga dapat memperburuk suasana kelompok. Jika komentar meremehkan terus dibiarkan, anggota kelompok mungkin merasa tidak aman menyampaikan pendapat. Namun, satu ucapan yang keliru tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa seseorang tidak memiliki empati. Yang lebih penting adalah bagaimana ia merespons setelah mengetahui perkataannya melukai orang lain. Kesediaan mendengarkan, meminta maaf, dan memperbaiki perilaku merupakan bagian penting dari komunikasi yang sehat.

Dalam buku Nonviolent Communication: A Language of Life, psikolog Marshall B. Rosenberg menjelaskan pentingnya memahami perasaan dan kebutuhan manusia dalam berkomunikasi. Pendekatan komunikasi tanpa kekerasan mengajak seseorang membedakan pengamatan dari penilaian, mengenali perasaan, memahami kebutuhan, dan menyampaikan permintaan secara jelas.

Konsep tersebut relevan untuk mengurangi perilaku tone deaf. Ketika seorang teman mengeluhkan pekerjaannya, misalnya, respons yang lebih peka bukan langsung menyalahkan atau memberikan solusi. Kita dapat terlebih dahulu bertanya tentang kesulitan yang sedang dihadapinya.

Penelitian terbaru dalam jurnal Communications Psychology pada November 2025 juga memperkuat pentingnya mendengarkan. Penelitian terhadap 646 partisipan menemukan bahwa perilaku mendengarkan berkualitas, termasuk memberikan pengakuan verbal dan mengajukan pertanyaan lanjutan, berkaitan dengan meningkatnya hubungan sosial dalam percakapan antarorang yang sebelumnya tidak saling mengenal.

Artinya, mendengarkan bukan sekadar diam ketika orang lain berbicara. Mendengarkan juga membutuhkan perhatian dan usaha memahami pesan yang disampaikan.

Mengapa tone deaf berbahaya di media sosial? Media sosial memungkinkan seseorang menyampaikan pendapat kepada banyak orang dalam waktu singkat. Namun, komunikasi digital sering kehilangan petunjuk penting seperti ekspresi wajah, intonasi, dan konteks emosional. Akibatnya, komentar yang dimaksudkan sebagai candaan dapat ditafsirkan secara berbeda. Di tengah berita bencana atau kesulitan masyarakat, unggahan yang meremehkan penderitaan orang lain juga berpotensi memicu kemarahan publik.

Bukan berarti setiap unggahan bahagia harus dihentikan ketika masyarakat menghadapi masalah. Persoalannya adalah apakah seseorang sengaja merendahkan pengalaman orang lain atau mengabaikan konteks ketika berkomunikasi. Kebebasan berekspresi tetap penting, tetapi tanggung jawab sosial juga perlu dipertimbangkan.

Menghindari perilaku tone deaf tidak mengharuskan seseorang selalu mengetahui perasaan semua orang. Langkah awalnya adalah menyadari bahwa pengalaman setiap manusia berbeda. Sebelum memberikan komentar, kita dapat mempertimbangkan situasi lawan bicara, memilih waktu yang tepat, dan menghindari kesimpulan terburu-buru.

Jika seseorang sedang mengalami kesulitan, pertanyaan sederhana seperti “Kamu ingin didengarkan atau membutuhkan saran?” dapat membantu menciptakan komunikasi yang lebih nyaman. Ketika pendapat kita ternyata menyakiti orang lain, mendengarkan penjelasannya lebih bermanfaat daripada langsung membela diri.

Pada akhirnya, bahaya tone deaf bukan hanya terletak pada ucapan yang menyinggung, tetapi juga pada kebiasaan mengabaikan pengalaman dan perasaan manusia lain. Untuk membentuk komunikasi yang baik bukan sekadar kemampuan berbicara, melainkan kesediaan memahami kapan harus menyampaikan pendapat dan kapan seseorang lebih membutuhkan telinga yang mau mendengarkan.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda