Entertainment
Pakai 7 Bahasa dan Lintas Benua, Sebesar Apa Sih Skala Pengabdi Setan 3?
Ada sesuatu yang berbeda terjadi pada horor Indonesia belakangan ini. Film-film yang dulu hanya dibicarakan di lingkup domestik kini mulai dilirik jauh melampaui batas negara, dan salah satu buktinya datang dari waralaba yang sudah dikenal luas: Pengabdi Setan. Ketika kabar produksi film ketiganya, Pengabdi Setan 3: Origin, mulai bergulir, yang menarik perhatian bukan cuma soal ceritanya, tapi arah proyek ini secara keseluruhan yang tampak diarahkan menuju pasar internasional sejak dari tahap produksi.
Film ini mengusung judul internasional Satan's Slaves: Origin, dan penjualan internasionalnya dipercayakan kepada Barunson E&A, rumah produksi asal Korea Selatan yang namanya melekat erat dengan Parasite, film yang mengukir sejarah sebagai peraih Oscar. Kehadiran nama sebesar itu di belakang sebuah film horor Indonesia bukan kebetulan, dan itulah yang membuat pertanyaan berikut layak diajukan: apa yang membuat waralaba horor lokal ini punya daya tarik hingga ke panggung global?
Bukan Sekadar Film Ketiga
Origin sering disalahpahami sebagai kelanjutan langsung dari dua film sebelumnya. Padahal posisinya justru berbeda. Alih-alih meneruskan kisah Pengabdi Setan (2017) dan Pengabdi Setan 2: Communion (2022), film ini bergerak ke arah sebaliknya, mundur jauh ke belakang, untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang selama ini sengaja digantung. Dari mana sekte itu bermula? Bagaimana perjanjian dengan iblis pertama kali terjadi? Mengapa kutukannya terus berlanjut hingga generasi Rini dan keluarganya? Dan bagaimana sosok-sosok seperti Darminah dan Batara terhubung dengan semua itu?
Pendekatan semacam ini dikenal sebagai prekuel, yaitu cerita yang mengambil latar waktu sebelum peristiwa utama dalam sebuah waralaba. Bagi penonton yang selama ini hanya mendapat potongan petunjuk lewat dua film terdahulu, prekuel memberi ruang untuk akhirnya memahami mitologi yang selama ini tersembunyi di balik layar.
Dari Strasbourg ke Pesisir Selatan Jawa
Salah satu hal yang membuat Origin berbeda dari dua pendahulunya ada pada latar ceritanya. Kisah dibuka bukan di Indonesia, melainkan di Strasbourg pada abad ke-16, saat kota itu dilanda histeria massal, sebuah fenomena yang benar-benar tercatat dalam sejarah pada tahun 1518. Dari sana, narasi berpindah menuju sebuah mercusuar berhantu di pesisir selatan Pulau Jawa pada abad ke-17.
Coba bayangkan kontrasnya. Di satu sisi ada Eropa abad ke-16 yang dicekam ketakutan terhadap kekuatan supranatural, tempat kepercayaan pada iblis dan ritual gelap tumbuh subur di tengah masyarakat yang panik. Di sisi lain ada pesisir Jawa yang sunyi, gelap, dan sarat mitologi lokal. Perpindahan lintas benua dan lintas abad ini membuat skala cerita Origin terasa jauh lebih luas dibanding dua film sebelumnya, yang sebelumnya lebih banyak berputar di rumah tua, desa, dan rumah susun yang temaram.
Tujuh Bahasa, Dua Benua
Ambisi Origin juga terlihat dari cakupan produksinya. Film ini disebut menggunakan tujuh bahasa sekaligus: Indonesia, Alsace, Portugis, Jawa, Belanda, Turki, dan Latin. Penggunaan bahasa sebanyak itu bukan sekadar pemanis. Setiap bahasa berfungsi memperkuat identitas geografis dan periode sejarah tempat adegan itu berlangsung, sehingga dunia yang dibangun terasa lebih otentik ketimbang sekadar tempelan latar.
Tentu saja, skala sebesar ini membawa konsekuensi. Riset sejarah harus digarap serius, desain produksi dan kostum harus menyesuaikan tiap zaman dan wilayah, dan yang tidak kalah penting, konsistensi dunia cerita harus tetap terjaga di tengah lompatan waktu dan tempat yang begitu jauh.
Joko Anwar dan Kegemarannya pada Misteri yang Tak Pernah Selesai
Joko Anwar kembali memegang kendali penuh sebagai penulis sekaligus sutradara, dan itu artinya ciri khasnya akan tetap terasa: ruang-ruang gelap yang menekan, ketegangan psikologis yang dibangun perlahan, simbolisme yang tersembunyi di balik detail kecil, dan ancaman yang lebih sering terasa daripada terlihat.
Bagi Anwar, Pengabdi Setan memang sejak awal tidak dirancang untuk tuntas dalam satu film. Ia sendiri pernah menyampaikan bahwa cerita ini sengaja menyisakan banyak hal yang belum diceritakan, dan film ketiga menjadi momen untuk mulai membuka sebagian dari misteri yang selama ini disimpan rapat. Meski begitu, ada baiknya menahan diri untuk terlalu cepat menyimpulkan kualitas film ini, mengingat produksinya sendiri baru saja dimulai. Kata-kata seperti menjanjikan atau berpotensi besar barangkali lebih pas digunakan sampai film ini benar-benar tayang.
Perjalanan Panjang Sebuah Waralaba
Untuk memahami ke mana arah Origin, ada baiknya menengok kembali perjalanan waralaba ini dari awal. Pengabdi Setan (2017) memperkenalkan kembali kengerian sekte dan kutukan kepada generasi penonton modern, dan hasilnya luar biasa: film ini ditonton lebih dari 4,2 juta orang di seluruh Indonesia. Lima tahun berselang, Pengabdi Setan 2: Communion memperluas dunia cerita sekaligus membawa waralaba ke skala produksi yang lebih besar, bahkan tercatat sebagai film Indonesia pertama yang digarap dengan format IMAX.
Kini giliran Origin melangkah lebih jauh lagi, bukan ke depan, melainkan jauh ke masa lalu, membongkar akar mitologi yang selama ini hanya tersirat. Jika film pertama memperkenalkan teror dan film kedua memperluas dunianya, maka Origin berpotensi menjadi film yang akhirnya menjelaskan dari mana semua teror itu bermula.
Barunson E&A dan Arti Pentingnya bagi Horor Indonesia
Keterlibatan Barunson E&A sebagai international sales agent bukan sekadar embel-embel promosi. Perlu dipahami bahwa peran ini berbeda dari rumah produksi maupun distributor. Rumah produksi membiayai dan menggarap film, distributor menayangkannya di suatu wilayah, sementara sales agent bertugas menawarkan film ke berbagai pembeli dan distributor di seluruh dunia. Origin sendiri rencananya akan diperkenalkan kepada pembeli internasional lewat pasar film yang digelar berdampingan dengan Toronto International Film Festival.
Kesuksesan sebuah film Indonesia di kancah global sebenarnya tidak hanya soal seberapa banyak penonton yang datang ke bioskop dalam negeri, melainkan juga seberapa mampu film itu diterjemahkan menjadi tontonan yang bisa dipahami dan dinikmati penonton lintas budaya, sesuatu yang selama ini masih menjadi tantangan tersendiri bagi perfilman Indonesia.
Mengapa Horor Indonesia Punya Peluang di Pasar Dunia
Horor Indonesia sebenarnya memiliki sejumlah modal yang tidak dimiliki genre serupa dari negara lain. Kekayaan mitologi lokal menjadi salah satunya, mulai dari cerita tentang sekte, ritual, kutukan, hingga dunia spiritual yang begitu lekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat. Atmosfer budaya yang dibawanya pun terasa berbeda dari horor Barat yang selama ini mendominasi layar dunia. Ditambah lagi, ada peluang besar untuk memadukan folklore lokal dengan teknik produksi modern, sesuatu yang sudah mulai terbukti lewat sejumlah film Indonesia yang berhasil menembus festival maupun pasar internasional.
Origin tampaknya berusaha memanfaatkan seluruh kekuatan itu sekaligus. Ceritanya tidak hanya mengandalkan jumpscare demi jumpscare, tapi dibangun di atas sejarah, misteri, dan mitologi sekte yang kompleks. Latar Jawa yang dipadukan dengan sejarah Eropa pun berpotensi menjadi identitas yang membedakannya dari film horor negara lain, sesuatu yang cukup jarang ditemukan dalam produksi horor Asia Tenggara.
Antara Rasa Penasaran dan Tantangan
Ada banyak hal yang membuat penonton menantikan Origin. Misteri asal-usul sekte yang akhirnya akan terjawab, latar Strasbourg dan Jawa yang belum pernah dieksplorasi waralaba ini sebelumnya, cerita yang melompati zaman, penggunaan tujuh bahasa, skala produksi yang jauh lebih besar, penjualan ke pasar internasional, hingga kembalinya Joko Anwar sebagai sutradara sekaligus penulis naskah.
Namun di balik semua kabar baik itu, ada tantangan yang tidak bisa diabaikan. Ekspektasi terhadap waralaba ini sudah sangat tinggi setelah dua film sebelumnya sukses besar. Cerita yang semakin kompleks juga membawa risiko kehilangan kesederhanaan horor yang justru menjadi kekuatan awal Pengabdi Setan. Penggunaan latar sejarah lintas benua menuntut riset dan pembangunan dunia cerita yang matang, dan penonton lama tentu sudah menyimpan ekspektasi tersendiri terhadap jawaban dari berbagai misteri yang selama ini mereka tunggu.
Dari Teror Lokal Menuju Panggung Global
Pengabdi Setan 3: Origin bukan sekadar proyek horor baru yang datang dan pergi. Film ini menjadi bagian dari perjalanan panjang bagaimana sinema horor Indonesia terus berkembang, dari yang semula hanya dikenal di dalam negeri hingga kini mulai berani membangun semesta cerita berskala internasional. Jika mampu mempertahankan identitas lokalnya sambil tetap menawarkan cerita yang bisa dipahami penonton lintas budaya, Origin berpeluang menjadi salah satu proyek horor Indonesia yang paling menarik perhatian dunia.
Film ini dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia pada 2027, sementara detail mengenai jajaran pemain dan cerita lengkapnya masih akan diumumkan secara bertahap. Pengabdi Setan 3: Origin tidak hanya mencoba menjawab dari mana kutukan itu berasal, tapi juga menunjukkan bahwa horor Indonesia kini punya keberanian untuk membangun semesta cerita yang berskala internasional.