Entertainment

Rela Lepas Cuan Jutaan Dolar demi Privasi Anak, Keputusan PewDiePie Patut Ditiru Ortu Zaman Now!

Rela Lepas Cuan Jutaan Dolar demi Privasi Anak, Keputusan PewDiePie Patut Ditiru Ortu Zaman Now!
Official Thumbnail Youtube Pewdiepie “Thank You and Goodbye” (28/9/2026). (Foto: Youtube/PewDiePie)

Masih ingat perang akbar internet memperebutkan takhta raja YouTube antara PewDiePie melawan T-Series dulu? Felix Kjellberg, nama asli PewDiePie, sampai bikin lagu sindiran “Bitch Lasagna”, hingga akhirnya T-Series menang dan Felix menerimanya dengan mengunggah video “Congratulations”. Begitu drama kolosal itu kelar, warga internet pun bubar jalan sambil lanjut makan popcorn, seolah-olah tidak terjadi apa-apa.

Pasca-pensiun dari medan perang, hidup Felix mendadak putar setir ke jalan yang adem ayem. Ia menikah dengan Marzia, memboyong keluarganya pindah ke Jepang, dan perlahan menanggalkan persona gamer urakan yang dulu membesarkan namanya. Kamera Felix yang dulunya bising, kini lebih sering merekam potret sudut rumah, perjalanan santai, tingkah lucu anjingnya, hingga tumbuh kembang putra pertamanya, Björn.

Namun, masa edar konten domestik itu ternyata ada batasnya. Pada Sabtu (23/05/2026), PewDiePie mengunggah video pamungkas berjudul “Ending the vlogs.” Ia mengumumkan bahwa petualangan vlog keluarga regulernya resmi gulung tikar pada September ini. Alasannya si kecil Björn sudah makin besar, dan Felix enggan masa depan anaknya terus-menerus digadaikan demi menjadi tontonan gratisan publik.

Keputusan ini jelas bikin kita angkat topi. Padahal kalau mau egois, Felix tinggal duduk manis memanen fulus dari menjual kehidupan pribadinya—penonton setianya sudah antre, kamera canggih siap jepret, dan algoritma YouTube tak perlu diajak kompromi lagi. Namun, ia memilih menarik rem demi melindungi jejak digital sang anak yang bakal bersifat permanen. Sebuah teladan berkelas tentang bagaimana menjadi orang tua yang tahu batas di era digital.

Tepat pada Selasa (22/09/2026) kemarin, episode pamungkas bertajuk “Thank You and Goodbye” resmi mengudara. Tapi tenang, yang gulung tikar itu cuma era vlognya saja, bukan karier YouTube Felix secara keseluruhan. Dia tetap bakal bikin video, hanya saja kehidupan domestik anak-istrinya tidak lagi diobral menjadi sinetron mingguan yang bebas ditonton jutaan pasang mata di seluruh bumi.

Keputusan pensiun ini sempat digosipkan netizen akibat gegeran bocah ciliknya, Björn, yang kedapatan memakai gaun di salah satu video. Kaum pengamat internet garis keras langsung menyeret momen polos itu ke meja hijau perdebatan gender dan pola asuh. Felix sendiri santai menanggapi dengan bilang kalau waktu kecil dia juga pernah pakai baju serupa.

Tapi kalau kita menuduh perkara gaun itu sebagai biang keladi Felix kapok bikin vlog, namanya menyimplifikasi masalah. Wong pengumuman pensiunnya sudah terbit dua bulan sebelum netizen ribut. Masalah aslinya jauh lebih besar daripada itu: ada seorang anak yang masa depannya sedang dipertaruhkan di dalam tumpukan arsip digital buatan orang tuanya sendiri.

Penyakit ini biasa disebut sharenting, nama beken di dunia psikologi, yang maknanya perpaduan antara sharing (pamer) dan parenting (pola asuh). Lembaga UNICEF Indonesia sudah sering mewanti-wanti bahwa hobi mengunggah keseharian anak tanpa izin si bocah bisa menguburkan hak privasi mereka secara permanen. Anak sekecil itu mana paham soal consent?

Keruwetan ini makin menjadi-jadi kalau si anak terlanjur dijadikan mesin penggerak bisnis konten keluarga. Foto gemas yang memancing like, video lucu menjaring penonton, dan ujung-ujungnya mendatangkan cuan iklan. Tiba-tiba saja, masa kanak-kanak yang harusnya penuh main petak umpet dipaksa punya target metrik engagement. Bayinya belum bisa baca grafik laporan Google Analytics, tapi wajah polosnya sudah dipaksa kerja lembur bagai kuda.

Di sinilah letak mahalnya keputusan seorang PewDiePie. Sebagai mantan penguasa takhta internet yang sudah kenyang makan asam garam ketenaran, ia justru memilih jalan yang bersahaja: memulangkan hak sang anak untuk menentukan jalannya sendiri kelak tanpa bayang-bayang lampu sorot kamera orang tuanya.

Lembaga UNICEF sudah berkali-kali mengingatkan bahwa jejak digital anak yang telanjur tersebar di internet itu liar dan tidak punya tombol undo. Foto menggemaskan hari ini bisa saja disalin, disalahgunakan, atau diputarbalikkan di masa depan tanpa bisa kita cegah.

Jadi, urusannya adalah tentang sebuah hak asasi yang mendasar. Pada akhirnya, anak itulah yang paling berhak menuliskan dan menentukan riwayat hidupnya sendiri ketika dewasa nanti, bukan orang tua yang memaksakannya demi kejar tayang materi konten.

Di tengah industri digital yang makin serakah mengejar perhatian publik, langkah Felix ini tergolong barang yang amat langka: berani mengerem justru saat ladang uangnya sedang subur-suburnya.

Kelak saat dewasa, si kecil Björn bebas menentukan nasibnya sendiri. Mau ikutan jadi YouTuber papan atas boleh, mau jadi dokter, insinyur, tukang roti, atau bahkan jadi manusia yang sama sekali cuek dengan media sosial pun sah-sah saja. Untuk pertama kalinya, lembaran masa depan itu biarkan saja bersih, murni menjadi milik pilihannya sendiri tanpa disetir orang tua, apalagi algoritma.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda