Health
Menjadi Dermaga Sebelum Menyelam: Kisah Komunitas Menemani Perjalanan Pulih
Lautan itu tak pernah benar-benar tenang. Begitulah Tentry mengenang masa tiga hingga empat tahun lalu, ketika depresi membuatnya merasa seperti terapung sendirian di tengah samudra. Ia tidak tahu ke mana harus berenang. Semakin berusaha bertahan, semakin besar rasa sepi yang mengikutinya.
Di masa itu, psikolog dan terapi brain spotting menjadi penolong yang membuatnya tetap bertahan.
"Itu aku benar-benar merasa kalau perjalanan pulih itu sendirian dan kesepian. Nggak semua orang juga memahami apa yang dijalani," kenang Tentry saat diwawancarai melalui Google Meet, Minggu (7/6/2026).
Namun, terapi hanya membantunya tetap mengapung. Yang masih ia cari adalah tempat untuk benar-benar berlabuh.
Kesadaran itulah yang membawanya bertemu Wiwit pada Oktober 2025. Keduanya sama-sama pernah merasakan sepinya proses pemulihan kesehatan mental. Dari pengalaman itu, mereka sepakat membangun sebuah ruang aman yang mereka beri nama Dermaga Diri.
Nama itu bukan dipilih tanpa alasan. Bagi Tentry, memahami diri sendiri ibarat menyelam ke dasar lautan. Sebelum berani masuk ke kedalaman, seseorang membutuhkan tempat berpijak yang kokoh.
"Jadi sebelum kita menyelam kan pasti ada dermaga dulu. Nah, di dermaga ini kami menyediakan beragam tools supaya orang bisa menyelam lebih dalam ke dirinya sendiri," ujarnya.
Dermaga Diri sengaja dibuat dalam kelompok kecil, hanya sekitar 10 hingga 15 peserta dalam setiap pertemuan. Tentry ingin menciptakan suasana yang hangat, intim, dan aman untuk berbagi.
Di luar ruang itu, para peserta datang dengan berbagai peran. Ada yang bekerja di bawah tekanan tinggi, ada yang memikul ekspektasi keluarga, ada pula yang lelah terus terlihat kuat. Di Dermaga Diri, mereka tidak dituntut menjadi siapa pun selain dirinya sendiri.
Untuk membantu peserta mengenali emosi, Wiwit menyusun worksheet jurnal tematik, sementara Tentry memperkenalkan penggunaan kartu Points of You (PoY).
Kartu refleksi tersebut berisi foto, kata, atau pertanyaan yang dapat dimaknai secara bebas oleh peserta. Dari gambar yang sama, setiap orang bisa menemukan cerita yang berbeda, sering kali mengungkap emosi yang selama ini sulit mereka jelaskan dengan kata-kata.
"Kadang kita merasa sedih tapi nggak tahu alasannya. Journaling membantu orang mengenali emosinya dan belajar melabeli perasaannya. 'Kamu lagi merasakan apa?' Dari situ mereka diajak melihat dan menganalisis sendiri apa yang sebenarnya sedang dialami," kata Tentry.
Pendekatan sederhana itu perlahan memberi dampak. Tentry mengenang salah seorang peserta yang rutin mengikuti sesi berbagi di Dermaga Diri. Setelah beberapa kali mengikuti proses refleksi, peserta tersebut akhirnya menyadari sumber tekanan yang selama ini menggerus kesehatan mentalnya.
Tak lama kemudian, ia memutuskan keluar dari pekerjaan yang selama bertahun-tahun menguras energi dan kewarasannya.
Bagi Tentry, keputusan itu bukan sekadar soal berganti pekerjaan. Itu adalah tanda bahwa seseorang mulai berani mendengarkan dirinya sendiri, sesuatu yang dulu juga ia cari ketika merasa sendirian di tengah lautan.
Mendengar Tanpa Menghakimi

Di Dermaga Diri, ada satu aturan yang selalu dijaga tidak menghakimi. Tentry dan para fasilitator dilarang melabeli peserta atau buru-buru memberi nasihat ketika seseorang sedang bercerita.
Mereka sadar, mereka bukan psikolog. Tugas mereka jauh lebih sederhana, tetapi sering kali justru paling dibutuhkan, mendengarkan.
"Kami selalu mengutamakan empati. Mendengar dulu, baru kalau memang dibutuhkan kami akan merekomendasikan psikolog. Di akhir setiap sesi kami selalu menyampaikan, kalau teman-teman merasa mengalami hal yang berat, jangan ragu mencari bantuan profesional," kata Tentry.
Mendengar, bagi Tentry, bukan sekadar diam saat orang lain berbicara. Ia dan tim berusaha mempraktikkan active listening, mendengarkan dengan penuh perhatian, tanpa memotong, tanpa buru-buru menawarkan solusi, dan tanpa menghakimi.
Pendekatan itu perlahan membentuk suasana yang membuat peserta merasa aman. Sesi berbagi yang semula dirancang berlangsung singkat kerap meluas hingga empat jam. Bahkan setelah acara resmi ditutup, banyak peserta yang masih bertahan, melanjutkan percakapan di sudut-sudut ruangan.
"Kadang sampai malam mereka masih nongkrong setelah acara selesai karena masih ingin cerita," ujarnya.
Bagi sebagian peserta, mungkin itulah kali pertama mereka merasa benar-benar didengarkan.
Cerita mereka tidak dipotong dengan kalimat seperti, "Kamu kurang bersyukur," atau "Jangan dipikirin terus." Sebaliknya, mereka diberi ruang untuk menuntaskan apa yang selama ini dipendam.
Menurut Tentry, masih banyak orang yang memilih menghakimi karena tidak tahu bagaimana merespons seseorang yang sedang mengalami gangguan kesehatan mental.
"Banyak orang mengambil jalan pintas. Lebih mudah menilai daripada mendengarkan dulu, memahami, baru kemudian membantu mencari solusi," katanya.
Namun, menjadi tempat bersandar bagi orang lain juga memiliki konsekuensi.
Tentry mengakui, mendengarkan kisah demi kisah tentang kehilangan, kecemasan, hingga depresi sering kali menguras emosi para fasilitator. Tidak jarang mereka pulang membawa beban yang bukan milik mereka sendiri.
"Kalau orang bercerita, energinya memang menguras. Sebagai panitia kami juga ikut tersedot. Sekarang kami belajar latihan grounding supaya bisa menetralisir lagi energi setelah sesi selesai," ujarnya.
Bagi Tentry, menjaga kesehatan mental para fasilitator sama pentingnya dengan mendampingi para peserta. Sebab, sebuah dermaga hanya bisa menjadi tempat berlabuh jika tiang-tiang penyangganya tetap kokoh menghadapi ombak.
Media Sosial dan Rapuhnya Relasi Manusia

Bagi Tentry, kesepian menjadi salah satu persoalan terbesar yang dihadapi Generasi Z dan Alpha. Ironisnya, hal itu terjadi ketika mereka hidup di era yang membuat semua orang saling terhubung lewat gawai.
Menurutnya, ruang-ruang fisik yang dulu menjadi tempat orang bertemu, berbincang, dan membangun kedekatan perlahan tergantikan oleh interaksi digital yang serba cepat, tetapi sering kali terasa dangkal.
"Waktu saya kecil belum ada gadget. Kalau mau main ya langsung ke rumah teman. Dari situ ada koneksi yang benar-benar terbangun. Mungkin itu yang sekarang bikin banyak orang merasa kesepian di tengah keramaian," ujar Tentry.
Kerentanan itu, menurutnya, tidak hanya dialami generasi muda. Kelompok usia produktif juga menghadapi tekanan yang tak kalah besar. Banyak orang harus bekerja dua hingga tiga pekerjaan sekaligus demi memenuhi kebutuhan hidup, sementara tekanan ekonomi terus meningkat.
Kondisi tersebut, kata Tentry, membuat kesehatan mental sering kali terabaikan karena masyarakat lebih sibuk bertahan hidup.
"Di Indonesia, masyarakat seperti memikul beban yang sangat besar. Banyak yang harus double job, bahkan triple job, dan itu jelas memengaruhi kesehatan mental," katanya.
Menurut Tentry, persoalan kesehatan mental tidak bisa semata-mata dipandang sebagai tanggung jawab individu. Ada faktor sosial, ekonomi, dan kebijakan yang ikut membentuk tekanan yang dirasakan masyarakat sehari-hari.
Tak Seorang Pun Harus Mendayung Sendiri

Melihat tantangan kesehatan mental yang kian kompleks, Dermaga Diri tidak ingin berhenti pada enam pertemuan yang telah mereka gelar. Tahun ini, Tentry dan tim berencana memperluas jangkauan komunitas, mulai dari pekerja profesional, mahasiswa, pelajar, hingga orang tua dan anak.
Metode pendampingannya pun terus dikembangkan. Selain journaling, sound healing, dan kartu refleksi Points of You, mereka mulai mengeksplorasi clay therapy, merangkai bunga, hingga aktivitas memasak bersama sebagai media membangun koneksi antarpeserta.
"Untuk program parents and children, bulan Juli kami ingin membuat workshop supaya orang tua dan anak bisa terkoneksi kembali, saling mengenal, dan memahami satu sama lain," ujar Tentry.
Menurutnya, aktivitas-aktivitas tersebut dipilih bukan sekadar sebagai hiburan. Di balik kegiatan yang tampak sederhana, ada pendekatan psikologis yang dirancang untuk membantu peserta membangun komunikasi dan membawa pengalaman itu ke kehidupan sehari-hari.
"Bentuknya seperti art therapy atau masak bareng. Tapi di dalamnya ada komunikasi dan pendekatan psikologi yang kami bangun supaya dampaknya bisa mereka bawa pulang ke rumah," katanya.
Tentry sadar, badai dalam hidup tidak akan pernah benar-benar hilang. Kehilangan orang terdekat, tekanan ekonomi, kecemasan menghadapi masa depan, hingga trauma akibat peristiwa besar akan selalu menjadi bagian dari perjalanan hidup banyak orang.
Karena itu, ia tidak bermimpi Dermaga Diri bisa menghapus semua luka.
Ia hanya berharap komunitas ini tetap menjadi tempat berlabuh—ruang yang membantu orang mengenali dirinya, memberi nama pada emosinya, lalu perlahan belajar menerima dan mencintai dirinya kembali.
Bagi Tentry, pulih bukan berarti hidup tanpa badai. Pulih adalah menyadari bahwa seseorang tidak harus menghadapinya sendirian.
"Kita nggak sendirian. Kalau dijalani bareng-bareng, semuanya terasa lebih ringan. Dan ketika kita memberi dukungan kepada orang lain, tanpa sadar kita juga sedang membantu diri kita sendiri," pungkasnya.