Health

Tenggelam dalam Tuntutan, Terbungkam oleh Stigma: Potret Buram Kesehatan Mental Remaja

Tenggelam dalam Tuntutan, Terbungkam oleh Stigma: Potret Buram Kesehatan Mental Remaja
Ilustrasi orang depresi. (TORWAI/ISTOCK)

Angka depresi dan percobaan bunuh diri di kalangan remaja Indonesia mengalami lonjakan tajam dalam beberapa tahun terakhir. Berdasarkan data Global School-based Student Health Survey (GSHS) oleh WHO, angka percobaan bunuh diri pada pelajar usia 13-17 tahun naik hingga 167 persen, dari 3,9% pada 2015 menjadi 10,4% pada 2023.

Psikiater dari Eka Hospital PIK, Marcella Oscar, menjelaskan bahwa kehidupan remaja dan mahasiswa yang terlalu berpusat pada kegiatan akademik menjadi salah satu pemicu utama terjadinya burnout, gangguan kecemasan, gangguan tidur, hingga depresi.

“Depresi merupakan masalah mental yang cukup sering [terjadi] pada remaja dan mahasiswa karena kehidupan mereka ada di sekitaran kehidupan akademik. Jadi, yang sering dialami adalah burnout karena mereka terlalu banyak tugas atau kelelahan. Itu sangat besar potensinya sehingga bisa mengakibatkan gangguan kecemasan, depresi, gangguan tidur, dan mereka juga sering mengalami masalah regulasi emosi,” kata Marcella saat diwawancarai melalui Zoom, Rabu (3/6/2026).

Secara biologis, Marcella menjelaskan bahwa bagian otak remaja yang berfungsi untuk berpikir logis dan memecahkan masalah (prefrontal cortex) belum berkembang sempurna hingga usia 20-25 tahun. Sebaliknya, pusat emosi (amygdala) bekerja lebih aktif sehingga remaja cenderung mengambil keputusan yang reaktif, impulsif, dan hanya berdasarkan emosi saat menghadapi tekanan.

“Pada kondisi remaja, prefrontal cortex-nya ini belum berkembang sempurna, sehingga berisiko besar mengambil keputusan-keputusan yang kurang bijak, lebih mudah terpengaruh teman, dan kemampuan berpikir logis dengan pertimbangan yang matang juga belum baik dengan muatan emosi yang lebih besar. Jika prefrontal cortex sudah berkembang, dia akan meregulasi emosi dari amygdala sehingga rasa marah, kesal, takut, dan sedih akan dikelola dengan baik,” lanjutnya.

Psikolog sekaligus Dosen Fakultas Psikologi Universitas Pelita Harapan (UPH), Wiwit Puspitasari Dewi, menjelaskan bahwa media sosial juga berdampak pada kesehatan mental remaja dan mahasiswa. Menurutnya, media sosial dapat membuat remaja membanding-bandingkan hidupnya dengan orang lain yang berujung pada penurunan rasa percaya diri. Ditambah lagi, ancaman cyberbullying juga meningkat di ruang digital.

“Dampak dari media sosial adalah membandingkan diri, entah itu membandingkannya ke orang yang tampaknya lebih bahagia daripada dia, atau orang yang lebih tidak bahagia dari dia. Lewat medsos si remaja ini bisa lihat, ‘Oh, hidup yang lebih menyenangkan seperti ini, ya. Kok, hidup saya nggak seperti itu, ya?’ Selain itu, di media sosial atau internet sering juga terjadi yang namanya cyberbullying,” kata Wiwit saat diwawancarai melalui Google Meet, Kamis (28/5/2026).

Perempuan Lebih Rentan Mengalami Depresi

Ilustrasi prevalensi depresi anak muda berdasarkan karakteristik responden Survei Kesehatan Indonesia 2023. (KEMENKES RI)

Ilustrasi prevalensi depresi anak muda berdasarkan karakteristik responden Survei Kesehatan Indonesia 2023. (KEMENKES RI)

Berdasarkan hasil Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, kelompok perempuan lebih banyak mengalami depresi, yakni sebesar 2,8% dibandingkan laki-laki yang hanya 1,1%. Perempuan berisiko mengalami depresi dua kali lebih besar dibandingkan laki-laki, terutama setelah memasuki masa pubertas.

Perubahan hormonal pada masa remaja yang disertai dengan tekanan lingkungan sosial dan hubungan dengan teman sebaya menyebabkan perempuan lebih rentan terhadap dampak peristiwa negatif dalam hidup. Perempuan juga memiliki risiko depresi pada usia dini akibat persaingan peran sosial, kurangnya pilihan, dan beban peran yang lebih berat dibanding laki-laki.

Fenomena ini turut dijelaskan oleh Wiwit. Menurutnya, perempuan memang lebih rentan mengalami tekanan di masyarakat akibat adanya ketimpangan gender. Perempuan juga lebih sering mengalami pelecehan dan kekerasan seksual seperti catcalling.

“Tingginya laporan dari perempuan ini bisa saja karena perempuan lebih mudah bercerita terkait kondisi kesehatan mentalnya daripada laki-laki. Perempuan juga lebih rentan di masyarakat karena ketimpangan gender, sehingga perempuan sering jadi korban. Selain itu, perempuan banyak mengalami kekerasan seksual. Di jalan, perempuan sering terkena catcalling oleh orang-orang di sekitarnya,” jelas Wiwit.

Meski angka kasus sangat tinggi, Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 mencatat hanya 10,4% anak muda dengan depresi yang mengakses pengobatan profesional. Rendahnya angka pencarian bantuan profesional di kalangan Gen Z ini utamanya disebabkan oleh stigma negatif masyarakat. Remaja sering kali takut dihakimi dan dicap “bermasalah” oleh lingkungan sekitarnya.

“Ada stigma di masyarakat, kalau ke psikolog atau ke psikiater langsung dicap ‘anak ini bermasalah’ jadi mudah di-judge atau dihakimi oleh orang-orang di sekitar,” ujar Marcella.

Minimnya literasi kesehatan mental, kurangnya dukungan orang tua, kendala biaya, serta keterbatasan akses layanan publik seperti rujukan berjenjang BPJS yang belum merata juga menjadi hambatan bagi para penderita depresi untuk mendapatkan penanganan yang seharusnya.

“Masyarakat belum cukup terliterasi dalam kesehatan mental, bisa juga karena keterbatasan akses atau biaya,” ungkap Marcella.

Pola dan Tanda Awal Depresi

Ilustrasi tanda awal depresi. (Unsplash)

Ilustrasi tanda awal depresi. (Unsplash)

Menurut para ahli, depresi pada remaja dapat ditandai dengan berbagai perubahan perilaku, emosi, dan pola pikir. Tanda-tanda yang perlu diwaspadai antara lain kecenderungan untuk menarik diri dari lingkungan sosial dan aktivitas sehari-hari, perubahan pola tidur dan nafsu makan, perubahan emosi, serta menurunnya kemampuan menjalankan aktivitas rutin (seperti belajar atau bekerja) yang berdampak pada prestasi dan konsentrasi.

“Ada perubahan perilaku pada orang tersebut, biasanya jadi cenderung lebih menarik diri. Kemudian ada perubahan dari pola tidur, nafsu makannya juga berubah, jadi lebih mudah marah, serta adanya penurunan fungsi sehari-hari. Misalnya, dari segi sekolah atau kuliah prestasi akademiknya menurun, atau kalau dia sudah masuk dalam tahap bekerja, fokus kerja serta performance-nya juga berkurang,” ujar Marcella.

Dari sisi emosional, remaja dapat terlihat lebih sedih, murung, kehilangan semangat, dan tidak lagi merasakan kesenangan dari aktivitas yang sebelumnya disukai. Mereka juga dapat memiliki penilaian negatif terhadap diri sendiri, merasa tidak berharga atau tidak berguna, hingga mengalami perasaan putus asa dan kehilangan harapan terhadap masa depan.

“Ada perubahan yang terjadi pada emosinya. Tanda-tandanya biasanya emosi yang sudah mulai low, marah terus, atau mulai nggak bisa ngerasain bahagia. Dia juga punya penilaian yang cukup negatif tentang dirinya seperti merasa tidak berharga dan tidak berguna,” jelas Wiwit.

Pada kondisi yang lebih serius, muncul pembicaraan tentang kematian, keinginan untuk tidak lagi hidup, maupun perilaku menyakiti diri sendiri (self-harm) sebagai bentuk pelampiasan atas tekanan emosional yang dirasakan.

“Remaja juga jadi putus asa, merasa hopeless sama hidupnya, lebih sering membicarakan, ‘Kira-kira kalau misalnya sudah nggak ada di dunia ini, kayaknya lebih enak, ya’. Jadi, sudah mulai bicara topik-topik tentang kematian,” ungkap Marcella.

“Ada orang-orang yang juga mulai melakukan self-harm,” tambah Wiwit.

Catatan Redaksi: Jika Anda atau orang terdekat mengalami krisis kesehatan mental, memiliki pikiran untuk menyakiti diri sendiri, atau membutuhkan dukungan psikologis, bantuan profesional tersedia melalui layanan berikut:

  1. Smart Mind Center Green Garden Jakarta: 0823-1232-8069
  2. Yayasan SEJIWA (Layanan konseling psikologis): 119 (ekstensi 8)
  3. Hotline Healing 119: https://www.healing119.id/
  4. LSM Jangan Bunuh Diri: (021) 96969293

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda