facebook

Belajar Pemrograman Bekal Arus Perkembangan Zaman

Melynda Dwi Puspita
Belajar Pemrograman Bekal Arus Perkembangan Zaman
Ilustrasi programmer (pexels.com/melyndadwipuspi)

“Jangan cuma belajar Bahasa Inggris, bahasa coding lebih penting kedepannya”

Kurang lebih begitu pemaparan yang disampaikan Presiden Joko Widodo beberapa bulan lalu. Sejalan dengan pendapat beliau, saya meyakini bahwa bahasa pemrograman yang lebih sering dikenal sebagai coding, menjadi ilmu pengetahuan yang mutlak untuk dipelajari. Bukan hanya bagi mahasiswa atau pekerja di bidang IT. Namun untuk seluruh lapisan masyarakat yang tak ingin tergerus oleh ketertinggalan peradaban.

Sebagai lulusan Perikanan, dunia teknologi tidak begitu ada sangkut pautnya dalam kehidupan saya. Urusan lingkungan dan alam lebih banyak berhubungan erat. Sementara itu, hal-hal berbau digitalisasi dan modernitas hanya sebatas pelengkap dalam rutinitas sehari-hari. Ibarat seorang hamba, saya hanyalah pengguna sekaligus pemuja kecanggihan gadget. Namun terkadang, rasa penasaran akan bidang teknologi dan informasi timbul dalam benak.

Awal Mula Ketertarikan Pada Bahasa Pemrograman

“Bagaimana aplikasi Android bisa dibuat?”

“Kok keren sih bisa jadi hacker”

Dua kalimat di atas sangat sering muncul di angan-angan ketika melihat kehebatan seorang programmer. Ya, pada awalnya keinginan untuk belajar bahasa pemrograman sebatas karena ingin merasa ‘keren’. Belum ada alasan pasti dari diri-sendiri mengapa bahasa pemrograman harus dipahami. Saya pun meyakini bahwa banyak orang di luar sana yang juga belum tergugah hatinya untuk memahami ilmu coding.

Hingga pada akhirnya, sebuah virus bernama Covid-19 datang dan mampu membulatkan tekad untuk belajar pemrograman. Berawal dari sebuah blog pribadi yang terbengkalai semenjak tahun 2015. Saya memutuskan untuk sedikit demi sedikit ingin mempercantik website gratisan dari blogspot. Tak ada modal apapun, yang ada hanyalah niat untuk belajar suatu hal baru.

Saya tak menyangka ketika melihat Menu ‘Edit HTML’ saja, tiba-tiba vertigo serasa menjangkit. Ya, saya baru menyadari bahwa pemrograman penuh kode-kode rumit membingungkan. Begitu banyak logika, algoritma, dan istilah-istilah yang sangat awam di telinga.

Belajar Otodidak Asal-asalan Menuju Kursus Terstandar

Pada awalnya, saya baru tahu apabila bahasa pemrograman itu banyak jenisnya. Dan waktu itu, saya hanya pernah mendengar Java. Nyatanya ada ratusan bahasa pemrograman di dunia baik yang populer maupun yang jarang dikenal. Sampai akhirnya saya meyakinkan diri untuk fokus mempelajari desain web (design web).

Tak puas dengan metode belajar sendiri yang tidak terstruktur dan cenderung acak-acakan. Bermula dari iseng-iseng mendaftar program pelatihan pemrograman yang diadakan sebuah instansi. Ternyata nama saya tercantum sebagai salah satu peserta alias lolos. Jelas saya tidak menyangka, sebab tidak ada basic terkait IT. Namun saya tidak mau menyia-nyiakan kesempatan yang mungkin tidak bisa datang untuk keduakalinya itu.

Sampai saat ini pun saya tak pernah mengira jika pernah diberi kesempatan mencicipi kursus pemrograman secara cuma-cuma. Padahal, hanya dengan berbekal laptop RAM 2 Gb yang super lemot. Ternyata saya bisa melaluinya meskipun berkali-kali ingin berhenti di tengah jalan. Pada awalnya yang hanya bisa membuat tulisan ‘Hello World!’, sampai sedikit demi sedikit mulai mengerti tata letak dunia per-website-an.

Akhir kata, sudah saatnya setiap orang khususnya anak muda untuk mulai belajar pemrograman. Saya tahu, mungkin sangat susah mengikuti jejak Steve Jobs, Mark Zuckerberg, ataupun Bill Gates. Namun hanya dengan mengantongi niat, saya mampu membuktikan bahwa siapa saja boleh dan bisa belajar bahasa pemrograman. Bahkan belajar pemrograman mungkin dapat dijadikan sebagai pilihan hobi baru di era new normal. Apakah kamu tertarik?

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak