facebook

Tantangan Berbisnis Makanan Online

Ika Susanti
Tantangan Berbisnis Makanan Online
Ilustrasi bisnis kuliner. (pexels.com/Amina Filkins)

Pandemi Covid-19 memaksa berbagai bidang kehidupan di masyarakat untuk bertransformasi,  menyesuaikan diri dengan kondisi pandemi dan protokol kesehatan yang berlaku. Akibatnya bisnis-bisnis berbasis online semakin marak. E-commerce untuk penjualan makanan menjadi pilihan paling tepat bagi para pebisnis untuk memasarkan produknya.  

Tak terkecuali bagi saya yang sudah mulai bosan dengan jadwal WFH, dan mencoba peruntungan dengan berbisnis makanan online. Setelah dianalisa untung ruginya, saya mantap berjualan camilan menggunakan dua aplikasi e-commerce. Dari dua aplikasi tersebut otomatis saya mempunyai dua toko makanan untuk dikelola.

Bisnis makanan online ini relatif mudah pengelolaannya, tapi ada beberapa hal yang memang harus diperhatikan untuk dapat terus bertahan dalam persaingan.  Tentunya saya ingin bisnis ini secara kontinu berjalan dalam jangka panjang, dan bila mungkin dapat dikembangkan menjadi toko riil dengan banyak cabang. Saat ini saya masih menggunakan rumah tinggal sebagai toko, dan mengelolanya bersama keluarga. 

Dalam keterbatasan waktu memanfaatkan jadwal WFH dan WFO, dimana jam operasional toko bisa saya atur sesuai kebutuhan. Tantangan yang harus bisa saya atasi sebagai pebisnis baru adalah bagaimana produk makanan yang saya jual dapat diterima oleh masyarakat dan dapat bertahan dalam persaingan bisnis makanan yang semakin ketat. 

1. Jenis Produk Makanan

Jenis makanan yang dijual menjadi pilihan yang sulit di awal saya merintis bisnis makanan. Apakah makanan yang dijual jenis umum ataukah jenis baru. Tantangan menjual makanan jenis umum adalah banyaknya pesaing yang mungkin bisnisnya sudah mapan (sudah berjalan bertahun-tahun), dan sudah punya banyak pelanggan setia. 

Sebagai pebisnis baru, saya perlu strategi penjualan yang tepat untuk menarik perhatian konsumen. Camilan jenis umum yang saya jual perlu diberikan sentuhan kekinian, dengan berbagai varian rasa, kemasan yang menarik dan harga bersaing. Selain itu saya juga mencoba menawarkan beberapa makanan jenis baru, untuk memperbanyak variasi camilan yang saya jual. 

Tantangan menjual makanan jenis baru adalah bagaimana mengenalkan produk tersebut, sehingga menjadi makanan yang disukai masyarakat. Tantangan berikutnya adalah bagaimana mempertahankan makanan jenis baru tersebut agar terus-menerus dibutuhkan masyarakat, bukan hanya disukai sesaat lantas menghilang. 

Hal tersebut dapat terjadi biasanya karena konsumen merasa penasaran dengan produk makanan baru dan hanya sekadar ingin coba-coba, tapi begitu tahu rasanya biasa saja mereka tidak akan membelinya lagi. Sehingga memang perlu dilakukan uji coba selera pasar, sebelum memulai bisnis makanan.

2. Harga Produk Makanan

Tantangan lainnya dalam bisnis makanan adalah menentukan harga produk makanan, sehingga perlu melakukan survei perbandingan harga dengan para pesaing. Bila kita memutuskan untuk menggunakan harga yang lebih mahal, maka perlu memberikan nilai tambah yang menjadi pembeda produk makanan kita dengan produk lainnya. 

Saya memutuskan untuk menggunakan harga standar yang bersaing. Keuntungannya memang tidak terlalu besar, tapi bisa diharapkan dari volume penjualan yang berlipat. Makin banyak pembeli, makin cepat perputaran produk makanan dan uang, makin banyak pula keuntungan bisa diraih.

Memberikan harga promo secara rutin atau pada waktu-waktu tertentu juga menjadi salah satu strategi promosi yang efektif. Pelanggan setia dengan senang hati akan memanfaatkan penawaran itu, sekaligus sebagai upaya untuk menarik konsumen baru. 

Aplikasi e-commerce sangat membantu memudahkan upaya promosi yang saya lakukan. Saya dapat mengatur sendiri berapa persen diskon harga promo yang bisa diberikan per item atau per kategori makanan. Saya juga dapat memperpanjang atau memperpendek masa promo sesuai kebutuhan.

3. Rating Penilaian

Konsumen yang order makanan melalui aplikasi online, biasanya memilih toko atau resto dengan mempertimbangkan jenis produk makanan, harga dan rating penilaian. Konsumen pastinya ingin mendapatkan makanan berkualitas, rasanya enak, harga relatif murah, kemasan menarik dan pelayanan yang baik. 

Rating penilaian menjadi tantangan tersendiri dalam bisnis makanan. Semua kondisi yang diinginkan konsumen tersebut dapat terlihat dari rating penilaian yang diberikan. Rating menunjukkan banyaknya konsumen yang memberikan penilaian dan bagaimana kualitas produk makanan yang dijual. 

Rating penilaian yang tinggi menunjukkan tingginya tingkat kepuasan konsumen terhadap produk makanan yang dijual.  Konsumen bisnis makanan kebanyakan lebih memperhatikan rating penilaian, dibandingkan konsumen pada bisnis yang lain. Saya sendiri pernah merasakan ketika rating penilaian jatuh, penjualan pun otomatis ikut menurun. Sebagai kebutuhan pokok, kepuasan terhadap makanan ternyata tetap menjadi hal yang sangat penting bagi masyarakat.

4. Batas Kedaluwarsa

Batas kedaluwarsa menjadi salah satu tantangan yang berat pada bisnis makanan. Sebagai pebisnis makanan, saya harus selalu memperhatikan kapan batas waktu produk makanan yang dijual agar tetap sehat dan enak. Tes rasa secara berkala perlu dilakukan, untuk memastikan kondisi makanan yang masih baik dan layak jual. 

Dan bila produk makanan sudah tidak layak, resikonya harus dibuang. Mengingat daya simpannya yang tidak bisa lama,  penting bagi saya untuk mengatur stok makanan secara terencana agar tidak kekurangan atau malah berlebihan. 

Seperti bisnis makanan yang saya kelola, dimana kerenyahan menjadi  batas kedaluwarsa dari camilan  jenis keripik yang saya jual. Gara-gara kerenyahan keripik berkurang, saya pernah mengalami rating penilaian yang jeblok. Konsumen sebanyak dua orang dengan mantap memberikan nilai dua bintang, sehingga rating penilaian langsung anjlok dari 4,6 ke 4,3. 

Sedih pastinya, karena meraih rating penilaian tinggi bukanlah hal yang mudah. Tidak semua konsumen bersedia memberikan rating penilaian saat merasa puas, tapi saat merasa kecewa mereka tidak segan memberikan bintang dua atau malah satu. Hal ini memberikan pelajaran berharga bagi saya untuk secara rutin mengecek kelayakan produk makanan yang saya jual, dan membuangnya bila sudah kadaluarsa. (IkS)

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak