Bulan Maret mendatang, Timnas Indonesia akan menggelar gawe besar berlevel internasional. Seperti yang telah diketahui oleh khalayak, Induk Sepak Bola Indonesia, PSSI mendapatkan kepercayaan dari FIFA selalu otoritas tertinggi di persepakbolaan dunia untuk menggelar FIFA Series 2026.
Lawan-lawan yang dihadapi pun telah resmi terkonfirmasi. Seperti yang dilansir oleh laman Suara.com, grup yang dimainkan di Indonesia nantinya akan berisikan Saint Kitts and Nevis asal konfederasi sepak bola Amerika Utara dan Tengah, Kepulauan Solomon dari zona Oseania dan Timnas Bulgaria yang menjadi wakil dari Benua Eropa.
Bagi sebagian penggemar sepak bola, tentunya beranggapan bahwa empat negara yang tergabung di grup Indonesia ini nantinya akan saling bertemu dalam sistem round-robin setengah kompetisi.
Sistem tersebut biasa dipergunakan oleh turnamen-turnamen besar di dunia sepak bola, di mana tim dengan jumlah poin tertinggi akan menjadi juara di grup tersebut.
Namun sayangnya, anggapan jika guliran FIFA Series nanti akan menggunakan pakem seperti itu ternyata salah besar, bahkan salah kaprah. Karena pada kenyataannya, format untuk menentukan tim menjadi juara grup di FIFA series tidak menggunakan cara seperti itu.
Hal ini tak lepas dari aturan dari FIFA sendiri, di mana dalam setiap rentangan jeda FIFA Matchday, setiap negara hanya diperbolehkan untuk menggelar maksimal dua kali pertandingan persahabatan yang terdaftar sebagai pertandingan resmi.
Karena FIFA Series secara hakikat adalah "bentuk lain" dari FIFA Matchday, maka mau tak mau empat negara yang berada dalam satu grup, hanya akan bertarung sebanyak 2 kali saja, sehingga membuka potensi akan ada satu negara yang tidak akan saling bertemu.
Imbasnya adalah, format yang dipergunakan di FIFA Series ini lebih mirip dengan babak semifinal sebuah turnamen. Dalam artian begini, empat negara yang berada dalam satu grup, nantinya akan bertemu dengan masing-masing satu lawan.
Bagi yang meraih kemenangan, maka mereka akan berhadapan dengan tim pemenang di laga berikutnya, sementara tim yang mengalami kekalahan, akan bertemu dengan tim yang juga menderita kekalahan di pertandingan lainnya.
Sehingga, format ini lebih mirip dengan fase semifinal turnamen, di mana yang menang akan bertarung di fase final, dan yang kalah akan kembali berhadapan di perebutan tempat ketiga.
Adapun yang unik di sini adalah meskipun formatnya mirip dengan fase empat besar sebuah turnamen, namun hasil pertandingan tetap dihitung sesuai dengan hasil pertandingan yang dijalani.
Bisa saja, nantinya tim yang di pertandingan pertama mendapatkan kemenangan, namun di klasemen akhir justru berada di bawah tim yang mengalami kekalahan di pertandingan pertama.
Hal ini bahkan terekam jelas di FIFA Series 2024 yang dimainkan di Arab Saudi. Dalam grup yang berisikan Tanjung Verde, Guinea Ekuatorial, Kamboja dan Guyana, posisi Guinea Ekuatorial berada di bawah Guyana yang di pertandingan pertama mengalami kekalahan dari Tanjung Verde.
Hal tersebut tak lepas dari pertandingan kedua yang dijalani oleh Guyana dan Guinea Ekuatorial, di mana pada laga kedua Guyana berhasil menang 4-1 atas Kamboja, sementara Guinea Ekuatorial kalah 0-1 dari Tanjung Verde.
Sehingga, meskipun sama-sama mendapatkan tiga poin hasil dari satu kali kemenangan dan satu kali kekalahan, namun Guyana berhak menempati posisi kedua di bawah Tanjung Verde karena memiliki selisih gol yang lebih baik.
Nah, sekarang sudah semakin paham dengan format yang bakal dipergunakan di FIFA Series bulan Maret mendatang, kan?
CEK BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS