Pembalap asal Prancis, Fabio Quartararo, memperlihatkan gestur kesal dan marah pada hari pertama tes pramusim di Buriram, Thailand.
Sebelumnya, Quartararo sempat absen di hari kedua dan ketiga tes Sepang karena mengalami cedera jari, kemudian dia dinyatakan fit untuk mengikuti tes di Buriram.
Sayangnya, momen comeback Quartararo tidak berbuah manis. Di hari pertama, dia hanya mampu finis di urutan ke-18 dari 22 pembalap yang ikut tes saat itu.
Usai balapan dia tampak kesal dan marah dengan performa motornya, terlihat dari gestur tubuhnya, bahkan sampai mengacungkan jari tengah ke arah motor.
Tak hanya di situ saja, sampai di garasi Yamaha Quartararo juga terlihat frustrasi, menundukkan kepala dan mengusap rambut serta wajahnya beberapa kali.
Diketahui, saat ini Yamaha baru saja mengganti motor mereka dari mesin Inline 4 ke mesin V4. Peralihan ini diharapkan bisa membawa dampak positif bagi pabrikan yang berbasis di Iwata tersebut untuk bisa lebih kompetitif.
Namun, hal ini ternyata tidak berjalan mulus. Begitu digunakan di tes pramusim MotoGP 2026 di Sepang dan Buriram, YZR-M1 masih mengalami banyak masalah. Hal ini menyebabkan performa mereka tidak bisa maksimal.
Di tes sepang kemarin, Fabio Quartararo sempat berada di P9 pada hari pertama dan menjadi pembalap Yamaha tercepat. Namun, mereka mengalami masalah teknis pada motor Quartararo dan Toprak.
Hari kedua, Yamaha memutuskan untuk tidak mengikuti tes buntut dari masalah teknis yang mereka alami kemarin. Kendati demikian, mereka bisa kembali ke lintasan di hari ketiga, Alex Rins menjadi pembalap Yamaha tercepat dengan berada di P12.
Berlanjut ke Buriram hari pertama, hasil terbaik Yamaha adalah P17 yang diraih oleh Jack Miller, Quartararo di P18, Alex Rins di P19, dan Toprak Razgatlioglu di P20.
Terkait dengan hasil yang mengecewakan ini, Manajer Tim Yamaha, Massimo Meregalli, mengatakan bahwa perubahan ke mesin V4 adalah tahap pembelajaran bagi tim.
"Para pembalap sudah tidak sabar, tetapi kami tahu sejak awal bahwa kami tidak bisa mengharapkan keajaiban. Kami sadar bahwa terutama bagian awal bagi kami akan menjadi proses pembelajaran," ujar Meregalli, dilansir dari laman Motorsport.
Kendati demikian, Meregalli tetap optimis bahwa performa mereka tetap bisa meningkat pada paruh kedua musim.
"Saya ingin percaya dan saya masih berpikir bahwa mulai paruh kedua musim ini, secara bertahap kami akan meningkatkan performa dan hasilnya pun akan membaik," lanjutnya.
Apa yang dikatakan oleh Massimo Meregalli memang benar, meskipun kini Yamaha sudah menggunakan mesin yang setara dengan tim-tim lain, tapi melakukan perubahan seperti ini pasti membutuhkan proses adaptasi. Waktu yang dibutuhkan pun juga mungkin tidak sebentar.
Sementara itu, rasa frustrasi yang dialami Quartararo juga tidak salah. Juara dunia MotoGP 2021 itu telah berusaha untuk meyakinkan dirinya sendiri agar mau menerima pinangan Yamaha lagi 2 tahun lalu.
Meskipun sempat didekati oleh Aprilia, Quartararo mantap meneken perpanjangan kontrak dengan tim ini sampai akhir 2026, dengan keyakinan bahwa proyek yang dilakukan Yamaha akan berhasil. Namun, hingga tahun terakhir kontraknya, Quartararo belum menemukan apa yang dia inginkan.
Penggemar pun cukup menyayangkan apabila pembalap dengan skill yang bagus tak bisa tampil maksimal karena motor yang tidak mumpuni.
Di tengah rumor kepindahan pembalap yang berhembus saat ini, Fabio Quartararo tengah dikaitkan dengan pabrikan Jepang yang lain, yakni Honda. Jika performa Yamaha tak kunjung membaik musim ini, bukan tidak mungkin Quartararo akan memilih untuk pergi.