Hobi

Suhu Tembus 43 Derajat Celsius, Panas Ekstrem Hantui Laga Piala Dunia

Suhu Tembus 43 Derajat Celsius, Panas Ekstrem Hantui Laga Piala Dunia
Brasil lolos ke 16 besar Piala Dunia 2026 usai bangkit mengalahkan Jepang 2-1. Carlo Ancelotti memuji kesabaran tim dan mengungkap rencana memasukkan Neymar. [Dok. IG Brasil]

Babak gugur Piala Dunia kali ini dipastikan bakal menghadirkan tantangan yang berat, karena faktor cuaca ekstrem.

Fenomena alam yang dikenal sebagai heat dome dilaporkan tengah mengepung wilayah tengah dan timur Amerika Serikat, serta sebagian wilayah Kanada.

Gelombang panas berskala besar ini mengunci suhu tinggi dan kelembapan udara di dalam satu kawasan, sehingga menciptakan kondisi lingkungan yang berpotensi membahayakan keselamatan para pemain maupun penonton di stadion.

Para ahli meteorologi bahkan menyebut gelombang panas kali ini sangat signifikan dan termasuk jenis cuaca ekstrem yang jarang terjadi setiap tahunnya.

Sejumlah kota tuan rumah yang memiliki stadion terbuka, seperti Boston, Philadelphia, dan Kansas City, harus bersiap menghadapi lonjakan suhu di atas rata-rata. Layanan Cuaca Nasional AS bahkan telah mengeluarkan peringatan dini terkait ancaman ini.

Di Philadelphia dan New York, indeks panas yang dirasakan langsung oleh tubuh manusia diperkirakan bisa meroket hingga kisaran 109 hingga 110 derajat Fahrenheit atau sekitar 42 hingga 43 derajat Celsius. Bahkan di kawasan Boston, indeks tersebut berpotensi menyentuh angka yang lebih tinggi lagi, yaitu 111 derajat Fahrenheit (43,9 derajat Celsius).

Cuaca menyengat tersebut diprediksi akan terus bertahan melewati akhir pekan liburan Fourth of July yang bertepatan dengan perayaan hari jadi ke-250 Amerika Serikat.

Senior Meteorologiwan AccuWeather, Alan Reppert, menjelaskan bahwa wilayah New York dan New Jersey, yang dijadwalkan menggelar laga babak 16 besar pada 5 Juli, diperkirakan akan mencatat rekor suhu tertinggi mereka sejak tahun 2013. Hal yang patut diwaspadai adalah udara akan tetap terasa menyiksa bahkan setelah matahari terbenam.

Kondisi ekstrem ini jelas memicu kekhawatiran besar terkait keselamatan para pemain di lapangan. Meskipun mereka adalah atlet elite dengan fisik yang terlatih, mereka tetap sangat rentan terhadap exertional heat illness, penyakit panas akibat aktivitas berat.

Gangguan kesehatan itu bisa memicu gejala berupa kelelahan ekstrem, penurunan performa, sakit kepala, mual, hingga serangan heat stroke yang merupakan penyebab kematian tertinggi ketiga bagi kalangan atlet.

Cuaca panas ini juga otomatis menurunkan intensitas permainan karena para pemain akan beradaptasi secara alami dengan mengurangi frekuensi sprint dan jarak jelajah mereka di lapangan.

Guna melindungi para pemain, FIFA tahun ini telah memberlakukan aturan wajib berupa jeda hidrasi selama tiga minggu (tiga menit) di tengah-tengah setiap babak.

Beruntung, beberapa stadion seperti di Atlanta, Dallas, dan Houston memiliki keunggulan karena dilengkapi dengan atap yang bisa dibuka-tutup serta sistem pendingin ruangan. Namun, bagi penonton yang berjalan kaki menuju stadion di kota padat aspal seperti Dallas, perjalanannya akan tetap terasa menyengat.

Ancaman terbesar sebenarnya justru mengintai para penonton, sukarelawan, dan pekerja yang berada di luar stadion, seperti di area parkir, rute transportasi, dan zona festival. Di area terbuka tersebut, mereka berisiko terpapar terik matahari langsung selama berjam-jam.

Mengingat bahaya tersebut, sejumlah kota mulai memodifikasi agenda mereka. Philadelphia, misalnya, terpaksa menggeser jam operasional FIFA Fan Festival dan membatasi acara nonton bareng akhir pekan agar selesai lebih cepat.

Sementara itu, Toronto yang dijadwalkan menggelar laga babak 32 besar antara Portugal dan Kroasia pada hari Kamis langsung mengaktifkan Strategi Penanganan Panas (Heat Relief Strategy) demi menjaga keselamatan publik dari Selasa hingga Jumat.

Menghadapi situasi ini, Maggie Aldousany yang merupakan associate clinical professor dari Universitas Miami mengingatkan penonton untuk tidak meremehkan masalah hidrasi. Menunggu sampai merasa haus saja tidaklah cukup; penonton disarankan untuk mencukupi kebutuhan cairan tubuh sejak beberapa hari sebelum pertandingan dimulai.

Mengonsumsi alkohol saat cuaca panas juga tidak direkomendasikan karena meningkatkan risiko dehidrasi. Cara mudah untuk mengecek kecukupan cairan adalah dengan memantau warna urine, yakni warna kuning muda menjadi indikator tubuh terhidrasi dengan baik.

Jika harus berada di luar ruangan, kenakanlah pakaian yang longgar dan ringan, manfaatkan handuk dingin, serta segera cari tempat teduh atau ruangan ber-AC jika mulai merasa pusing atau menyadari tubuh terasa panas namun tidak mengeluarkan keringat.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda