Hobi
Drama Sepak Bola Korsel: dari Kritik Pemain hingga Pelatih yang Kabur!
Siapa bilang kisah kegagalan timnas Korea Selatan (Korsel) di ajang Piala Dunia 2026 akan cepat dilupakan oleh banyak pihak? Nyatanya, kisruh pesepakbolaan Korea Selatan ternyata benar-benar mirip dengan drama Korea yang menjadi salah satu aspek popularitas di negara tersebut.
Melansir dari laman instagram @perspectivefootball.id, mantan pelatih Korea Selatan, yakni Hong Myung-Bo harus terpaksa meninggalkan negaranya sendiri bersama keluarganya dan pergi ke Amerika Serikat usai mendapatkan tekanan dari publik Korea Selatan. Bahkan, rumor yang beredar jika mantan pemain sekaligus legenda sepak bola Korea Selatan tersebut mendapatkan ancaman pembunuhan yang menyasar kepada dirinya dan keluarganya.
“Usai mendapat hujatan bahkan ancaman kepada nyawanya, eks pelatih Korea Selatan Hong Myung-bo tertangkap salah satu stasiun televisi MBC berada di bandara Incheon menggunakan topi dan masker untuk meninggalkan negaranya dan kembali ke Los Angeles, Amerika Serikat,” tulis laman instagram @perspectivefootball.id
Sepanjang gelaran Piala Dunia 2026, Korea Selatan yang tergabung di grup A memang dianggap kurang memenuhi ekspektasi banyak pihak, termasuk publiknya sendiri. Melansir dari laman resmi FIFA, tim berjuluk “Taegeuk Warriors” tersebut hanya sekali menang dan menelan dua kekalahan sepanjang fase grup. Hal inilah yang membuat mereka gagal lolos ke babak 32 besar.
Usai gagal lolos ke babak 32 besar, publik sepak bola Korea Selatan ramai-ramai melakukan protes kepada sang pelatih, yakni Hong Myung-Bo yang dinilai tak mampu mengangkat performa tim. Bahkan, diketahui protes ini sudah muncul sejak mantan kapten timnas Korea Selatan era 1990-an tersebut ditunjuk sebagai pelatih.
Bahkan, banyak keputusannya dinilai sangat aneh dalam memimpin tim. Mulai dari mencadangkan kapten timnas Korea Selatan, Son Heung-Min dalam beberapa laga, hingga kisruh pribadinya dengan salah satu pemain timnas Korea Selatan, yakni Jens Castrop yang berujung dicadangkannya pemain keturunan tersebut.
Sebelumnya, timnas Korea Selatan juga sempat menjadi sorotan usai perkataan beberapa jurnalis negaranya sendiri yang mengkritik performa sang kapten, yakni Son Heung-Min. Bahkan, imbas kritik tersebut, timnas Korea Selatan langsung menutup diri dari seluruh konferensi pers termasuk dari negaranya sendiri.
Drama Sepakbola Korea Selatan Lebih Jadi Sorotan daripada Prestasi Timnasnya!
Drama dalam dunia sepak bola Korea Selatan memang tak dapat dipungkiri justru lebih menjadi sorotan dibandingkan prestasi timnasnya. Melansir dari laman transfermarkt.com, Korea Selatan memang masih memegang rekor sebagai tim terbaik benua Asia di ajang Piala Dunia dengan mampu menempati peringkat ke-4 di ajang Piala Dunia 2002 silam.
Namun, kala itu Korea Selatan juga dianggap tak lepas dari kontroversi dan dianggap sering diuntungkan karena statusnya sebagai tuan rumah. Kini, pesepakbolaan Korea Selatah kembali jadi sorotan bukan karena prestasinya, tetapi karena kisruh internal yang merambah ke kehidupan pribadi para pemain dan individu yang terlibat di dalamnya.
Mungkin dalam 10 tahun terakhir, prestasi terbaik pesepakbolaan Korea Selatan hanya mampu meraih medali emas ajang Asian Games 2018 silam di Indonesia. Sementara itu, gelar juara regional di ajang EAFF Championship terakhir kali dicapai pada tahun 2019 silam. Selain itu, prestasi sepak bola Korea Selatan baik di regional Asia ataupun dunia selalu terseok-seok.
Di kancah Piala Asia sendiri, terakhir kali Korea Selatan menjuarai turnamen antar negara di kawasan Asia tersebut adalah pada tahun 1960 atau lebih dari 60 tahun yang lalu. Bahkan, Korea Selatan sendiri sangat kesusahan menembus babak semifinal di setiap gelaran Piala Asia dalam beberapa edisi terakhir.
Di kancah Piala Dunia, Korea Selatan juga hampir selalu kesulitan menembus babak grup. Kendati pada edisi Piala Dunia 2022 silam mereka mampu lolos fase grup, tetapi performa mereka juga tak begitu memuaskan.
Maka dari itu, tak mengherankan jika situasi internal dan prestasi sepak bola Korea Selatan tak lebih baik dari drama yang diberikan dari polemik internal organisasi sepak bola negara tersebut. Jadi, bagaimana menurutmu?