Hobi
Piala Dunia 2026: Juara Bertahan Terus Bersinar, tapi Dihantui Segudang PR Besar
Comeback dramatis ditunjukkan oleh Argentina di babak 16 besar guliran Piala Dunia 2026. Sempat tertinggal dua gol dari Mesir, tim berlabel juara bertahan tersebut mengamuk di sebelas menit terakhir pertarungan waktu normal dengan melesakkan tiga gol balasan. Sebuah comeback yang pada akhirnya berujung fase delapan besar gelaran.
Sejatinya, para pendukung Timnas Argentina di pentas Piala Dunia 2026 ini sempat dibuat was-was oleh penampilan tim idolanya. Bertarung melawan Mesir di Atlanta Stadium, Amerika Serikat, Lionel Messi bahkan masih harus menanggung ketertinggalan dua gol dari sang lawan hingga menit ke-78.
Dua gol yang diciptakan oleh Yasser Ibrahim pada menit ke-15 dan Mostafa Zico pada menit ke-67, seolah memberikan bayangan bahwa pertandingan ini akan menjadi penampilan terakhir Argentina di gelaran. Namun semua bayangan buruk itu buyar ketika pertarungan menapaki menit ke-79.
Dimulai dari gol sundulan mematikan dari Cristian Romero di menit ke-78, dilanjutkan dengan tembakan first time berteknik tinggi Lionel Messi di menit ke-83, dan diakhiri dengan gol sundulan penentu kemenangan dari Enzo Fernandez pad menit ke-90+2 yang menyelesaikan skema serangan balik cepat timnya, akhirnya membuat napas sang juara bertahan masih memanjang di turnamen.
Melaju dengan Segudang PR Besar
Harus kita akui, pada pertandingan melawan Mesir kali ini Argentina berhasil lolos dari lubang jarum yang cukup menganga. Dengan mental juara yang mereka miliki, Argentina membuktikan bahwa tertinggal dua gol dari sang lawan bukanlah sebuah permasalahan besar bagi mereka.
Ibarat mengurai benang kusut, pada pertandingan ini Argentina berhasil melepaskan helaian demi helaian keruwetan itu, hingga pada akhirnya membuat mereka berhasil "merapikan" berantakannya permainan yang diperagakan pada sebagian besar jalannya laga. Sebuah jalan keluar yang tentunya harus kita akui, tak dimiliki oleh kebanyakan tim lain di level Piala Dunia.
Namun sayangnya, di balik mental juara dan problem solving kelas elite yang dimiliki oleh Timnas Argentina, harus kita akui pula bahwa tim ini melaju ke fase berikutnya dengan beragam PR besar. Saya melihat, di tubuh Argentina kali ini, ada beberapa kelemahan yang seharusnya tak boleh lagi terjadi saat mereka bertarung di fase-fase berikutnya.
Jika kita mau obyektif, salah satu permasalahan yang kerap dialami oleh Argentina beberapa waktu belakangan --termasuk di gelaran Piala Dunia 2026 ini-- adalah inkonsistensi Messi dalam mengeksekusi tendangan penalti. Tentu saja kita tak perlu mendebat tentang kualitas pemain yang satu ini, karena saya yakin kita akan sepakat bahwa Messi adalah salah satu pemain terbaik di dunia dan dianugerahi dengan skill yang sangat lengkap.
Namun, jika kita berbicara tentang peluang untuk menciptakan gol dari tendangan penalti, tentu akan menjadi suatu pembahasan yang berbeda dan patut untuk disolusikan. Messi sendiri memiliki tendangan bebas yang sangat baik, namun untuk melakukan eksekusi penalti, Messi memiliki rasio yang tak terlalu baik.
Dalam dunia sepak bola, mendapatkan hadiah penalti sendiri seperti ibarat mendapatkan "golden ticket" untuk mencetak gol. Bahkan para pengamat sepakat bahwa persentase untuk mencetak gol dari cara ini mencapai 99 persen besarnya. Namun sayangnya, Messi tak memiliki rasio kesuksesan sebesar itu. Bukti terakhir, Messi bahkan gagal mengeksekusi penalti yang didapatkan oleh Argentina di laga melawan Mesir ini.
Dari berbagai sumber yang saya rangkum, persentase keberhasilan Messi dalam mengeksekusi penalti sendiri berada di angka 77,3 hingga 78 persen di sepanjang karier profesionalnya. Itu artinya, dari seratus tendangan penalti yang dia eksekusi, hanya akan membuahkan 77 atau 78 gol.
Angka tersebut tentu masih berada di bawah Cristiano Ronaldo yang sepanjang karier sepak bolanya memiliki persentase mencetak gol penalti di angka yang mencapai 84 persen. Bahkan, dalam statistik laman Transfermarkt, persentase ciptaan gol penalti Messi ini masih kalah dari catatan Lautaro Martinez dan Gonzalo Montiel yang memiliki persentase 97-100 persen sejauh ini.
Sehingga dalam hemat saya, Argentina harus mencari opsi penendang penalti selain Messi untuk memaksimalkan kesempatan yang dimiliki, terlebih jika mereka tengah berada dalam situasi genting.
Lini Pertahanan Masih Belum Sepenuhnya Solid
Selain permasalahan personal dari seorang Lionel Messi, sejatinya ada satu lagi PR yang lebih besar di tubuh Timnas Argentina. Diakui ataupun tidak, tim ini sedang memiliki permasalahan dengan lini pertahahannya. Buktinya pun sudah kita lihat bersama. Dari dua pertandingan terakhir yang mereka jalani, La Albiceleste sudah harus kebobolan hingga empat kali!
Bukan hanya dari skema tembakan biasa, gawang Emi Martinez bahkan bisa dibobol oleh lawan-lawannya melalui skema sundulan, tembakan jarak jauh, tembakan plessing, bahkan skema serangan balik --jika saja gol Mesir tak dianulir.
Dari sini kita bisa melihat, sejatinya lini pertahanan yang dimiliki oleh Argentina belum sepenuhnya solid. Patut kita garis bawahi, kebobolan empat gol itu mereka dapatkan saat menghadapi tim sekualitas Tanjung Verde dan Mesir! Bukan tim-tim kelas utama di persepakbolaan dunia.
Kelemahan lini pertahanan Argentina ini tentunya harus mendapatkan perhatian ekstra. Karena kita ketahui bersama, hingga memasuki fase delapan besar ini, Argentina belum pernah bertemu dengan tim-tim kuat dunia. Terdekat, mereka bahkan hanya akan melawan tim sekelas Swiss di babak delapan besar, untuk kemudian melawan tim pemenang laga antara Inggris melawan Norwegia.
Lantas, apakah Argentina bisa mengatasi masalah ini? Mau tak mau mereka harus melakukannya. Karena sudah pasti, jika masalah-masalah ini tak segera diselesaikan oleh Tim Tango, bukan tak mungkin misi untuk mempertahankan gelar juara tak akan kesampaian di Piala Dunia edisi kali ini.