Hobi
Semifinal Piala Dunia 2026: Tak Ada Tempat bagi Juara Baru di Ujung Gelaran
Seiring dengan usainya babak perempat final Piala Dunia 2026, empat negara terakhir penghuni turnamen pun terkonfirmasi secara otomatis. Selain juara bertahan Argentina yang berasal dari kawasan Amerika Latin, tiga semifinalis lainnya yakni Inggris, Prancis dan Spanyol seluruhnya berasal dari Eropa. Praktis, dari nama-nama yang tersisa, semuanya memiliki nama besar dalam dunia sepak bola. Namun sayangnya, di balik nama besar yang dimiliki oleh empat semifinalis tersebut, tersimpan sebuah kenyataan pahit bagi mereka yang menggemari adanya kejutan, di mana ujung dari gelaran tahun 2026 ini sudah pasti tak akan melahirkan juara baru.
Berdasarkan data yang saya rangkum dari laman history FIFA, tahun 2026 ini adalah edisi ke-23 dari turnamen sepak bola paling akbar sejagat raya itu. Dari 22 edisi yang telah dijalani, tercatat ada delapan negara yang sudah pernah merengkuh titel raja kejuaraan. Wakil Amerika Latin, Brasil sampai saat ini menjadi negara dengan koleksi lima titel juara --terbanyak di antara yang lain. Setelah Brasil, disusul Jerman dan Italia yang masing-masing memiliki empat titel juara, Argentina tiga gelar juara, Prancis dan Uruguay dengan masing-masing dua titel, serta Inggris dan Spanyol yang memiliki satu titel juara.
Dari delapan negara yang pernah merengkuh gelar juara dunia di atas, empat di antaranya kini menjadi penghuni babak semifinal. Dan seperti yang sedikit saya singgung di atas, akhir dari gelaran Piala Dunia 2026 ini sudah pasti tak akan ramah bagi mereka yang menginginkan kejutan. Pasalnya, sudah pasti akhir dari turnamen ini tak akan melahirkan juara baru, karena seperti yang kita ketahui bersama, empat negara yang masuk di fase setengah akhir turnamen kali ini, semuanya sudah pernah merasakan manisnya menjadi kampiun perhelatan.
Persebaran Titel Juara para Semifinalis
Jika kita melihat rekor dan capaian yang telah dituliskan oleh empat negara semifinalis ini, Argentina tercatat menjadi tim tersukses di antara kumpulan para pesaingnya itu. Hingga saat ini, La Albiceleste sendiri sudah memiliki tiga trofi Piala Dunia, di mana mereka mendapatkannya di tahun 1978 saat bertindak sebagai tuan rumah, kemudian pada edisi 1986 saat masih diperkuat Diego Armando Maradona, dan pada edisi terakhir tahun 2022 di Qatar lalu.
Setelah Argentina, Prancis yang juga menjadi penantang terkuat sang juara bertahan di edisi kali ini menjadi semifinalis dengan gelar juara terbanyak kedua dengan koleksi dua gelar. Dalam catatan FIFA, Les Bleus berhasil menjadi juara dunia ketika mereka bermain di rumah sendiri pada tahun 1998 lalu, dan menggandakannya dua dekade kemudian di Rusia.
Sementara dua tim semifinalis lainnya, yakni Inggris dan Spanyol, sejauh ini baru memiliki satu gelar juara, yang mana didapatkan dalam dua periode yang sangat berbeda. Satu-satunya gelar juara milik Timnas Inggris, mereka dapatkan di Piala Dunia edisi 1966 ketika mereka bermain di rumah sendiri. Gelar itu sendiri dapat dikatakan direngkuh oleh The Three Lions ketika olahraga sepak bola masih belum memasuki era modern dan era industrialisasi.
Sedangkan gelar yang dimiliki oleh Spanyol, mereka dapatkan di Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan. Gelar itu didapatkan oleh Spanyol ketika dunia persepakbolaan sudah sangat berkembang dan memasuki era modern serta industri. Namun demikian, tentu kita sepakat jika gelar juara yang direngkuh oleh para semifinalis ini, semuanya adalah gelar resmi dan mendapatkan pengakuan setara dari FIFA serta dunia.
Peluang Lahirnya Juara Baru Pupus
Sebenarnya, di babak perempat final kemarin, perasaan saya sebagai seorang pencinta sepak bola dihantui sedikit dilema. Di satu sisi, saya berharap agar babak semifinal ini diisi oleh tim-tim terbaik di dunia saat ini --seperti yang terjadi sekarang--, sementara di sisi lain saya juga berharap akan tercipta kejutan besar di akhir turnamen dengan hadirnya juara baru.
Komposisi babak delapan besar kemarin pun sebenarnya cukup berimbang jika kita hitung-hitung. Selain berisikan Prancis, Argentina, Spanyol, dan Inggris yang sudah pernah mengenyam manisnya gelar juara, slot babak delapan besar juga berisi empat negara yang belum pernah menjadi juara dunia seperti Swiss, Maroko, Belgia, dan Norwegia.
Namun sayangnya, perjalanan empat tim nontitel juara itu semuanya terhenti di babak delapan besar. Setelah Maroko dikandaskan Prancis di pertandingan hari pertama delapan besar, menyusul kemudian Belgia dihantam Spanyol di pertandingan berikutnya. Maka pada akhirnya, dari empat tim di babak delapan besar yang berstatus nonjuara, hanya menyisakan Swiss dan Norwegia untuk bisa terus melaju dan menciptakan kejutan besar di akhir turnamen.
Terus terang, di fase ini saya berharap Norwegia yang bisa memberikan kejutan besar itu. Karena jika dilihat dari segi kematangan permainan maupun komposisi pemain, Norwegia memiliki kans besar untuk merealisasikan keinginan saya itu. Namun sekali lagi, harapan saya --yang mewakili para penggemar kejutan-- itu harus pupus di babak semifinal.
Norwegia yang menjadi harapan terakhir, akhirnya harus kalah menyakitkan dari Inggris meski mereka sempat unggul terlebih dahulu. Pun demikian dengan Swiss yang menjadi tumpuan harapan terakhir, harus tersisih di kaki Argentina pada hari yang sama.
Hingga pada akhirnya, seiring dengan usainya pertarungan babak delapan besar turnamen, para penggemar sepak bola dunia harus menerima sebuah fakta yang sudah sangat template, di mana akhir dari gelaran tak akan ada juara baru yang dilahirkan.