alexametrics

Opini: Kalau Kita Jadi Sekolah Tatap Muka Lagi

Gayuh Ilham
Opini: Kalau Kita Jadi Sekolah Tatap Muka Lagi
Suasana kelas di SMP Negeri 6 Purwokerto saat mengikuti pembelajaran luring di masa ujicoba pada Selasa (20/10/2020) lalu. (Suara.com/Anang Firmansyah)

Cepat kembali dilaksanakan sekolah tatap muka memang rencana dan jadi harapan semua orang,

Suara.com - Setahun menjalin kebersamaan bersama Covid-19 bukanlah kenikmatan yang enak dirasa. Malahan bagi anak sekolah, keadaan itu bak jadi surga dan neraka.

Yap, surga bagi mereka yang mudah melaksanakan pembelajaran daring, dan neraka bagi kaum susah sinyal.

Kita semua pasti mengetahui, bahkan merasakan sendiri bagaimana carut-marut proses pelaksanaan pembelajaran online di Indonesia sejauh ini. Guru dan Siswa menjadi tokoh paling kelimpungan menghadapi cobaan belajar daring.

Masalah dimulai dari ketidakbiasaan melaksanakan metode online, sampai keterbatasan sektor pendukung seperti jaringan internet jadi penyebab paling utama hingga kini.

Di Sumatera Utara misalnya, beberapa siswa harus panjat pohon tinggi demi dapat koneksi internet. Sementara itu kasus senada juga menyentuh daerah lain. Di Desa Kenalan, Yogyakarta. Tiga siswi juga harus berkendara jauh menuju lokasi dekat jalan raya di perkotaan supaya dapat sinyal agar tak ketinggalan belajar.

Kesulitan pun tidak lupa menimpa para pengajar. Mengutip hasil survei Kemendikbud beberapa bulan lalu, sebanyak 60 persen guru mengalami kendala dalam menyampaikan materi pembelajaran via jaringan. Masalah tentu masih serupa dengan apa yang siswa juga alami demikian.

Kesusahan mengikuti proses belajar, sulit mengerjakan tugas karena keterbatasan media dan alat pendukung akan sedikit terobati bilamana guru dan siswa tidak lagi terhalang jarak. Karena berkaca pada liku masalah pembelajaran daring, semua itu bakal teratasi bilamana sekolah luring bisa dilaksanakan segera mungkin.

Cepat kembali dilaksanakan sekolah tatap muka memang rencana dan jadi harapan semua orang, tapi hal itu juga harus dilakukan sembari memikirkan  perencanaan matang sesuai dengan keadaan.

Sebab keselamatan Guru dan siswa adalah prioritas paling pertama dan utama. Sehingga pemerintah wajib mengambil sikap paling matang sebelum nantinya bisa terealisasi dengan baik sesuai prosedur.

Program vaksinasi bagi tenaga pendidikan dan siswa harus dipikirkan dan jadi bahan prioritas para pemangku kepentingan. Mereka adalah subjek yang patut diberikan perhatian lebih agar pelaksanaan tatap muka bisa berjalan tanpa adanya ketakutan berlebih.

Agenda vaksinasi kepada 5,2 juta tenaga pendidik di seluruh pelosok tanah air semestinya terus dilaksanakan tidak pandang bulu baik itu guru PNS sampai tenaga pendidik honorer.

Saya turut mengamini pendapat Ketua Komisi X DPR RI Syaiful Huda yang meminta agar program vaksinasi bagi pendidik maupun tenaga kependidikan bisa terlaksana tuntas sebelum sekolah tatap muka resmi dibuka.

Pihak pemerintah dan sekolah baiknya mempunyai strategi tatap muka sesuai dengan standar keamanan kesehatan. Upaya bisa dilakukan dengan pembelajaran sistem jadwal bergantian atau dalam tahap awal tidak langsung mendatangkan masa sekolah secara bersamaan.

Jika benar dilaksanakan nantinya, penerapan standar protokol kesehatan di tiap sekolah wajib tersedia seperti tempat cuci tangan, tatanan model ruang kelas mengacu pada physical distancing, dan sterilisasi berkala dengan cairan disinfektan layak diupayakan.

Mas Nadiem menurut saya akan jadi pahlawan super bilamana keinginan tersebut bisa terealisasi dengan lancar. Pasalnya, segenap aturan dan keinginan pemerintah memang kerap plin-plan bilamana berkaitan dengan persoalan pandemi. Bukanah begitu selama ini ? Semoga berhasil, mas menteri!

 *) Penulis adalah Mahasiswa Aktif Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan di Banyumas