Menyandang predikat sebagai orang tua adalah anugrah yang terindah. Tidak semua manusia di dunia ini diberi keberuntungan yang sama, karena sebagian dari mereka tidak bisa dan belum mampu mengemban tanggung jawab sebesar ini. Oleh sebab itu, para orang tua patut bersyukur dan melakukan yang terbaik untuk mendidik anak mereka.
Tanggung jawab yang diemban oleh orang tua termasuk hal penting di dalamnya, yakni melihat dan menganalisis bagaimana tumbuh kembang anak. Sebagian orang tua merasa, mengawasi anak paling mudah ketika usia masih tergolong kecil, yakni dari masa balita hingga pra-remaja. Berbeda jika anak sudah menginjak masa remaja, mereka akan cenderung sulit untuk dikontrol.
Hal ini sebenarnya adalah fenomena yang wajar, mengingat perkembangan remaja bukan hanya soal fisik dan bahasa. Dikutip dari Healthy Children, masa perkembangan remaja mencakup dua kategori secara psikologis, yakni emosional dan sosial. Ciri-ciri remaja yang sedang mengalami perkembangan psikologis ini biasanya akan mulai berani melakukan tindakan yang bisa mengekspresikan serta mengembangkan potensi dan identititas diri.
Tidak bisa dipungkiri bahwa ada rasa kekhawatiran orang tua ketika melihat anaknya yang remaja, mulai memperlihatkan perilaku, ucapan, serta sifat sebagaimana belum dilihat sebelumnya. Seperti mulai mengidolakan seseorang, membicarakan hal-hal yang berhubungan dengan sesuatu yang disukai, atau tindakan konsumtif yang berhubungan dengan idolanya. Para orang tua biasanya mulai bertanya-tanya, mengapa anaknya bisa berperilaku demikian, kemudian mulai menghubungkannya dengan kegiatan sehari-hari dan kegiatan di sekolahnya.
Mengidolakan seseorang tentu hal yang lumrah dan sesuai dengan naluri manusia, apalagi di masa remaja. Hal ini perlu diperhatikan agar aktifitas ‘nge-idol’ tidak menganggu perkembangan mental remaja
Dikutip dari Griffiths (2012), sebagian remaja memiliki Celebrity Worship Syndrome, yang merupakan sindrom perilaku obsesif dan adiktif terhadap selebriti, termasuk segala sesuatu yang berhubungan dengannya, tak terkecuali kehidupan pribadi. Sindrom ini membuat para penggemar mengalami ledakan emosional yang ekstrem dan tidak dapat dikendalikan.
Lalu, apa yang harus dilakukan orang tua? Di sini saya akan mencoba membantu memberikan solusi melalui beberapa poin berikut ini.
1. Mencoba lebih dekat dengan anak dan mengajaknya bicara secara terbuka
Anak biasanya cenderung menghindari percakapan dengan orang tua mengenai hal baru, yang ditemui di dalam pergaulannya di luar keluarga. Hal ini dilakukan karena mereka merasa kurang nyaman. Oleh karena itu, orang tua harus pandai membangun situasi senyaman mungkin ketika berinteraksi dengan anak.
Jangan pernah bertanya dengan nada yang menghakimi, hal itu justru akan membuat hubungan orang tua dan anak menjadi canggung. Mulailah dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan yang mengandung ‘perhatian’, seperti menanyakan soal kegiatan sekolah, teman dekatnya, atau apa yang disukai anak.
2. Awasi penggunaan internet dan sosial media anak
Scholarly mengatakan, pengguna internet dan media sosial paling banyak berusia 15 sampai 19 tahun. Hal ini harus diperhatikan oleh orang tua, terkait apa yang diakses oleh anak ketika sedang menggunakan internet dan sosial media. orang tua bisa mulai memberikan peraturan terkait hal ini, misalnya membatasi waktu mengakses internet, atau langsung mendampingi anak ketika menggunakan media sosial.
3. Menasehati anak agar tidak berlebihan
Coba bicarakan dengan anak terkait bahayanya terlalu terobsesi dengan idola. Tanamkan konsep mengenai menjaga etika dalam berperilaku dan pergaulan. Serta ajarkan anak untuk bisa memilih dan memilah hal apa yang patut diprioritaskan atau tidak.
Orang tua harus siap mendampingi masa remaja dan mulai belajar terkait permasalahan yang berhubungan dengannya. Termasuk mengenai aktifitas mengidolakan seseorang. Pastikan anak tidak berlebihan dan terobsesi dengan idola, agar tidak mengganggu perkembangan psikologisnya.