facebook

Menikmati Perbedaan Ciptaan Tuhan untuk Saling Menghargai dan Mengenal

Fendy Sy. Citrawarga
Menikmati Perbedaan Ciptaan Tuhan untuk Saling Menghargai dan Mengenal
Ilustrasi Kitab Suci Al Quran. (pixabay.com/citrawarga)

Firman Allah SWT dalam Al Quran yang artinya: "Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti." (QS Al-Hujurat Ayat 13)

Sesungguhnya perbedaan itu merupakan nikmat pemberian Tuhan Yang Maha Esa dengan penciptaan yang adil. Manusia, ya manusia, kita semua, diseru untuk menyadari bahwa perbedaan itu merupakan sunnatullah atau ketentuan Tuhan yang tidak akan ada seorang pun mampu mengubahnya.

Ayat Al Quran di atas menunjukkan bahwa setiap manusia harus menyadari adanya perbedaan eksistensi dirinya yang merupakan guratan kudrat dan iradatNya. Ada yang diciptakan sebagai laki-laki dan ada pula yang diciptakan sebagai perempuan. Ada yang terlahir dari ras suku ini, keturunan itu, bangsa ini, berbudaya itu, berbahasa ini, dengan ciri khasnya masing-masing.

Nah, perbedaan seperti itu bagian dari nikmat pemberian Tuhan yang harus disyukuri. Salah satu cara mensyukurinya adalah dengan kesadaran untuk saling mengenal, menyayangi, dalam lingkup hidup bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara sehingga terwujudlah kehidupan yang harmonis dengan kedamaian dan ketenteramannya.

Sebaliknya jika perbedaan-perbedaan itu tidak saling dikenali bahkan dicurigai karena merasa menjadi manusia paling super segala-galanya, kemudian saling hina, saling mencaci, maka yang tumbuh dalam kehidupan manusia adalah permusuhan yang ujung-ujungnya saling mencelakakan. 

Di dalam ayat Al Quran di atas dijelaskan bahwa derajat manusia paling mulia menurut pandangan Tuhan adalah siapa yang paling bertakwa kepadaNya. Jelaslah bahwa kemuliaan manusia bukan diukur dari gendernya, suku bangsanya, satatus sosilanya. Maka, di mata Tuhan tak ada artinya menyombongkan suku, bangsa, ras, dsb.

Dari suku mana, dari bangsa mana, dari jenis budaya da adat istiadat mana pun, sepanjang merealisasikan nilai-nilai ketakwaan sesuai dengan petunjuk Tuhan, maka dia itulah yang berhak menyandang derajat insan yang paling mulia di mata Tuhan.

Akan tetapi, dalam kenyataannya, manusia dipengaruhi hawa nafsu. Perbedaan-perbedaan penciptaan Tuhan kerap menjadi bahan kesombongan. Orang berkulit putih merasa lebih mulia dari orang yang berkulit hitam, orang yang berketurunan bangsa tertentu merasa lebih unggul daripada orang berketurunan bangsa lain sehingga sejarah kehidupan manusia kerap bermandikan darah gara-gara intoleran dalam urusan perbedaan ini.

Catatan kelam tersebut seyogyanya djadikan pelajaran. Mari gelorakan semangat saling mengenal untuk saling menghargai dan menumbuhkan kasih sayang di antara sesama, bukan sebaliknya saling mencaci dan menghina.

Di negara kita pun kerap terjadii kasus SARA (suku, agama, ras, dan antargolongan). Dalam hal bicara kepada publik misalnya kita diwanti-wanti agar memperhatikan SARA, yakni jangan sampai menyinggung orang lain yang berkaitan dengan SARA. Sebab, kalau sudah menyinggung urusan SARA, dampaknya langsung menohok lubuk hati yang paling dalam karena SARA berkaitan dengan kehormatan dan harga diri.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak