Kolom

Aktivis HAM Indonesia: Pekerjaan Paling Berbahaya dengan Nyawa Taruhannya

Aktivis HAM Indonesia: Pekerjaan Paling Berbahaya dengan Nyawa Taruhannya
Ilustrasi aktivis (Freepik/Drazen Zigic)

Sobat Yoursay, pernahkah kalian membayangkan pergi bekerja di pagi hari dengan niat membantu orang lain, namun harus pulang di tengah malam dengan wajah yang tak lagi dikenali? Itulah kenyataan pahit dan mengerikan yang baru saja menimpa Andrie Yunus, Wakil Koordinator KontraS. Setelah selesai merekam sebuah siniar yang membahas isu kritis tentang remiliterisme, ia justru disambut oleh siraman air keras di kegelapan malam Salemba.

Sobat Yoursay, di sebuah negara yang katanya menjunjung tinggi demokrasi, menyuarakan pendapat ternyata masih menjadi aktivitas yang taruhannya adalah nyawa atau cacat permanen.

Kejadian ini adalah sebuah pengingat bahwa menjadi pembela Hak Asasi Manusia (HAM) mungkin adalah pekerjaan paling berbahaya di negeri ini.

Para aktivis HAM bekerja untuk kepentingan publik, menyuarakan suara-suara yang dibungkam, dan berdiri paling depan saat hak-hak rakyat kecil dirampas. Ironisnya, saat mereka menghadapi ancaman nyata, mereka sering kali berdiri sendirian. 

Bayangkan kontrasnya dengan pejabat negara. Mereka memiliki pengawal, protokol keamanan ketat, dan fasilitas negara yang melindungi setiap jengkal langkah mereka.

Sementara itu, pembela HAM seperti Andrie hanya memiliki keberanian dan keyakinan sebagai pelindung utama mereka saat berjalan di trotoar Salemba yang sepi. Mereka berjalan di trotoar yang sama dengan kita, naik motor di gang-gang yang sama, namun dengan target di punggung mereka yang bisa dieksekusi kapan saja oleh tangan-tangan pengecut.

Keberanian para aktivis ini sering kali berbanding terbalik dengan kerentanan yang mereka hadapi. Sobat Yoursay, serangan air keras dipilih bukan tanpa alasan.

Ini adalah bentuk teror yang sangat psikologis. Pelaku tidak ingin membunuh korbannya seketika, tapi mereka ingin menyiksa dan meninggalkan jejak trauma yang akan terlihat setiap kali korban bercermin.

Di sini kita melihat betapa timpangnya pertarungan ini. Di satu sisi ada aktivis yang bersenjatakan argumen dan data, di sisi lain ada pengecut bermotor yang bersenjatakan cairan penghancur kulit.

Sangat memilukan melihat bagaimana para pembela HAM sering kali berdiri sendirian saat ancaman itu datang. Memang, kecaman dari PBB hingga aktivis senior seperti Novel Baswedan mengalir deras, namun di detik-detik saat air keras itu menyentuh kulit Andrie, ia benar-benar sendirian menghadapi rasa sakit yang luar biasa.

Sobat Yoursay, sampai kapan kita membiarkan para pejuang keadilan ini menjadi martir tanpa perlindungan yang nyata? Apakah kita harus menunggu satu per satu wajah kritis di negeri ini meleleh atau hilang sebelum pemerintah sadar bahwa perlindungan terhadap pembela HAM adalah syarat mutlak bagi kesehatan sebuah demokrasi?

Absennya jaminan keamanan fisik bagi aktivis menunjukkan bahwa demokrasi kita masih sangat rapuh. Jika orang yang paling vokal membela hak-hak kita saja bisa diserang dengan begitu mudahnya di jantung ibu kota, lantas apa jaminannya bagi warga biasa seperti kita untuk bisa merasa aman saat ingin melayangkan kritik?

Ketakutan yang diciptakan dari kasus Andrie ini adalah "chilling effect" yang sengaja disebar agar kita semua memilih untuk diam dan cari aman. Namun, jika semua orang memilih diam karena takut disiram air keras, maka demokrasi kita sebenarnya sudah mati, meski secara administratif kita masih melakukan pemungutan suara setiap lima tahun sekali.

Kejadian yang menimpa Andrie Yunus ini juga membuktikan bahwa ruang-ruang diskusi, seperti kantor YLBHI atau studio podcast, kini sudah dalam pantauan pihak-pihak yang alergi terhadap kebenaran. Sobat Yoursay, serangan ini terjadi tepat setelah Andrie membahas isu sensitif. Ini menunjukkan bahwa intelijen atau jaringan pelaku sudah melakukan pengintaian fisik yang sangat presisi.

Keberanian Andrie untuk tetap merekam konten tersebut di tengah bayang-bayang ancaman adalah bentuk dedikasi yang luar biasa, namun sekaligus menunjukkan betapa telanjangnya posisi aktivis di hadapan para peneror. Mereka tahu kapan aktivis itu pulang, lewat jalan mana, dan di titik mana mereka paling lemah.

Sobat Yoursay, kita tidak boleh membiarkan kasus ini menguap begitu saja seperti kasus-kasus kekerasan terhadap aktivis sebelumnya. Kita sering mendengar polisi berjanji akan "mendalami" atau "mengejar pelaku", namun sering kali drama hukumnya berakhir antiklimaks atau bahkan pelakunya tetap menjadi misteri.

Jika impunitas—alias kebebasan dari hukuman—terus dibiarkan, maka serangan seperti ini akan dianggap sebagai "metode efektif" untuk membungkam kritik. Kita harus menuntut lebih dari sekadar simpati; kita butuh penegakan hukum yang mampu menyeret otak intelektual di balik serangan ini ke pengadilan. Jangan sampai keadilan bagi Andrie hanya menjadi tumpukan berkas di meja penyidik yang tak pernah tuntas.

Menjadi aktivis HAM di Indonesia memang seperti berjalan di atas titian rambut yang dibakar. Di bawahnya ada jurang kekerasan yang siap menerkam kapan saja. Namun, Andrie Yunus dan kawan-kawannya di KontraS tetap memilih jalan itu demi sebuah nilai yang disebut keadilan.

Sobat Yoursay, sebagai sesama warga negara, hal terkecil yang bisa kita lakukan adalah dengan tidak membiarkan suara mereka padam. Kita harus ikut menyuarakan apa yang mereka perjuangkan, sehingga para peneror tahu bahwa menyakiti satu aktivis tidak akan membungkam jutaan orang lainnya.

Mari kita terus kawal kasus ini, karena mendiamkan kekerasan terhadap satu aktivis adalah langkah awal untuk membiarkan kekerasan menimpa kita semua suatu hari nanti.

Sudah saatnya kita berhenti melihat mereka hanya sebagai "aktivis" yang seolah punya nyawa cadangan. Mereka adalah manusia yang rentan, yang memilih untuk tidak diam demi kita. Jangan biarkan mereka berjuang sendirian di kegelapan malam.

Bagaimana menurut Sobat Yoursay, apakah kalian merasa aman menyuarakan kritik di media sosial saat melihat ancaman nyata di dunia fisik seperti ini kian merajalela?

CEK BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda